Wednesday, April 20, 2016

Indonesia Kekurangan Cabe?? Tenang, Ada Duo Serigala!!

Untuk blog.

    Halo, saya bikin lagi jurnal belajar saya yang kedua, kalo mau baca yang pertama, boleh, kok, klik disini, disitu saya membahas tentang dasar-dasar ekonomi dengan melibatkan pacar-pacar saya (uhukk): Katniss Everdeen, Hermione Granger, Emma Watson, dan juga Raisa Adrianna. Baca ya!!

    Oke, kali ini saya masih belajar tentang ekonomi. Babnya membahas tentang Penawaran, Permintaan dan Elastisitas. Jurnal belajar saya bikin dalam rangka ingin membuat suatu yang rumit jadi menyenangkan dengan cara saya sendiri, yaitu ngeblog. Juga supaya ada catatan yang bisa dibawa kemana-mana, gak usah repot berat-berat bawa buku. Saya harap bermanfaat. Kalo untuk saya, ini bermanfaat sekali. Ya sudah, basa-basi aja terus nantinya makin panjang. Langsung lanjut ke bawah aja deh, cyin.

Supply and Demand in a nutshell


    Permintaan dan Penawaran atau demand and supply, itu punya hukum yang gampang. Harga naik, jumlah yang beli banyak (quantity of demand). Dan juga, harga naik, makin banyak jumlah barang yang dijual (quantity of supply). Saya langsung teringat sama orang betawi, soalnya mereka suka ngomong ungkapan, "LO JUAL GUE BELI!!". Saya jadi bisa menyimpulkan kalo orang betawi itu pinter ekonomi semua, apalagi yang jadi palang pintu, soalnya kalo diganti jadi istilah ekonomi, jadinya.. "Lo supply gue demand!

    Mantap abis orang betawi.

    Bedain pergeseran (friction) sama pergerakan. Saya juga suka keseleo tentang konsep ini. INGAT! Pergerakan biasanya terjadi di sepanjang garis kurvanya (bukan di daerahnya) dan disebabkan oleh harga barang itu sendiri. Tapi, kalo misalnya pergeseran itu satu kesatuan kurvanya (harga barang dan kuantitas gak mempengaruhi), mau geser ke kanan atau ke kiri, tergantung dari konteks penyebabnya, dalam gambar di atas sudah disebutkan dengan kerennya pakai bahasa Inggris. Hehehe.. (pastinya, cari bahasa Inggris-nya pakai google-translate).

    Price floor itu artinya harga minimum atau harga terkecil buat ngejual suatu barang, pemerintah harus menerapkan harga minimum di atas titik equilibrium-nya supaya ngaruh. Apa fungsinya?? Supaya barang-barang yang berdampak negatif bakalan berkurang pembelinya jadi pemerintah menetapkan price floor supaya terjadi surplus (barangnya banyak tapi pembelinya sedikit). Contohnya seperti rokok dan minuman keras. Makanya bir yang beralkohol (walaupun kadar alkoholnya cetek), minuman anggur-angguran, atau lem korea, itu mahal-mahal. Soalnya, dampaknya negatif untuk bangsa Indonesia, bikin mabok, Cuy.

    Satu lagi, price ceiling yang artinya harga maksimal atau batas termahal untuk ngejual suatu barang. Pemerintah ngelihat harga cabe kemahalan, maka pemerintah harus menekan harga cabe ke bawah dengan menentukan harga di bawah titik equilibrium, dengan itu cabe bakalan murah lagi, deh. Tapi dampaknya pembeli cabe bakalan tambah banyak dan cabe nanti habis, terjadilah kelangkaan cabe. Mmm.. tapi zaman sekarang, gak mungkin bakalan langka cabe.. karena menjadi cabe-cabean sudah menjadi tren di kalangan manusia Indonesia. Mmmm.. jadi pemerintah tenang aja. Stok cabe bakalan surplus selama cabe-cabean masih ada. Hidup cabe-cabean!! HIDUP!! HIDUP!! HIDUP!!

    Skip.

*kayaknya, setelah ini blog ini bakal diblokir, karena telah mendukung cabe-cabean untuk beroperasi. Plis, jangan blokir blog ini, Kak Seto.

What the hell is this sh*t??!! ARRGGHH!!

    Kalo yang ini gimana?? Kok rudet gitu?? 

    Iya, saya juga pusing mikirin konsep tentang elastisitas. Awalnya konsep elastisitas ini disangka sama saya itu gampang, karena saya mikirnya bakal asyik kalo megang yang elastis-elastis. Megang karet, megang bola cewek basket, megang bola-bola yang lainnya. Intinya, elastisitas mempengaruhi total pendapatan (Total Revenue/TR), pembelian barang menurut jumlah pendapatan yang saya dapat, dan pembelian barang yang berhubungan.

    Hubungan apaan, tuh? Hubungan internasional?? Bukan!

    Kalo mau baca di jurnal saya sebelumnya, ciee, saya sudah nulis jenis-jenis barang berdasarkan hubungannya. Kayak gambar di atas, disitu ada hubungan antara ayam goreng KFC sama burger-nya McDonnalds, kalo harga ayam goreng KFC naik, otomatis saya beli burger McDonnalds, dong, karena harganya lebih murah, dan elastisitas sama-sama positif karena tanda panah ke atas semua. Kalo barang komplementer, ya.. hape sama baterai adalah satu kesatuan, jadi kalau harga hape naik maka hape baterai juga naik, dong. Eh, tapi kalo mau benar secara logika, digambar itu salah sedikit, maaf, harusnya, kalau harga baterai naik maka harga hape naik juga. Maka yang beli baterai jadi turun, karena orang-orang mungkin nyari alternatif energi lain buat nyalain hape. Misalnya energinya dari keringat manusia, makin banyak olahraga, makin awet baterai hape kita. Beuh, itu ide yang sangat brilian sekali dari otak saya. Tapi, udah ada yang mulai bikin enggak, ya?? Ayo engineers Indonesia mulai bikin tuh hape yang energinya dari keringat. Semangat! Kalian pasti bisa!!!!

    Udah, ah, mau nonton yang elastis-elastis lagi. Eitts, bukan mau nonton goyang dribble-nya Duo Serigala, ya, tapi mau nonton pertandingan basket. Hehehe..

    Belajar ekonomi bikin pikiran saya mulai gila, nih.. Semangattt..

(9-,-)9

1 comment:

  1. Apabila tarif indomie naik akan menurunkan permintaan, dan dampaknya banyak anak kos kelaparan dan memilih skala prioritas untuk minum promag setiap hari. Bab 1 dan 2

    ReplyDelete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email