Mau Bahas Apa?

Untuk blog.

Mau bahas apa? Atau a-nya ada dua biar gak terkesan jutek.

Mau bahas apaa?

Nah, sip.

Fyi, APA itu kalo di Amerika Serikat itu singkatan dari American Psychological Association. Kalo mau bahas APA di sana urusannya panjang. Harus minta izin dulu, ngajuin proposal, proses negosiasi yang cukup memakan waktu, bikin paspor sama visa, nuker uang dollar dulu ke warung kalo di warung gak ada atau gak ada yang mau nuker uang pura-pura beli neozep forte dulu aja pasti dikasih kembalian uang dollar alias recehan. 


Sebenarnya kalo blogger udah cerita soal keresahannya bikin konten kayak bikin postingan dengan judul "Mau Bahas Apa?", itu udah pasti menjurusnya ke unboxing, reaction, sama Q n A.  

Gua mau minta maaf sama para subscriber, warga net, pembaca setia, netizen Indonesia yang komen-komen di Instagram dan Youtube para content creator itu selalu gua tunggu-tunggu seperti sudah menjadi bacaan wajib referensi dari guru besar kuliah umum. Sekali lagi gua minta maaf karena membikin konten keresahan bahas konten seperti ini karena pada dasarnya gua mau curhat.

Spoiler Alert: Boleh baca sampai bawah karena tidak ada penjelasan tentang ending film Pengabdi Setan, karena gua belom nonton.

Hari ini bingung, capek, lelah, ngantuk, banyak pikiran, tugas banyak banget, astagfirullah!

Ingin gua berkata djancuk terhadap tugas-tugas yang membuat jam dinding pun tertawa, melihat gua cuma diam dan membisu di depan laptop.

Hidup di Yogyakarta itu jangan kaget kalo banyak yang bilang djancuk. By the way, ya, djancuk itu di sini digunakan sebagai ungkapan kemarahan.

Woy, djancuk!

Nah, artinya itu gua lagi marah.

Jujur, ya, bilang djancuk itu bikin enak, lho. Kayak bilang, Bangsat! Kampret! Kertas Binder!

Atau kalo gua di Kuningan sering marah-marah pake umpatan "Kunyuk teh!"

Iya, di Sunda harus ada "teh" nya, biar walaupun marah tapi tetap enak buat diminum. 

Jangan dicontoh, ya, adek-adek. Tapi boleh diamalkan kalo kalian lagi marah. Inget, cuma pas lagi marah. Kalo gak lagi marah ngapain pake kata-kata di atas. Misalnya, pas lagi minta duit ke orang tua. 

"Bu, uang saku abis pengen jajan seblak seuhah."

"Ini ibu kasih 10.000. Kembaliannya ambil aja."

"Wah, makasih, Bu. Djancuk."

Nah itu gak boleh, walaupun bilang djancuk-nya pake nada yang paling sopan sekalipun.

Lanjut..

Gua tadi udah bilang kalo belum nonton film Pengabdi Setan. Jujur, gua takut nonton film horror. Tapi gua pengen banget nonton film ini, masalahnya kalo filmnya masih baru awal-awal tayang di bioskop itu kan masih banyakan.. nah, film Pengabdi Setan ini udah lama di bioskop dan pastinya menjelang akhir-akhir pemutaran film ini dan pasti yang nonton udah sedikit. Takutnya pas datang ke sana dan pesan tiket di loket bioskopnya.

"Mbak, Pengabdi setan yang jam tujuh."

"Silahkan yang merah itu terisi dan yang hijau itu kosong."

"Lah, mbak, kok hijau semua?" 

"Tenang, Mas, itu kelihatannya kosong tapi sebenarnya ada yang ngisi."

Kemudian hening.

Taglinenya juga menurut gua sangat catchy, ya, film Pengabdi Setan ini, taglinenya itu "Ibu datang lagi". 

Film Pengabdi Setan by Sutradara Joko Anwar

Tapi, menjelang akhir bulan buat anak kos pasti nunggu ibunya bilang begini "Ibu transfer lagi".

Nah, itu kan enak. Tapi jangan dijawab "Wah, makasih, Bu. Djancuk."

Ngomongin ibu, kemaren gua nelpon ibu gua, gak terlalu malem kalo di Yogya sekitar jam setengah sepuluh. Tapi kalo di Kuningan di sana itu jam segitu aja udah bikin ngantuk, maklumin ibu gua udah tidur, telpon pertama gak diangkat.

Lalu, si ibu nelpon. Gua angkat. Eh, taunya dia cuma miscall. Gua udah senang biar pulsa gua gak kesedot. Dia punya siasat cerdik.

Gua telpon lagi. Dia ngangkat telponnya.

"Halo, ada apa, Aa?"

"Ibu udah tidur?"

"Udah."

"Lah, katanya udah tidur, siapa yang ngangkat telpon ini?"

"Ibu, lah. Tadi maksudnya."

Lalu, gua ngobrol panjang sama dia. Dan apa yang ibu bilang dan kasih tau ke kita itu kesannya kita udah tau dan gak penting, tapi sebenarnya itu detail banget.

"Aa, di sana sering ujan, gak?"

"Sering, Bu. Kemarin aja gara-gara keujanan Aa sampe pilek trus bersin-bersin parah."

"Kalo udah bersin-bersin gitu jangan lupa minum obat."

"Minum air boleh, Bu?"

"Boleh."

"Kirain gak boleh."

Dan juga apa yang ibu omongin itu selalu diulang-ulang tiap ngobrol di telpon.

"Jangan lupa sholat."

"Iya."

"Apa yang tadi ibu bilang?"

"Jangan lupa sholat."

"Makasiih. Kamu perhatian banget."

Ya, sudah, gua mau tidur dulu, capek, ngantuk, walaupun sebenarnya "Deadline datang lagi".

Yogyakarta, --17 Oktober 2017

(9-,-)9

Comments

  1. .....

    Kirain ini review Pengabdi Setan yang ditulis oleh Baby Mubarok. Taunya curhatan dari pengabdi transferan. Ingin berkata djancuk rasanya.

    Udah punya Ibu yang perhatian, manggil Aa' dengan mesra.... apakah itu alasanmu betah menjomblo, Zy? Oh aku benar. Okesip. Terungkap sudah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bebi Mubarok Datang Lagi.
      .
      Hei, kamu, Kak Icha hanya komen ketika membaca tulisan gua yg berhubungan dengan film saja, dasar kertas binder!
      .
      Urusan jomblo itu urusan bukan urusan betah gak betah, Kak Icha, tapi ini urusan iman dan taqwa kepada Tim SAR, waduh jokes yang sangat experimental. Hubungan ibu dan anak walau jomblo atau tidak harus tetap terjalin sekuat besi binder. Namun sebenarnya, analisismu itu tepat karena tidak ada yang bisa ditelpon lagi!!

      Delete
  2. Poster film itu boleh juga.
    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya keren memang posternya.
      .
      Salam kenal juga cuy. By the way, jualan apa Alris?

      Delete

Post a Comment

Silahkan komentar, bebas, mau saran, pujian, kritik, sampe roasting, bebaslah!