pauji's blog

menuju kekerenan yang haqiqi

Tuesday, July 14, 2015

Slipas 3 - Korban Batu Akik..

Untuk blog, dan untuk mengurai perjalanan wisata Slipas. 

Biar urut, kamu harus baca dulu postingan ini, "SLIPAS, Event Gak Penting Tahun 2015..", bisa dibilang postingan itu adalah prolognya. Oke?! Klik!
Dan postingan ini, bagian keduanya, "Selamat Tinggal Kasur Kesayangan.." karena sebelum Slipas saya harus siap-siapin ini itu, gitu lho. Klik!
 

    Udah baca prolognya dan bagian keduanya? Silahkan lanjut deh, selamat menikmati..


SLIPAS 3 - Korban Batu Akik


    Barang bawaan saya emang sudah fix di tangan saya ketika saya berjalan menuju sekolah dari kosan Agung bersama 2 cucunguk, Albert dan Agung. Hi hi hi. Satu tas jinjing, tas gendong, dan tas laptop. Tas jinjing isinya mayoritas pakaian, tas gendong mayoritas isinya makanan ringan, dan tas laptop isinya kencing kuda nil yang sudah difermentasi.
 

    Masa harus dikasih tahu juga sih tas laptop isinya apaan.
 

    Karena saya keberatan membawa 3 tas sekaligus saya minta tolong ke Albert dan Albert mengiyakan. Tumben dia lagi baik, biasanya sewot melulu. Nyampe ke sekolah masuk ke ruangan kelas yang sudah disediakan sebagai tempat kumpul, diklasifikasikan menurut busnya. Saya kumpulnya di ruang kelas dekat koperasi sekolah untuk bus 1. Nyimpen barang dan langsung ke masjid karena sudah masuk waktu untuk shalat Maghrib, lalu kembali lagi ke kelas yang dekat koperasi sekolah tadi untuk diberi pengarahan tentang tata tertib Slipas oleh Rani dan Aulia temen sekelas saya, selaku panitia Slipas. Tanya jawab juga, barangkali ada yang belum mengerti mengenai seluk beluk Slipas dan kegiatannya. Sembari sesi pengarahan ini, kami diperbolehkan untuk memakan bekal nasi timbel yang dibawa dari rumah masing-masing.
 

    Albert gak bawa nasi timbel jadi dia ngerecokkin nasi timbel punya saya dan punya Agung, punya Ayat juga direcokkin karena duduknya dekat dengan kami bertiga. Makan bersama kayak gini emang enak, apalagi banyak anak cewek yang ngomongnya sudah kenyang, terus ngasih ayam gorengnya untuk kami berempat. Saya yang paling antusias dalam mengurusi permasalahan ayam goreng ini, biar tambah enak, daging ayam gorengnya saya cubit kecil-kecil lalu membagikannya ke Agung, Albert, dan Ayat, persis petugas kebun binatang yang lagi bagi-bagi pisang ke kawanan monyet. Pastinya saya makan juga daging ayamnya, berarti, saya juga termasuk monyetnya.
 

    Setelah kenyang saya lihat Albert mulai menguap.
 

    “Ngantuk, Bert?” tanya saya.
 

    Albert mengangguk. Saya ejekkin dia, “Belum juga berangkat udah ngantuk aja.” Albert saya ajak ngobrol biar gak ngantuk lagi. Sebenarnya saya juga mengantuk, makanya saya ngajak ngomong Albert. Albert menunjukkan sesuatu dari sakunya, ternyata cincin batu akik.

Batu Akik

 

    “Kamu bawa batu akik?” tanya saya sambil menguap. Hoammzz..
 

    “Gak, saya bawa batu ginjal. Udah liat kan?” sewot Albert.
 

    Saya meringis kesal.
 

    “Bagus kan batu akiknya?” sambil mengelus-elus cincin batu akiknya, diiringi senyum garing. Albert mulai pamer.
 

    “Iya bagus, dielusin melulu dari tadi.” Giliran saya yang sewot.
 

    Albert mendekatkan wajahnya ke saya, lalu ngomong serius, “Eh, aku kasih tahu, kalau kamu pakai batu batu akik, jago aja kalau kamu gak mengelus-elus batu akiknya.”
 

    “Oh, gitu ya.” Saya mengangguk mengiyakan perkataan Albert, tapi bener juga ya, kalau saya lagi minjem batu akik punya dia terus dipakai di jari tangan saya, rasanya itu… pengin ngelusin melulu. Enak banget ya jadi batu akik, gak pernah kurang sentuhan kasih sayang.
 

    “Anter beli minum yuk?” ajak Albert ke saya, mengaburkan lamunan saya tentang batu akik.
 

    Saya menurut, Ayat juga ikut mengekori kami berdua. Sementara Agung menghilang entah kemana setelah makan nasi timbel tadi. Kami bertiga berjalan menuju warung yang berada di luar sekolah, tepatnya di depan sekolah dan harus menyebrangi jalan untuk sampai di warung itu. Dalam perjalanan ke warung, kami bertemu Vicky dan dia menyapa kami, “Kemana?”
 

    “Warung. Mo beli minum.” Jawab Albert.
 

    “Gue ikut.” Vicky pun langsung berjalan bersama saya, Ayat dan Albert. Jadilah kami berempat berjalan beriringan, persis Power Rangers. Kami siap membasmi kejahatan! Kami pasukan batu akik!
 

    Di warung depan sekolah, Albert memesan beberapa kemasan Aqua botol, begitupun dengan Vicky. Saya dan Ayat gak beli karena sudah bawa dari rumah.  Sorry, saya terpaksa menyebutkan nama asli merk, soalnya mau diplesetkan juga gak enak banget; Awua botol, Accua botol, yang terakhir malah absurd banget.. KUA botol. Dikira mau nikah entarnya.. he he he.
 

    “Eh, beli kartu gapleh biar gak bosen di busnya.” Usul Vicky.

Domino / Gapleh

 

    “Oh, iya,” Albert langsung setuju dan bertanya ke tukang warung. “Ada.” Lalu tersenyum puas penuh kemenangan dan memesan satu kotak kartu gapleh seharga tiga ribu. Lumayan murah. By the way, kalian tahu kartu gapleh gak? Yang kartu, terus gambarnya angka-angka kayak dadu gitu. Lumayan terkenal kartu ini di kalangan anak-anak yang hobi nongkrong. Albert tuh paling sering dia nongkrong, bukan sama teman-teman sebaya tapi sama kakeknya. Dari pengaruh kakeknya juga dia jadi suka batu akik, wajah dia saja sudah mirip sama mas-mas penjual batu akik Pasar Baru. Dasar Albert, korban batu akik!

Albert, si Korban Batu Akik.

 

    Selesai melakukan transaksi pembayaran, Kami berempat menuju kelas yang tadi tempat kumpul untuk menyimpan minum yang sudah dibeli dan mengamankan kartu gaplehnya ke dalam tas. 


    Adzan isya pun berkumandang..

***


    Berlanjut ke cerita selanjutnya, yaitu: "Slipas 4 - Jangan Lupa Setor Sebelum Berangkat.."
 

8 comments:

  1. hmm.... korban batu akik. emang susah disembuhin ini fenomena, batu bacan la.. blue sapir la.... saya pun menjadi migren dibuatnya.

    ReplyDelete
  2. GUE-NGAKAK-PAS-BAGIAN-BATU-GINJAL. Paraaaah Albert paraaah bhahahahak

    ReplyDelete
  3. Hahaha, kalau aku batu kali. Wkwkwkw... si albert kece juga ya...

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Akik dimana mana :(
    Albertnya cakep ye :p tapi potonya boleh kali yang gausah lagi meraba sang ketek wkwkwkwk

    ReplyDelete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email