Tuesday, September 12, 2017

Mental Breakdown

Untuk blog.

Emang, ya, kesehatan mental kita itu gak bisa ditebak arahnya kayak capung kalo terbang. Kala itu, hampir semingguan hari-hari pertama semester tiga gua ngerasa hidup baik-baik saja, seperti grafik yang cenderung stabil dan lumayan meningkat, eh, lalu tiba-tiba di akhir pekan mendapatkan sebuah breaking point yang gak bisa ditebak yang gua sebut sebagai 'Mental Breakdown'. 

Ketika Hari Kamis gua bermain PES di kosan temen dengan tiga teman gua, Ata, Lutfi, dan Peter. Sistem pertandingan dilakukan dengan sistem liga atau klasemen atau yang sering disebut sistem bertemu bukan sistem gugur. Jadi kebagian bertemu semua lawan lalu yang paling banyak menang akan mendapat poin paling banyak dan dialah juaranya. Poin kalo menang dapat tiga poin, kalo draw cuma satu poin, kalo kalah good-bye alias zero poin. 

Satu kali gua draw, satu kali menang.. tapi di pertandingan ketiga.. gua kalah. 

Rasanya itu nyesek padahal satu langkah lagi puncak klasemen, rasa yang sama ketika sehabis menderita kekalahan yang hakiki, pengen teriak kata-kata kotor, rasanya sama kayak ketika butuh curhat lalu malah curhat ke orang yang salah. Butuh pertolongan medis secepatnya (diusahakan pertolongan dengan nafas buatan cewek-cewek Akademi Keperawatan). Pemulihan mental adalah hal yang harus segera dilakukan ketika kamu dilanda hal yang berbahaya seperti ini.

Ya, bagi kamu ini lebay, tapi bagi kami para cowok, kalah dari teman di pertandingan PES bukan masalah sepele, ini masalah hidup dan mati. 

Seketika gua mengumpat, "Anjir, Mental Breakdown!"

"Mental Breakdance, kali." kata Lutfi nyahut.

Tolong bedakan antara breakdown dengan breakdance, apalagi malah jadi breakfast, bahkan break up. Itu beda, okay.

Sehabis bermain PES langsung bermain futsal sehabisnya.. subhanallah.. capek-capek, pegal-pegal punggung dan pinggang bengkok semua tapi untungnya malem-malem ada sesuatu yang cukup menghebohkan. Indonesia U-18 menang lawan Filiphina dengan skor fantastis 9-0. Disinilah mental berada pada kondisi di atas angin.

Jadi kalo ada angin di bawah, nah, mental gua tepat di atas angin itu.

Tetapi rasa empati terhadap kiper Filiphina, Quincy Kammeraad harus terenyuh, kasian. Soalnya doi nangis pas abis pertandingan tersebut. Sebagai orang yang lumayan sering jadi kiper kalo main futsal, emang sedih sih. Kebobolan satu gol aja kita kesel apalagi sembilan. Harus dibantainya sama Orang Indonesia pula, kan tambah kesel. Mental Breakdown ini bukan cuma dirasakan oleh gua doang.


suratkabar.id
PanditFootball.com

Tapi tumben netizen Indonesia pada baik-baik. Akun instagram kiper Filiphina rame sekali sama komentar penyemangat dari suporter Indonesia. 

Follow instagram gua di: @fauzyhusnim

Yang bikin gua gak ngerti ketika Hari Jum'at siang tiba-tiba gua terjangkit serangan panik. Gua gak tau alasan tepatnya kenapa. Disinilah gua melakukan introspeksi.

Mungkin karena gua pengen istirahat dan gak ada jadwal apa-apa jadinya pengen diam di kosan, eh malah jadi panik? Ah, daripada kepikiran terus gua tidur siang aja. Mungkin gara-gara gua kurang tidur? Tapi, bangun-bangun gua masih panik juga. Disitulah gua melakukan proses membaca buku. Mungkin gara-gara gua bosan jadinya panik?

Pas banget gua baca bukunya Mike Leibling yang judulnya How People Tick. Ada di satu bagian yang nyebutin ternyata Orang-Orang Amerika Serikat sana juga biasa panik kalau Hari Jum'at siang dikarenakan mereka-mereka ini gak pada tahu mau ngapain pas weekend nanti alias tidak punya rencana untuk pergi berlibur. "Masuk akal juga ini." sebut gua dalam hati. "Tapi, kayaknya gua beda deh. Kayaknya sih, gua panik gara-gara tahu weekend ini bakalan dipake seminar wajib Econosphere disuruh dosen Psikologi Kewirausahaan dua hari Sabtu-Minggu berturut-turut yang udah pernah gua ikutin sebelumnya tapi disuruh ikutan lagi.. subhanallah.. gua harus relain weekend gua akan terampas secara hakikat, moral, dan esensinya."

Hari pertama seminar di Hari Sabtu, ternyata gak bikin capek walau sampe jam tiga sore. Ternyata gua suudzon. Kurva garis mental gua nanjak lagi ke atas.

Cobaan datang di malam hari. Puncak Mental Breakdown minggu ini yaitu ketika gua memutuskan untuk memakai baju Liverpool ke burjo dan menonton Manchester City vs Liverpool. Liverpool dibantai habis 5-0 sama Sergio Aguero dan kawan-kawan. Itu pulang-pulang gua udah menciut. Lemes. Hidup rasanya ancur. Anyep. Gak fokus. Sampe kos ketiduran. Pagi-pagi bangun sholat shubuh dan tersadar kalo di Hari Minggu ini yang harusnya gua santai di zona nyaman, nyatanya harus berangkat seminar lagi.

Tapi, seketika gua mikir, "Kayaknya Mental Breakdown gua ini gak separah punya Quincy Kammeraad." 

Ku jadi semangat lagi, Kakak.

Terima kasih, Quincy. Kacang dua Quincy. :))


(9-,-)9

0 komentar:

Post a Comment

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email