The Killing of a Sacred Deer (2017)

00.52

Dear pembaca setia...

Tumben update-nya cepet? GABUTS..

Lagi apa nih?

So, kemaren gue abis nonton yang bikin gue pusing sekaligus merinding bosku.. agak ngeri-ngeri basah juga nonton film ini. Gue nonton film karyanya Yorgos Lanthimos asal YUNANI yang juga terkenal katanya gue baca riviu riviu other people sering bikin film dengan cerita yang horror, butuh mikir dua kali, thriller nya juga ada, dan sarat akan komedi yang gelap alias DARK HUMOUR. Film-filmnya yaitu Dogtooth (2009), The Lobster (2015), dan yang gue tonton..

The Killing of a Sacred Deer. 


Jadi ini bukan untuk penonton awam, pembaca setia. Gue aja masih bingung plus halu setelah nonton film ini. Nontonnya tengah malam pula pas kosan lagi sepi-sepinya.

Diawali dengan adegan pembuka yang gelo, jantung seger lagi deg degan diliatin. Gila, memang. Padahal itu gue sambil makan nontonnya. Yang ternyata ngasih tau kalo film ini berpusat di dokter bedah jantung brewokan yang gagah mirip John Krasinki di A Quiet Place (2018) bernama Stephen Murphy (Collin Farrell). Sumpah, mirip. 

Stephen ini berteman dengan seorang remaja awkward tapi tatapannya agak menakutkan bernama Martin (Barry Keoghan) yang dia diliatin seperti punya hubungan akrab namun hubungannya kalo gue liat kok gitu, semacam aneh tapi nyata. 

Beberapa kali Stephen sering ketemu Martin bahkan ngajakkin Martin mampir ke rumah ketemu istrinya si Stephen (Nicole Kidman), kenalan sama anaknya si Bob (Sunny Suljic) dan anak ceweknya si Kim (Raffey Cassidy) yang mirip Jessica Barden The End of Fckin World yang wajahnya agak ada bekas-bekas jerawatnya. 


Yang ternyata kenapa Stephen sama Martin akrab karena ternyata Stephen ini ada rasa bersalah jadi kayak mengayomi apa yang diminta si Martin kayak dibeliin jam tangan, diajak ke rumah, dan lain lainnya karena dulu ketika dia masih sering minum alkohol pernah melakukan malpraktek alias kesalahan operasi ketika mengoperasi ayah Martin, lalu akibatnya ayah Martin meninggal di meja operasi.

After that, Martin tiba-tiba jadi lebih agresif ke Stephen dengan ngajakkin ke rumah untuk bertemu ibunya padahal malem-malem. Abis itu gak diturutin, kan, sama si Stephen, dan kutukan pun datang. Anaknya Stephen yang cowok tiba-tiba lumpuh kakinya dan dibawa ke rumah sakit diperiksa diagnosisnya menunjukkan hal biasa aja. Gak lama setelah itu anak ceweknya nyusul, kayak gitu juga. Lalu, Martin, ngasih tau kalo itu gara-gara kesalahan yang disebabkan oleh Stephen dulu waktu dia membuat ayahnya meninggal. Caranya agar kedua anaknya Stephen sembuh, dia harus mengorbankan salah satu anggota keluarganya untuk dibunuh.



Awal-awal aja film ini udah aneh banget. Dark Humour-nya muncul dari gaya ngobrol para tokoh yang cuma dikit-dikit, cepat, dan terkesan cuma basa-basi tapi dialog-dialognya banyak yang deep.

Kehorroran dan thrillernya muncul dari musik scoring nya yang kayak musik klasik dan suaranya itu sangat sangat annoying memekakan telinga. Yang kadang gue merasa lebay gitu tapi ya justru inilah letak keseruannya dari sutradara asal Yunani ini, musik nya inilah yang memberikan nuansa artsy tersendiri dan memberikan experience yang gokil dalam menonton film.

Asoy.


Ceritanya pun unik, ya. Punya pesan tersendiri tentang kematian. Kalo kematian itu sesungguhnya adalah satu-satunya kuasa Tuhan yang paling sakral, film ini menyelipkan pesan dengan setting kedokteran kalo profesi dokter yang juga punya peran sebagai "tangan Tuhan" kadang disalahgunakan oleh manusia yang arogan ingin mengambil alih Tuhan dalam membuat manusia lain meninggal.

Acting Barry Keogan menurut gue paling gokil, sih, memerankan seorang remaja yang kadang awkward tapi juga punya jiwa psycho yang tinggi dengan tatapan yang mematikan. Thumbs up. Menambah unsur thriller di film ini jadi kian mantap, tapi sayangnya nuansa ghaib dan realismenya dari film ini masih kurang. Seperti cuma mengandalkan mitos semata dan emang aneh aja kok bisa di dunia modern kayak setting rumah sakit yang mewah dan science yang sudah maju tiba-tiba anak-anak Stephen ini seperti disantet tanpa ada sebab yang jelas. Menurut gue masih renggang, sih, tanpa dikasih penjelasan apa-apa.


Yaaa, dari gue film ini walaupun tak terlalu menghibur karena kebanyakan gue kurang nyaman tapi memang film thriller psikologis namanya juga. Gue kasih 8/10 lah karena sehabis namatin film ini gue merasa kayak naik selevel lebih tinggi.

Untuk penonton awam mungkin akan terasa aneh, tapi kalo ingin menonton film dengan nuansa storytelling yang unik dan merasakan salah satu film terbaik 2017 menurut Muthia Fathia-nya Cine Crib nonton, laah. Habis ini gue jadi pengin nonton The Lobsters...

(9-,-)9

Jangan lupa like, share, comment, dan juga subscribe jadi pembaca setia blog ini karena bakal ada review lagi kalo gue habis nonton film di bioskop yang pastinya yang terbaru dan terupdate. Selain itu, gue mungkin juga akan pos soal tips psikologi, keresahan keseharian, dan juga mungkin talking talking tentang Liverpool dan sepakbola. Stay tunes!! Kalo bisa subscribe via email, di sisi sebelah kanan blog ini karena gak perlu capek-capek buka browser kalo ada pos baru langsung masuk via email. Gokil gak tuch!

You Might Also Like

2 komentar

  1. Buruan nonton The Lobster, wahai John Crunchy! Film romantis itu. Paling baguuuuuuuus di antara film Om Yorgos yang lain menurutkuuuuu. Heleh padahal yang Alps aku belum nonton ahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku masih newbie Kak Icha kalo soal Yorghos Lanthimos, disegerakeun lah nonton The Lobster padahal dulu si Albert pas SMA ngemeng terus nyuruh gue nonton ni film.. thanks udah sempat komen dan mampir di sini, John Crunchy apaan sih? wakakaka

      Hapus

Silahkan komentar, bebas, mau saran, pujian, kritik, sampe roasting, bebaslah!

si Mamba Hitam. 2014-2018.. Diberdayakan oleh Blogger.