Me and Coco (2017) - A

4:50 PM

Untuk blog..

We may have our differences, but nothing's more important than family. -Miguel


Hola Mamba Mania, ketemu lagi sama gua Fauzy, mahasiswa psikologi tukang nonton film. Ini kalo ibu atau bapak gua tau gua sering nonton film di bioskop mereka bisa marah-marah, nih. Apalagi emang akhir November-Desember list film di bioskop lagi bagus-bagus banget. Tiga hari yang lalu gua habis nonton film Coco, lalu kemarin gatel gegara habis beli presale tiket Susah Sinyal Koh Ernest buat nonton minggu depan dapet bonus CD Stand Up malah gatel nonton Mau Jadi Apa?. Habis ini Senin sama Kamis harus puasa, puasa, dan puasa. No excuse!

Kali ini gua mau bahas film Coco dari studio animasi favorit gua, Pixar. Beda banget sama mentor review film gua yaitu Mbak Niken yang bukan penggemar film animasi, juga tukang review film mesum bernama Kak Icha yang diejekkin temannya gara-gara tumben nonton animasi, gua tumbuh sebagai penggemar film animasi, terutama Pixar ini. Toy Story adalah film yang paling bersejarah terhadap masa kecil gua, selain Spiderman, yang ditayangin di televisi saat itu. Dari Toy Story gua belajar kalo mainan juga punya perasaan, punya keresahan. Lalu digempur lagi sama film animasi Pixar lain yaitu Monster Inc. dan juga Cars. Ternyata monster sama mobil bisa ngomong. Sampe yang terakhir favorit yaitu Inside Out yang savage banget, perasaan punya perasaan, gitu. Dan  juga Zootopia yang makin ke sini Pixar jago bikin plot-twist.

Haduh, ngomongin Pixar mah gua gak ada habisnya, apalagi beberapa bulan lalu habis khatam namatin buku biografi Steve Jobs yang ditulis Walter Isaacson, yang jelasin kalo beliau ternyata adalah salah satu founder studio animasi Pixar bersama John Lasseter. Jadinya kagum, makin gencar buat namatin semua film Pixar yang belom ketonton semua. Sampe di bikin list, Ratatouille yang belum dan gak pengin nonton jadi tiba-tiba bangun dan nonton. Sampe film-film pendek buatan studio animasi Pixar dilalap habis, dari zaman pertama film Luxo Jr ngisahin sebuah lampu, gara-gara itu dapet nominasi Oscar untuk film animasi pertama tahun 1987. Sampe sekarang film-film pendek yang kebanyakan dibuat oleh anak-anak magang Pixar. Sampe segitunya, lho. It's Steve Jobs's magic.

Semoga kau tenang di atas sana, Mister. Stay Hungry Stay Foolish.

Rating: PG (for thematic elements)
Genre: Action & Adventure, Animation, Comedy
Directed By: Lee Unkrich, Adrian Molina
Written By: Matthew Aldrich, Adrian Molina
Cast: Anthony Gonzalez, Gael Garcia Bernal, Benjamin Bratt, Alanna Ubach, Renee Victor, Jaime Camil, Alfonso Arau, Herbert Siguenza, Gabriel Iglesias, Lombardo Boyar, Ana Ofelia Murguia
Runtime: 1 hour 45 minutes
Studio: Disney/Pixar
Critics: 8,9/10 (IMDB) 96% (Rotten Tomatoes)

Film Coco seolah membangkitkan Pixar di tahun ini setelah gagal lewat Cars 3. Coco menawarkan hal baru yang mengajak kita mengenal tradisi Día de Muertos atau Day of the Dead di Mexico. Melalui Miguel si tokoh sentral, dia punya cita-cita ingin jadi musisi seperti tokoh idolanya Ernesto De La Cruz. Namun, sayang, keluarganya yang sejak turun temurun sangat mencintai bisnis sepatu, tidak mengizinkan Miguel untuk menyentuh dunia musisi, menyanyi satu nada pun tidak boleh. Satu cengkok pun bahkan tidak boleh. Gak ada Spotify, gak ada Musixmatch, gak ada Bigo Live. Neneknya Miguel pun galak pula. Kebayang, kan, keluarganya itu beuh, dari mulai bikin sepatu, jual sepatu, bahkan untuk magang anaknya disuruh nyemir sepatu. Tapi untungnya mereka gak beli sepatu ekspor, lho, for your information. Cintailah produk-produk dalam negeri. (Lho, kok?)

Keluarga besar Miguel sangat mencintai bisnis sepatunya sejak akar keluarganya dulu, dan usut punya usut memang gak suka sama musik coz sejarah keluarga dulu-dulu-dulu banget yang pernah ada masalah sama yang namanya musik.

Ada apa ini sebenarnya dengan keluarga Miguel sampai bisa-bisanya kagak suka musik?

Coco adalah film yang manis semanis gula batu. Orang yang nonton film Coco tapi gak nangis itu lemah. Tapi, gua cuma reumbay dikit di akhir (abis itu sesenggukan). Gimana gak nangis, gua disembur sama pesan-pesan yang mengingatkan gua akan keluarga gua yang ada di Kuningan. Ibu, Enok, Bapak. Emak. Abah. Selain itu, keinginan Miguel yang ingin jadi musisi tapi selalu dilarang bikin gua merenung. Hal-hal seperti kita selalu dilarang-larang sama keluarga tapi itu sesungguhnya punya niat baik, meraih suatu keinginan yang paling dalam di hidup kita, sampai hasrat untuk seenggaknya diingat sama orang lain, bikin gua bertanya-tanya apakah ada gitu orang yang kangen gua?

Remember me, though I have to say goodbye.. Remember me, don't let it make you cry.. For even if I'm far away, I hold you in my heart..

Diiringi musik ala-ala Mexico yang gembira kayak Un Poco Loco, sampe yang syahdu dengan petikan gitarnya yaitu Remember Me, sangat enak buat diikutin. Gak nyesel gua nonton di bioskop, ini pertama kalinya gua nonton film Pixar di bioskop dan sangat kagum, elegan banget pemilihan warna-warna untuk menggambarkan dunia kematian dengan sebuah kota bernama Land of the Dead yang katanya terinspirasi dari kota beneran di Mexico bernama City of Guanajuato. Harusnya sih nyeremin, ngomongin kematian, ngomongin tentang dunia setelah kehidupan manusia, Land of the Dead tapi dengan penggambaran unik dan pemilihan warna yang cerah dan warna-warni dihias dengan lampu-lampu kota ala-ala ini malah jadinya menyenangkan buat ditonton.

Land of the Dead (via Disney.wikia.com)

Film Coco kayaknya film yang diciptakan untuk keluarga. Dengan cerita yang seru, tentang keluarga, tentang impian, yang gua yakin dua hal tersebut adalah dua hal yang relate sama banyak orang. Betapa mengagumkannya Coco bisa menyeret gua untuk mengingat kembali siapa saja keluarga besar gua, sampe ke akar-akar. Meninjau kembali cerita apa yang nantinya gua bisa ceritain ke anak cucu gua. Mengumpulkan kembali foto-foto lama keluarga agar seterusnya bisa diingat dan tidak dilupakan.

Recommended, worth it banget buat ditonton dengan IPK dari gua:

A (PERFECTO. Funny, story is amazing, top visualization, eyes laundry, crying like baby, and after ending standing applause!!)


Gracias.. hatur nuhun.. sudah mau baca tulisan gua, adios muchachos. 

(9-,-)9

You Might Also Like

4 comments

  1. WAAAAAAAAAAH Guanajuato City keren betuuuuuuul! Barusan gugling dan jadi pengen ke sana ya Tuhaaaaaaaan aaaaaaaaaaaaaaaaak.....

    Ternyata kamu pelahap setia Pixar ya. Gils gils gils. Gencar banget ngelahap semua film Pixar sampe film-film pendeknya juga. Udah senior di bidang film animasi nih. Pan kapan mungkin aku bisa neror kamu dengan minta rekomendasi film animasi bajingak yang harus ditonton deh.

    Nah iya bener lagu Un Poco Loco itu lagu gembira ala Meksiko yuhuuuu. Aku pertama kali denger langsung suka. Itu lagu kedua favorit setelah Remember Me versi Miguel ft Mama Coco. Yang ketiga aku suka Proud Corazon. Keempat suka El Mundo es mi Familia. Aaaaaaaaaaaaak semuanya sebenarnya bagus-bagus sih. Perfecto! Coco makes me un poco loco!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Animasi bajingak itu kayak gimana? Explain that to me madam -_-

      Wih apal betul judul lagunya. Goks memang..

      Delete
  2. Replies
    1. Baru liat thrillernya juga udah lucu ya, mbak? Wqwq

      Delete

Silahkan komentar, bebas, mau saran, pujian, kritik, sampe roasting, bebaslah!