pauji's blog

menuju kekerenan yang haqiqi

Wednesday, November 18, 2015

Kuning Hitam Mirip Lebah

Untuk yang belum mandi.

    Kelabunya Minggu sore membuat saya ingin mencari udara segar di luar rumah. Seperti biasa, saya mengambil handuk saya untuk numpang mandi di rumah Emak saya yang ada di kawasan Gang Asem. Tidak jauh dari rumah saya di Gang Kembar, tinggal jalan kaki 2 menit saja langsung sampai. Memang, beberapa waktu terakhir terjadi krisis air sehingga sumur rumah saya kering jadi harus numpang mandi ke Emak. Kalau sekarang sudah gak kering lagi sumurnya, namun, kerapkali saya numpang mandi hanya untuk mencari udara segar atau sekadar ‘say hello’ ke Emak. Emak suka senang katanya kalau sudah ketemu saya. Cucunya yang paling ganteng.

    Setelah mandi dan pamit pulang, saya mampir dulu ke warungnya Mak Enti untuk membeli chicken nudget. Mak Enti tetangga emak selang 2 rumah, sekarang dia buka warung sederhana jajanan anak-anak gitu. Sedang menunggu chicken nudget digoreng oleh Mak Enti, saya melihat Dipa, sepupu saya, sedang memainkan sebuah motor mainan, saya langsung nimbrung. Motor mainannya warna biru, ukurannya kecil, ada orang-orangannya yang sudah diset menempel dengan motor, dimainkan dengan cara menggerak-gerakannya maju sambil diangkat untuk membuat ban belakangnya berputar dan habis itu jika mau motornya bergerak sendiri tinggal taruh di lantai. 

    Saya dan Dipa ketawa-ketawa aja, sebab kalo motornya udah dilepas biar gerak sendiri pergerakkannya suka kurang sempurna, geraknya gak mulus dan lurus. Kadang tiba-tiba motornya berdiri, kayak manusia sedang kencing. Kalau istilah kerennya, standing. Pernah juga motornya miring lalu jatuh dan berputar-putar. Yang aneh adalah ketika motornya berdirinya terbalik, ban depan menjadi penyangga kayak manusia yang berdiri dengan kepala.

    Asyik mengeksplorasi motor mainan membuat kami berdua gak sadar ada anak kecil sedang memperhatikan saya. Anak kecilnya imut, pipinya tembem, memakai baju belang hitam kuning persis lebah. Pas saya liat anak kecil itu, saya langsung ngomong pelan, “Anjrit ada lebah, pait, pait, pait, pait, pait, pait.” 

    Soalnya saya punya suatu trauma terhadap lebah karena waktu SD saya disengat lebah di pinggang, sampai saat ini lukanya gak hilang-hilang. Lukanya itu kayak tato. Warna hitam. Meskipun tersamarkan oleh kulit saya yang gelap tapi lukanya emang benar-benar hitam dan susah dihilangkan. Ibu saya yang paling peduli, dia mencoba berbagai pengobatan untuk menghilangkan luka hitam ini, udah pakai salep, pakai obat yang diminum, sampai obat herbal habatussauda juga dicoba, tetap gak mau hilang sampai sekarang. (Mungkin harus ke klinik Tong Funk?) Makanya, saya gak mau disengat lebah lagi. Sebisa mungkin, cuma satu kali seumur hidup.



    Anak kecil baju lebah itu ngeliatin saya dan Dipa, sepertinya dia juga pengin ikut main deh. Tapi saya gak kenal anak kecil baju lebah itu, kayaknya dia jarang main ke Gang Asem ini. Soalnya kalo anak-anak kecil yang suka pada main di Gang Asem saya kenal, mulai dari Syahrul anak guru ngaji, Fahmi yang suka senyum-senyum malu, Si Danu yang nama lengkapnya Hari Royo Danu Tirto karena lahir tepat di hari lebaran, Ismail yang suka sok pinter, Iksan yang sering dipanggil Icandulit karena tubuhnya yang kecil melulu kayak anak 3 tahun padahal udah kelas satu SD, dan masih banyak lagi. Saya kadang suka main dengan mereka, bukannya saya pedofilia, tapi asyik aja gitu melihat mereka bertingkah apa adanya. Kalo pengin nangis ya nangis, mau ketawa ya ketawa, hidupnya gak ribet. Gak kayak saya yang hidupnya ribet, pengin punya pacar aja susah. Tuh kan, curhat.

    Akhirnya, karena gak tega, saya memberikan motor mainan yang sedang dipegang saya ke anak kecil berbaju lebah itu, “Mau main, Dek? Nih Aa pinjemin..” 

    Anak kecil berbaju lebah mengambil motor mainan, tidak mengucap sepatah katapun.
Tapi tiba-tiba wajahnya didekatkan ke saya, matanya melotot, lalu bilang, “Oon.”

    Jantung saya seperti copot. Oon? 

    Dibilang oon sama anak kecil? Belum kenal sama sekali dengan saya, dia nyebut saya oon? Apa memang benar saya ini oon? Kalo dilihat dari nilai ulangan eksak yang telah saya peroleh selama di kelas IPA SMA, emang sih bisa dibilang begitu. Tapi, kan, apa dia teman saya di sekolah yang tahu nilai ulangan eksak saya? Dia cuma anak kecil yang numpang lewat lalu melihat saya sedang memainkan motor mainan. Apa anak kecil berbaju lebah itu sebenarnya adalah dosen ITB? Rektor UI? Kepala sekolah? Guru fisika? Ini anak siapa sih berani-beraninya nyebut saya oon?

    Saya langsung teringat bagaimana saya mengerjakan soal-soal berbagai ulangan. Ada yang hasil nyontek, ada yang saya kerjain dengan mengarang bebas, mengadu peruntungan dengan metode cap-cip-cup dan ngitung kancing, bahkan openbook tanpa izin guru. Setiap sedang mengerjakan ulangan eksak langsung niat untuk remidial karena memang sulit. 

    Anak kecil berbaju lebah itu beranjak pergi, lalu tak terlihat dari Gang Asem.

    Saya bengong, masih kaget dengan perkataan anak kecil tadi.

    “AA! MOTORNYA DIBAWA KABUR!!” Dipa berteriak.

    Jantung saya, otak saya, tangan saya, adalah organ tubuh saya. Bukan itu maksud saya!! Apa?! Motor mainan yang lucu itu dibawa kabur?!

    Dipa langsung lari mengejar anak kecil berbaju lebah itu, saya menyusul di belakang Dipa. Cepat juga larinya, saya mencari-cari ke belakang Madrasah tempat mengaji takut dia sembunyi disitu, tidak ada. Di kebun singkong pun gak ada. Sampai ke koperasi dekat perbatasan desa Ciomas-Dukuhdalem, gak ada. Saya dan Dipa pun kembali ke Gang Asem dengan tangan hampa. Tapi, pas duduk lagi di teras rumah Dipa motor mainannya ada, tergeletak di lantai.

    “Katanya tadi motornya gak ada?” saya nanya ke Dipa.

    “Mungkin Dipa salah lihat kali, Aa.” Dipa nyengir.

    “Anak kecil tadi siapa sih?”

    “Gak tahu. Baru lihat Dipa juga.”

    Saya makin penasaran. Siapa anak kecil berbaju lebah itu.

    “Aa, chicken nudget-nya udah digoreng tuh, siap dimakan.”

    “Oke. Kasih bumbu balado, Mak.” Kata saya ke Mak Enti.

    Sambil makan chicken nudget dengan Dipa saya berniat dalam hati untuk belajar dengan sungguh-sungguh mulai sekarang. Mungkin anak kecil berbaju lebah itu adalah utusan Allah, atau sebenarnya dia adalah malaikat Jibril yang ingin menyampaikan pesan dari Allah, agar saya menjadi pribadi yang lebih baik. Dari dulu, lebah memang selalu menjadi hal yang tabu yang layak diperbincangkan.
  
(9-,-)9

2 comments:

  1. Hahahaha beneran tuh dibilang anak emak yang paling ganteng? Si emak kamu sogok berapa? *kabur*
    Anyway aku juga kesel sama lebah. Soalnya dia bisa terbang. Masa iya dia nyama-nyamain aku sebagai bidadari magang yang bisa terbang. Huh~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku itu cucu emak paling ganteng, soalnya cucu emak laki-laki cuma ada 2. Aku sama Dipa. Kata emak, Dipa itu gak ganteng, kalo aku ganteng.

      Itu mah bukan lebahnya yang ngeselin, tapi kak Devanya yang nyebut diri sendiri bidadari magang. Tapi lebah emang tetap ngeselin. Bidadari magang lebih ngeselin.

      Delete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email