Tuesday, May 2, 2017

Gerbang yang Tertutup Rapat Ketika 1 Mei

Tanggal 1 Mei kemarin, gue tau itu Hari Buruh Sedunia. Pagi-pagi, gue bangun tidur, setengah jam sebelum kuliah mulai. Berasa males karena jadwalnya kuliah Statistika. Males banget mata kuliah ini, masalahnya gue gak jago ngitung. Ya, tetap, walau gitu harus gue jalanin. Gue langsung dandan, pake kemeja, pake sepatu, bawa kantong dan alat tulis. Berangkat naik motor ngerasa ada yang aneh, gue ngelewatin pertigaan masuk ke jalan raya Gejayan, “Jalanan Yogyakarta gak biasanya lengang begini?” ujar gue bergumam. Biasanya, kalo udah terjun ke jalan raya, beuh, serempetan, mobil-motor dari sisi belakang kayak pasukan tempur Kamikaze Jepang mau nabrakkin diri mereka ke motor gue.

Hmm.. hari ini gak terjadi kamikaze-kamikaze-an. Gue melewati Jalan Affandi dengan santai dan sangat biasa saja, “Kok berasa ada yang kurang, ya?” masih menerka-nerka. “Oh, iya, biasanya, kan, macet, kok sekarang, enggak?”

Gue meliuk-liuk santai, ngelewatin tiga rel kereta api, belok ke Jalan Baciro. Di lampu merah dekat Stadion Mandala, gue ngelirik jam yang gue pake di tangan kiri, “Anjir, kok gue berangkat ngampus cepet banget?” itu adalah lampu merah terakhir sebelum nyampe kampus, tandanya sebentar lagi nyampe depan gerbang kampus. Dari tadi, feeling gue ngerasa ada something yang kurang, ada lubang yang mendadak membuat hati gue ngilu.

Jawabannya langsung ada setelah gue sampe depan gerbang kampus.

Gerbang tertutup, rapat. Gak ada satpam berkumis yang biasa jagain.

Seketika gue teringat ke Hari Buruh Sedunia atau yang sering disebut May Day yang jatuh pada 1 Mei ini. Biasanya hari ini para buruh melakukan demo di depan gerbang instansi terkait, menyuarakan pendapat mereka. Membela hak mereka. Meneriakkan kebenaran. Namun, seringnya, mendapatkan pengabaian. Mereka yang berkuasa hanya bersikap apatis. Mereka melihat para buruh itu dari balik jendela. Memilih diam. Menutup telinga. Menutup gerbang dengan sangat rapat.

Gokil, juga, ya, pikiran gue.

Ya, udah, lah. Gue melewati gerbang kampus dengan miris. Beberapa saat sehabis itu, motor gue arahkan minggir, gue berhentiin, gue terhenyak, gue melihat sekeliling, bengong. Cuma daun-daun yang gue lihat tertiup angin. Jalanan lengang. Tak ada wajah manusia satu pun. Ke mana perginya mereka? Dan akhirnya gue sadar, ternyata, gue adalah manusia terakhir yang hidup di muka Bumi.

(:)(:)(:)

0 komentar:

Post a Comment

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email