Mechanical Defense

21.45

Untuk blog.

Halo, gimana kabarnya, nih?

Udah kayak hukum alam aja di setiap semester dalam perkuliahan pasti dosennya beda-beda. Bukan cuma tiap semester dan dosen, sebenarnya, di mana-mana dan kapan aja kita nemu orang yang beda-beda.

Ada dosen yang bikin kita seneng, ada yang bikin kita males ngikutin perkuliahannya—ngeliat mukanya aja males, bahkan ada dosen yang sekali dia buka mulutnya satu kelas menguap.
 
Kita mulai dari dosen yang bikin gua males ngikutin perkuliahannya. Yaitu dosen yang ngasih tugas tapi gak dikumpulin. Pas hari H-nya pun gak ditanyain apakah minggu lalu ada tugas apa enggak dan seenak jidatnya aja ngasih tugas lagi, terus kabur pula. Gua sih gak masalah dia ninggalin kelas, tapi pas dia ngasih tugas selalu timbul pertanyaan, apakah habis ini gua kerjain terus selesai nanti gak dia koreksi lagi? Apakah ini cuma tugas yang bakal dia lupakan, sedangkan dia malah asyik-asyik bersenang-senang di luar sana lalu kembali lagi dengan serangan amnesia kecil? Dan kadang selalu ada plot twist-nya.. pas kita udah ngerjain tugasnya, dia gak nanyain tugas yang udah selesai itu. Lalu, pas kita sengaja gak ngerjain, eh, si dosen malah inget dan dia pengen tugasnya dikumpulin.
 
Lanjut ke dosen yang sekali dia buka mulutnya mata gua udah lima watt kayak dinyanyiin lagu nina bobok, bentar lagi jadi sleeping beast beauty. Itu selalu terjadi di tiap semester, apalagi semester kemarin, ada dosen yang kebagian jadwal kuliah dalam jadwal bobok siang gua—biasanya abis dzuhur itu jam-jam gua capek, mata gua udah mengerucut, dan muka gua terjun payung ngembangin parasut. Kebagiannya sama dosen yang udah berumur, kita mahasiswanya gak dikasih story-story yang nyentil curiosity, dan  perkuliahan bahkan datar aja persis alat diagnosis jantung di rumah sakit garisnya udah lurus, pasiennya matiii.
 
Udah gitu tiga SKS pula!
 
Gua cuma bisa melakukan gerakan stretching tubuh buat mengatasi kebosanan sambil ngetes apakah posisi tubuh yang gua lakukan ngehilangin kantuk gak ya? Coba, deh. Gua ngangkat kaki. Hmm, ganti, gak ngaruh. Gua meregangkan punggung. Hmm, enggak, biasa aja. Gua sikap lilin. Hmm, itu terlalu absurd. Masya Allah, gak kuat Ya Allah. Hoammmmnnn.
 
Pernah gak kalian saking ngantuknya terus ngitung domba di pikiran sendiri. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh.
 
Seratus dua puluh empat.
 
Seribu empat ratus tiga enam.

Satu milyar dua ratus empat puluh enam dua puluh satu cinema dua satu.
 
Gua ngeliat ke belakang.
 
Teman-teman yang duduk belakang gua tepar semua.
 
Tapi ada kok dosen yang bikin senang. Yang kita ngeliat wajahnya aja senang banget sampe ke ujung akar.
Semester dua kemarin ada dosen yang bikin gua senang namanya Bu Atien.. karena entah kenapa mukanya cantik, imut, walaupun gua tau dia udah punya suami.. Ada satu detail yang gua inget dan gua suka, yaitu gua suka jam tangan yang dia pake, warna jam tangannya merah matching sama tangannya yang putih. Gara-gara itu aja gua bisa senang, apalagi kalo gua dibales chat-nya sama kamu. Dibales chat-nya sama Bu Atien aja juga gak apa-apa, deh.
 
Semester ganjil kedua alias semester three ini pun ada dosen yang gua sukain karena cara dia menjelaskan itu memakai story-telling tingkat dewa yang membawa gua terbuai sampai ke angan-angan, sebut saja Bu Nina. Gua sampe bisa nyeritain lagi ke orang sama baiknya dengan yang dia ceritain waktu kuliah. Tapi, ditulis di blog. Hehehe, gak verbal secara langsung.
 
Bayangin ada dosen muda perempuan yang pake kerudung dan pake kacamata, tingginya gak terlalu tinggi, suaranya enak didengar, bayangin suara yang agak dewasa tapi imut, oke dia mulai ngomong, dengerin ya, kurang lebih seperti ini,
 
Jadi ada seorang mahasiswa sebut saja mahasiswa salah satu universitas di Jakarta. Dia itu mengalami gangguan psikologis yang menyebabkan dia berhalusinasi. Dia berasal dari keluarga kaya, di Rumah Sakit Jiwanya saja dia berada di bangsal VIP khusus keluarga berada, orang-orang kaya yang terkena gangguan jiwa gitu.
 
Kita tadi udah tahu prinsip luka.. seperti yang sudah saya jelasin tadi, prinsip luka itu sebelum kita bisa memaafkan sesuatu yang membuat kita kesal atau marah atau sedih atau trauma di masa lalu, sesuatu yang mengganjal dalam hati kita, sesuatu tersebut akan meledak lagi jikalau ada pemicunya. Ingat, bukan cuma melupakan, tapi harus memaafkan.

Mahasiswa tersebut ketika bersekolah SMP itu selalu mengalami tekanan. Tekanan keluarga yang mengharapkan agar anggota keluarganya selalu berprestasi. Mahasiswa tersebut mempunyai kakak yang sangat sukses, sehingga tiada lagi idola selain kakaknya di keluarga itu. Orang tua mahasiswa tersebut selalu mengagung-agungkan sosok kakaknya sehingga jika apa-apa gagal dalam hidup mahasiswa itu selalu disalahkan kenapa kamu tidak bisa jadi seperti kakakmu. Padahal mahasiswa ini adalah seorang yang pintar dan cukup berprestasi di antara teman-temannya, dia selalu masuk ranking sepuluh besar di kelasnya. Cuma karena kakaknya kelihatan lebih superior saja keluarganya selalu
put him under pressure

Suatu hari, setelah dibagi rapor, dia dan teman-temannya sedang bermain PS di rumahnya. Ayahnya, tiba-tiba masuk dan memarahi dia karena ranking dia turun, padahal ranking dia masih sepuluh besar. Teman-temannya melihat dia dan ketakutan, langsung lari. Bayangkan, dia pasti sangat malu diperlakukan seperti itu di depan teman-teman.
 
Sayangnya, mahasiswa tersebut belum bisa memaafkan kejadian tersebut hanya melupakan saja. Pemicunya datang ketika dia hari pertama kuliah. Diakibatkan karena dia harus bertemu kakaknya dulu, dia terlambat datang masuk kuliah.. Terlambatnya masih bisa ditolerirlah karena belum melebihi batas 15 menit kalo seperti kita ini di UNY namun ketika itu dosen yang mengampu itu marah-marah, dan marah-marahnya juga kalo ke orang kebanyakan itu biasa saja... tapi dosen yang memarahinya itu memicu tombol granat dalam dirinya lalu mengingatkan dia akan peristiwa masa lalu ketika dimarahi oleh ayahnya.
 
Sepulang kuliah dia langsung menutup pintu kamar kosnya rapat-rapat, menelan kunci kamarnya, dan ditemukan sedang tertawa-tawa sendiri di kamar mandi.

..................”

 
Sekelas hening setengah abad.
 
Ceritanya itu sangat seru, thrilling, because the whole world is a mess kalo macam alat diagnosis jantung kayak di sinetron pas Rumah Sakit itu udah bergelombang-gelombang gak stabil because it’s the real adventure!

Morty and his grandpa, Professor Rick Sanchez via press-start.com.au
 
Kalo kata Rick Sanchez di kartun Rick and Morty, “The adventure is not supposed to be fun!”, kata dia sambil emosi jiwa kepada Morty yang menginginkan kalau sebuah petualangan itu seharusnya menyenangkan dan penuh dengan kenyamanan, sedangkan Rick menyanggah kalau sebuah real adventure itu harusnya penuh liku-liku kayak lagu dangdut, ada suka ada duka... but this lecture is so much fun karena dosennya asyik!
 
Bukan cuma story telling ciamik, tapi didukung dengan something important yang menyentil curiosity. Kayak waktu pertemuan ketiga sama dia, dia ngejelasin mekanisme pertahanan (Mechanical Defense) manusia (berasal dari tokoh psikologi terkenal yaitu Sigmund Freud) yang sering kita lakuin buat menumpahkan kekesalan dan kekhawatiran kita tapi kita gak sadar pas ngelakuinnya. 

Ada delapan mekanisme pertahanan yang dijelaskan sama dosennya, yang kalo gua tulis semua bakal panjang lagi.. gua tulis satu aja di sini. Yaitu sublimation atau sublimasi. Sublimasi adalah cara gua menumpahkan kekesalan terhadap dosen, bisa juga kesenangan gua terhadap dosen, dengan cara mencurahkannya ke hal-hal yang lebih diterima secara sosial, daripada gua marah-marah ke dosennya kan bakalan gak etis tuh tapi gua mendingan cari aman (mengamankan nilai dan masa depan juga) dengan menuliskannya di blog ini.

Karena ini blog gua, suka-suka gua.  

via Ranker.com

Kalo Bu Atien sama Bu Nina baca ini, I love you more than you know, Bu.
 

Yogyakarta, --26 September 2017.

(9-,-)9
 

You Might Also Like

2 komentar

  1. Gue juga punya dosen yang kayak gitu tuh, setiap nerangin bikin mahasiswanya semangat.

    Yok bu Atien dan bu Nina tolong baca tulisan mahasiswanya ini, kali aja dikasih nilai A

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih, Bang Don apa kabarnya nih? Masih setia dukung Liverpool FC kan, Bang gak pindah ke Mang Ujang?
      .
      Wah, Bu Atien itu semester kemarin dan ngajarnya cuma setengah semester soalnya matkul yang mengampunya dua orang gitu. Sayangnya, nilainya kecil, euy. Hahaha. Tapi gak apa-apa, termaafkan.
      .
      Semoga Bu Nina baca ini, tapi kalo dia baca gua malu.

      Hapus

Silahkan komentar, bebas, mau saran, pujian, kritik, sampe roasting, bebaslah!

si Mamba Hitam. 2014-2018.. Diberdayakan oleh Blogger.