Tuesday, December 15, 2015

Pengawas Ulangan Apatis Yang Gagal Sama Cewek..

Untuk blog.

    Pembaca setia, kamu punya hal yang bikin nyesel gak ketika hidup di dunia ini? Saya punya. 

    Ketika itu saya bangun tidur, saya nyesel. Nyesel banget. Saya habis mimpi basah. 

    Nyesel banget. Saya nyesel habis mimpi basah.. tapi gak inget mimpinya apa dan bagaimana, mimpinya dengan siapa. Kan kampret, karena biasanya saya ingat, terus dipikirin lagi. Hehehe. 


    Kali ini, tiba-tiba basah aja. Saya jadinya bingung harus meminta tanggung jawab atas basahnya ini kepada siapa.
 

    Tapi setelah itu saya sadar. 

    Basah ini bukan karena mimpi, tapi karena.. atap kamar saya bocor.

    AAKKKK!! IBU!! KASUR SAYA BASAH!! 

          (9-,-)9

     Kasur saya sudah kering sekarang. Mari bercerita tentang Ulangan Semester Ganjil tahun ajaran 2015/2016 yang terasa sedikit berbeda, karena ada varian rasa baru. Rasa barunya itu karena dimulai pada hari Kamis. Biasanya mulainya hari Senin dan berakhir hari Sabtu. Kali ini, mulai Kamis, berakhir Kamis depannya. Tapi ada keuntungannya, karena Ulangan Semester-nya terpecah jadi 2 ronde. 1 ronde-nya 3 hari. Ronde 1 kamis sampai sabtu. Hari Minggu bisa refreshing dulu main game dan nonton film seharian, terus lanjut ronde 2. Asoy, kan?
 

    Namun biasanya setelah Kamis selesai ulangan nanti, muncul Ronde 3. Remidial.
 

    Ketika ada event seperti ulangan semester biasanya para murid itu mendadak jadi rajin. Rajin belajar? Bukan. Jadi rajin ibadah. Orang-orang seperti ini adalah kaum pesimistis yang hanya mengandalkan do’a tanpa dibarengi usaha. Saya ini orangnya selalu berusaha. Berusaha selalu berdo’a kepada Yang Maha Kuasa. Saya selalu berdo’a. Berdo’anya seperti ini, “Ya Allah, tolong berikanlah pengawas yang baik hatinya, berbudi luhur, bersadar diri, semangat belajar berbangsa berbudaya, maju Madrasah Tsanawiyah-ku..~” 

            (9-,-)9

    Yang belum tahu tadi saya nyanyi Mars MTs.

    Kamu tahu apatis?
 

    “Eh, jangan jadi orang apatis, dong! Gue minjem pacar lo gak dikasih pinjem, katanya sahabat!”
 

    “Kampret, di kelas gue orang-orangnya apatis semua! Masa gue nanya tugas di group-chat Whatsapp, gak ada yang jawab! Yaiyalah, gue nanyanya di group-chat kelas sebelah! Berarti kelas sebelah apatis semua!”
 

    Kebanyakan orang bakal ngomong jangan jadi orang yang apatis. Apatis itu orang yang gak peduli sama sesama. Cuek. Acuh tak acuh, gitu. Apatis itu buruk deh, pokoknya. Menurut saya, apatis itu kata yang netral. Karena orang apatis itu ada bagusnya juga, lho. Yaitu ketika jadi pengawas ulangan.

    Bayangin deh ketika ulangan kita mendapatkan pengawas yang apatis untuk mengawasi ruangan ulangan kita. Kita bisa lirik kanan lirik kiri, tanya jawaban sana-sini, gak takut. Pengawasnya apatis.
 

    Kita bisa lempar lemparan kertas contekkan dan buka buku catatan. Kalem aja, gak bakal ketahuan karena.. pengawasnya apatis.
 

    Bahkan, kita pun bisa joget-joget harlem shake pas lagi ulangan. Santai aja, gak bakal malu-maluin. Pengawasnya apatis. Dan pengawas yang apatis itu ikutan joget harlem shake juga.
 

    Asoy, kan?



          (9-,-)9

    Dalam sejarah saya ulangan umum di SMA, pengawas apatis itu sedikit populasinya. Bahkan, makin ke sini makin sedikit populasinya dan hampir punah. Tapi, beruntunglah kalau ada guru PPL di sekolah kalian. Karena ada banyak, lho, guru PPL kalau disuruh mengawasi murid ulangan biasanya acuh tak acuh, apatis. Karena guru PPL hanya berpikir untuk ‘cepat pulang’ saja. Tapi, gak semua guru PPL, ya, karena saya cuma bilang ‘ada banyak’.
 

    Pernah pengalaman saya ketika ulangan, seorang pengawas masuk dan memberi soal ulangan plus lembar jawaban. Habis itu keluar ruangan lalu ngerokok.
 

    Murid-murid yang lagi ulangan ditinggal. Kita bisa ribut, tanya kiri-kanan, atas-bawah, jungkir-balik, jogat-joget, kopral-koprol. Pengawasnya anteng banget di luar ruangan, kayak anak kecil yang dikasih mobil-mobilan.
 

    Ngerokoknya luamaa banget. Saking lamanya, ditulisnya luamaa. Sampai waktu ngerjain soal selama 90 menit itu habis. Dia masuk lagi, hanya untuk mengumpulkan lembar jawaban plus soal ulangannya. Saya jadi murid terakhir yang keluar ruangan. Dan berpapasan dengan pengawas apatis itu, karena penasaran saya curi-curi untuk menyapa dan bertanya, “Pak, ngerokoknya habis berapa batang? Lama banget di luarnya.”
 

    “Cuma satu batang, kok.”
 

    “Lho, kok cuma satu batang lama banget di luar, pak?”
 

    “Bapak cari orang yang punya korek api dulu.”

           (9-,-)9

    Ada juga pengawas sepertinya kaum intelektual. Soalnya, ketika masuk ke ruangan, tangannya menjinjing buku novel. Pengawasnya perempuan.
 

    Sehabis membagikan soal ulangan plus lembar jawaban, langsung duduk dan baca novel. Novelnya sampai menutupi wajah pengawas itu. Dia jadi gak peduli keadaan murid yang lagi ulangan, seakan terbawa cerita dalam novel tersebut. Inilah yang menjadi titik kesempatan untuk murid-murid yang kampret untuk nanya jawaban.
 

    Kesempatan itu hancur ketika seorang murid menyadarkan pengawas yang lagi baca novel dengan teriak menanyakan sesuatu, “Bu, no. 23 Pilihan Ganda ralat gak?”
 

    “Bu?”
 

    “Bu?”
 

    Akhirnya satu ruangan ikut teriak, “BUUUUUU!?!!”
 

    Si ibu pengawasnya menjawab dengan menjawab dengan payah, “Oy, ada apa sih ribut-ribut, kerjain ulangannya yang benar, ibu ngantuk. Tidur lagi, ah.” Terus wajahnya ditutupi sama buku novelnya.
 

    Oh, ternyata, bukan baca novel tapi tidur. Saya tertipu. Kami tertipu. Kalian semua tertipu.

           (9-,-)9

    Ada juga pengawas yang malah ngegosip. Mending kalo ngegosipnya cuma bisik-bisik, malah ada yang ngegosipnya kedengeran. Yang lagi ulangan jadi tahu kalau Bu Haji Muhidin sudah beli gelang. Jadi tahu kenapa suami Bu Rudi selingkuh. Dan jadi tahu seluk beluk akar masalah percekcokan dalam rumah tangga si Unyil.
 

    Dan kenapa ngegosip dengan kerasnya gak ngegosipin kunci jawaban. Jadinya simbiosis mutualisme. Karena kalau tadi itu simbiosis parasitisme, si pengawas untung menggosip, si murid yang rugi karena konsentrasi terganggu.
 

    Kalau ulangan duduknya pasti sama orang yang baru, gak sekelas. Biasanya sama kakak kelas atau adik kelas. Saya selalu berharap duduknya sama cewek. Hhmm.

    Pengalaman pahit ketika saya kelas 11 semester 2, sebelum ulangan saya kepo. Saya lihat dulu nama yang akan duduk dengan saya. Saya sudah senang saya karena dilihat dari namanya itu nama cewek. Rifansa. Hhmm.
 

    Pas hari H saya masuk ke ruangan tempat saya ulangan. Saya taruh alat tulis di meja. Yang sebangku sama saya belum datang. Sampai-sampai ketika bel saya belum ada orangnya. Saya duduk di bangku karena yang lain juga sudah duduk. Dan Rifansa datang, duduk dengan semena-mena di sebelah saya. Kok ada yang salah? Eh, kok Rifansa cowok? Eh, apa-apaan ini? Hei, hei, ini anak mana? Ini bukan Rifansa ini, Rifansa itu cewek, Rifansa itu nama cewek, harusnya cewek! Kenapa yang keluar cowok! 

    Saya ngelihatin dia terus, merasa dilihatin Rifansa nyengir. “Kang?”
 

    Saya masih shock. Fau, kamu disapa tuh! “Oh, eh. Kamu Rifansa?”
 

    “Iya, Kang, saya Rifansa.”
 

    “Cowok?”
 

    Dia mengangguk.
 

    Saya makin terguncang. Saya pun membayangkan adegan di film yang lagi berusaha menyadarkan kalau ini bukan mimpi buruk. Tangan menampar-nampar pipi. Sadar! Sadar!
 

    “Saya Fauzy.”
 

    Akhirnya pasrah, duduk sama adik kelas cowok. Ya, gitu, deh. Udah gitu aja. Udah. Saya gak macam-macam sama Rifansa ini. Gak ada yang spesial, kok. Udah. Jadi, cerita cuma cukup sampai sini dan postingan sudah panjang.

           (9-,-)9
          
    Blog ini masih akan tetap update selagi saya masih hidup. See ya next postingan!

2 comments:

  1. wahha pembuaan tulisannya asik sih :) Bahas masalah mimpi basah, tapi lucu. Nice

    berasa di php-in gak sih, udah ngarepnya cewek karena dr namanya ke cewek-cewek-an tapi malah cowok haha rasakan kamu nak! rasakaaaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, dipuji Zac Efron.

      Yes, PHP, sangat PHP. Pelajaran: Jangan terlalu pede dan geer.

      Delete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.