Tuesday, April 19, 2016

Misi Penyelamatan Kasir Indomaret yang Baru Bangun Tidur

Untuk blog.

    Karena habis beli voucher zenius (re: voucher yang bikin otak encer) yang sudah habis tanggal 5 April lalu, pagi-pagi sekali saya harus mampir ke Indomaret buat bayarnya, soalnya saya milih metode bayar via Indomaret. Dengan dianter sama bapak naik motor pas udah di depan Indomaret perasaan saya udah gak enak, soalnya pintu besi Indomaret yang naiknya ke atas itu baru dibuka sama petugasnya. Lanjut masuk gak ya??? saya ngerasa plin-plan. Tapi karena sudah kepalang akhirnya saya beranikan masuk dan langsung ngomong ke kasirnya.. cewek, rambutnya pirang, dikuncir ekor kuda dan jerawatan, serta lumayan cantik. Sayangnya, kelihatan mukanya asem banget kayak udah mabok, sepertinya Teteh Kasir ini baru saja bangun tidur.

    "Mau bayar zenius, Teh.." to the point saya langsung mengutarakan maksud saya.

    "Zenius? Belanja online, ya?" Si Teteh kasirnya suaranya serak. Kayaknya semalam habis begadang jadinya tenggorokannya dingin dan jadi serak deh.

    Saya mengangguk.

    "Wah, sayangnya mesin buat bayarnya belum siap, A. Nanti aja, ya, siang ke sini lagi."

    Nanti siang lagi balik lagi ke Indomaret?? Udah panas, haus, tenggorokan kering, jauh, becek, gak ada ojek, lho, kok.. "Kalau nunggu mesinnya siap sekarang gak apa-apa, Teh?"

    "Ya, udah, tapi agak lamaan."

    "Gak apa-apa, Teh." Udah biasa nunggu lama, kok. Hiks.

    Saya mencoba sok asyik dengan melirik-lirik ke sekitaran tempat saya berdiri, dan ternyata ada dua petugas lain yang lagi beres-beres. Dua petugas itu laki-laki. Waduh, saya curiga kalo misalnya lagi sepi mereka bisa-bisanya modus ke Teteh Kasir rambut pirang yang ada di depan saya. Dan kalau misalnya mereka berdua berani, beuh, udah disikat habis si Teteh Kasir. Habis disikat terus dibilas, kalau matahari udah kelihatan terik baru deh, dijemur. Hehehe..

    Lagian, Indomaret ini kok namanya Indomaret, kenapa gak Indoapril, atau Indomei. Gak asyik banget, ngelihat bulan Maret itu rasanya garing, anggota keluarga gak ada yang ulang tahun di bulan Maret. April, pun gak ada yang ultah juga, sih. Kalo April sih sedikit spesial, apalagi namanya jadi lebih panjang, Indoaprilmop. Jadi ketika belanja dan kasirnya ngasih tahu total harga yang harus dibayarnya sambil bercanda ala april mop, "Semuanya 200 ribu, Pak, total diskon 50%, jadi semuanya....."

    "100 ribu, Mbak. Ini uangnya, Mbak."

    "Semua diskonnya boong, Pak."

    Hmm..

    Waduh, saya lihat si Teteh Kasir masih aja diam ngeliatin layar komputernya, malah asyik, lagi ngapain, sih, gak ngerasa ada orang di depannya, ajak ngobrol, kek. Jangan-jangan dia malah lagi asyik nge-scroll timeline akun facebook mantannya. Stalker detected, dong, ini mah. Pantesan aja dari pertama first impression saya ngeliat si Teteh ini benar-benar kurang ceria, soalnya dia sudah tahu kebenaran. Mantannya jadian sama kasir Alfamart! Dan.. lebih cantik dari dia. Aduh, kasihan sekali, si Teteh, cupcupcup. Rasanya pengin memberikan pundak saya ke dia dan bilang, "Jangan sedih, Teh, jangan nangis. Kalau saya sudah bayar voucher zenius ini bolehlah nangis sepuasnya." Hehehe.

    Si Teteh akhirnya ngeliatin saya, masih dengan tatapan "baru bangun tidur". "Aa, kayaknya masih lama, deh."

    "Gak apa-apa, Teh." dengan memberikan kerlingan mata it's gonna be alright.

    Si Tetehnya kelihatan manyun. Kayaknya gak terima dengan jawaban saya tadi.

     "Aa, nanti siang aja ke sini lagi, ya, mesinnya masih lama siapnya." dia ngomong dengan nada agak judes dikit. 

    Dan ini yang saya enggak suka, kayaknya dia gak menyukai keberadaan saya di hadapannya. Menyadari itu semua saya langsung pamit, "Ya, sudah atuh, Teh, nanti siang ke sini lagi.."

    Emang enak di boongin, nanti siang saya gak bakal ke situ lagi, saya mau bobo ciang. Skor 1-1. Judes dibalas dengan harapan palsu. Rasain, siang-siang dia bakal nungguin saya, saya sudah ngasih harapan sama dia. Tapi... perasaan saya gak enak udah PHP-in orang. 

    Maafin saya Teteh Kasir Indomaret. Huhuhu.. 

    Akhirnya mah, saya kalah. Skor 2-1. Gak apa-apa.

(9-,-)9

    Saya mampir ke perpustakaan umum paling lengkap di Kuningan. Letaknya di depan SMP 1 Kuningan, dari situ tinggal nyebrang, doang. Masih jam setengah 8 dan cuma ada seorang bapak-bapak berjaket hitam yang nungguin perpusnya. 

    "Kok sepi, Pak?" saya mencoba ramah.

    "Belum pada datang petugasnya."

    "Mau baca, ya, Pak, boleh??" pertanyaan bodoh, ya jelas boleh, lah, namanya juga perpustakaan. Emangnya ini diskotek, mau baca buku harus joget dulu!!

    "Boleh, tapi ngisi dulu buku pengunjung di depan, ya." Saya langsung capcus ngisi terus ke ruangan tempat baca yang udah dipasangin AC itu (namun tidak terasa dinginnya), terus duduk dan nyalain laptop. Sampai siang, pakai wi-fi perpustakaan itu dan asyik nonton video-video youtube-nya channel Ted-Ed. Asli, keren-keren dan mencerahkan.

    Tiba-tiba ada yang mengagetkan saya, teman saya yang ngeselin, si Fathin, datang. Siapa yang mengundang dia ke sini??

    "Eh, pan gak dikasih tahu saya disini, kok kamu tahu saya di sini??" saya basa-basi.

    "Emang saya sering ke sini, keleus." dia jawab sambil ngerapihin jaketnya.

    "Boong."

    "Iya."

    "...."

    "Tadinya mau les, tapi jam 10, ke sini dulu aja."

    Jam 10, Fathin pamit dia mau les di GO. Gak lama kemudian, dia balik lagi sambil ngos-ngosan. "Kampret, di GO masih sepi."

    "Ya, bagus, dong, soalnya kamu bisa fokus. Guru les kamu pun bakal kagum sama rajinnya kamu dan makin memperhatikan kamu."

    "Iya juga, ya." Dia pamit lagi. Tapi, sepersekian detik kemudian macam kilat menyambar si Fathin kampret balik lagi. "Tapi nanti aja, lah, jam 1 siang, saya masih mau baca di sini."

    Dasar plin-plan. 

    Wi-fi-an di perpus ini asyik buat streaming Youtube, tapi masih gak asyik buat browsing. Asli, lemot banget. Dan nama wi-fi yang saya pakai adalah "perpum", tapi masih ada wi-fi yang lain "perpuseru", saya lihat sinyalnya lebih kuat. Tapi saya gak tahu password-nya apa, dan saya coba pakai kata sandi yang sama dengan kata sandi "perpum" pun gak bisa. Saya pun berdiri dan memberanikan diri. Saya nanya ke petugas di depan, "Pak, wi-fi yang 'perpuseru' itu password-nya apa, Pak?"

    "Wah saya gak tahu, saya sih tahunya yang 'perpum'. Tuh tanya aja sama bapak yang di sana." petugas yang rambutnya lebat itu menunjuk seorang petugas perpus yang lain, rambutnya sedikit dan tengahnya botak.

    Saya langsung menghampiri seseorang yang dimaksud, terus kepo lagi, tapi dia-nya jawab, "Password-nya sama aja sama yang 'perpum'."

    "Gak bisa, Pak. Saya udah nyoba berkali-kali."

    "Coba lagi, dong."

    "Gak bisa, Pak."

    "Wah, kalo gitu, saya kurang tahu."

    Gimana sih petugas yang ngejagain suatu tempat, kan, harusnya tahu semua seluk beluk tempat yang dijaganya. Masa password wi-fi aja gak tahu, ini kayak ibu yang gak tahu nama anaknya. Padahal, di dekat rak buku fiksi ada spanduk besar, "Perpuseru: Perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.." Prett, password wi-fi aja gak tahu dan bikin saya jadi bingung. Siapa sebenarnya yang tahu kata sandi wi-fi "perpuseru" ini??? Siapa??? Siapa yang masang wi-fi ini????? Jangan-jangan dia cuma masang dan pengin menghibur aja sama sinyalnya yang bagus tapi wi-fi-nya gak bisa dipakai. Aneh bin ajaib.

    Habis dari perpustakaan umum yang wi-fi-nya bernuansa mistis, saya makan siang di warung ketoprak di dekat masjid stadion. Iya, ditemani Fathin. Tapi dia anak sholeh, dia lagi puasa.

    "Kamu puasa, Thin, sekarang kan hari Selasa.."

    "Senin, kali."

    "Saya setan, dong. Kamu lagi puasa saya asyik-asyik makan."

    "Untunglah kamu nyadar."

    Lagi makan ketoprak saya gak henti-hentinya memberondong Fathin dengan sejuta pertanyaan, "Thin, jangan-jangan lo cuma akting, doang? Lo sebenarnya gak puasa, hayo ngaku.."

    "Thin, kalo saya bayarin, lo masih mau makan ketoprak ini, gak?? Enak, lho.."

    "Thin, hari ini hari Selasa, kan?"

    After lunch, capcus ke sekolah numpang sholat dan pulang membawa meja belajar kecil bergambar Teletubies. Meja ini sudah lama saya simpan di masjid (tempat tinggal saya dari Februari sampai Maret), pengin dibawa pulang dari dulu, soalnya ini adalah meja bersejarah. Di meja ini saya juara 1 lomba-lomba mewarnai waktu TK, dan juara ketiga lomba menggambar dengan tema "Ayo Sekolah!" se-kabupaten Kuningan. Beuh, makanya, walaupun pas nenteng meja kecil ini saya jadi kebawa lucu lagi dan imut-imut gimana gitu, kayak anak TK pulang sekolah, sebenarnya saya malu. Ngerasa gak pantes aja, saya kan udah dewasa dan sudah punya jenggot. Cieehehe. Karena jenggot adalah lambang kedewasaan dan kejantanan, serta kesempurnaan cintaaaa haaa~~

    Di angkot nih, saya diliatin segerombolan anak laki-laki SMP yang tampang-tampangnya macam preman, celana dikeluarin dan lengan bajunya disingsingkan kayak lirik lagu "Bangun Pemuda Pemudi." Dari cara mereka ngeliatin saya mengisyaratkan bahwa, "Lo udah gede tapi bawa meja gambar teletubies, kayak anak TK. Dasar tua-tua keladi!" 

    Untungnya, anak-anak SMP tadi gak ikut turun pas saya turun dari angkot. Kalau mereka turun bisa-bisa saya diikutin. Sampai jalan ke tempat sepi itulah momennya, saya dikeroyok dan mereka mengambil meja belajar kecil saya yang bersejarah itu. Terjadilah momen dramatis. Suatu perpisahan ayam dengan telurnya. Please, don't take my little teletubies tabble from my life, meja itu sangat berharga untuk saya. Mending saya diperkosa aja sama kalian daripada meja itu diambil dari hidup saya. Boong, deng, gak mau.

    Nyampe rumah. Sebenarnya bukan rumah saya, tapi rumah Bibi, saya sudah satu bulan suka menginap di sini. Rumahnya di kawasan perumahan Graha Mutiara, dari lampu merah Oleced jalan ke utara sedikit. Soalnya, yang punya rumah di Jakarta melulu jadinya kosong.. jadi saya tempatin buat fokus belajar. Selain itu sinyalnya bagus juga buat streaming Zenius, dan, fokus ngeblog juga. Kalo di Ciomas, sinyalnya jhfkhdkgvhgbvgfhfdv.


    Saya senang, misi saya untuk menyelamatkan meja teletubies kesayangan saya berhasil. Awalnya saya ragu-ragu untuk membawanya, tapi karena saya menerapkan prinsip "Kalo gak sekarang kapan lagi" saya dan meja itu tiba di rumah (rumah Bibi-nya anggap aja rumah sendiri, ya), dengan selamat. Saya pun selamat. Maka, selamat datang di negara api.


Welcome home, baby..
(9-,-)9

7 comments:

  1. Isi ceritanya lumayan ambivalen ya dengan judul postingannya. Tetapi, so far cukup ngalir, dan bikin happy bacanya. Syukur alhamdulillah meja belajarnya kembali, padahal kadang, tidak semua yang telah terpisah kembali bersama merajut kisah. *halah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuah makasih nih kalo tulisannya ngalir, alhamdulillah juga bisa bikin happy. Semoga selalu happy setiap saat, ya, Bang.

      Iya, nih, meja belajar ini memang sangat bersejarah buat saya dan akhirnya engkau malah baper..

      Delete
    2. Amin

      Sekalipun nggak setiap saat ada yang bikin happy, ya bikin happy sendiri saja. Kalau kata Rumi, "Semua kita punya jalannya sendiri. Mungkin saja akan ada yang mengawanimu menempuh jalanmu. Tetapi tidak akan ada yang menempuhkannya untukmu." *halah mulai ngaco lagi*

      Nasib baiklah kaupunya meja belajar hahaha berarti nggak ada alasan buat nggak belajar :p kalau masih ada alasan, itu sih kufur nikmat banget namanya hihihi

      Iya nih, malah baper, mana indomaret di sini jauh...

      Delete
  2. Meja legend ane gambar digimon ji, tukeran yu haha. 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak mau lah, Wan, saya bukan penggemar digimon. Kali-kali kita kopdaran wan, bawa meja belajar legendarisnya masing-masing.. hehehe

      Delete
  3. haha kasir indomaret malah d php'in mna kasian lagi mantan nya jadian sama kasir alfamart :D

    ReplyDelete
  4. haha kasir indomaret malah d php'in mna kasian lagi mantan nya jadian sama kasir alfamart :D

    ReplyDelete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.