Friday, March 27, 2015

ORANG JELEK KOMENTAR FILM.. (EPISODE 1)

Untuk blog.

    Film-film yang kurang beruntung itu adalah: The Double (2013), Hachiko: A Dog’s Tale (2009), dan Happy Feet 2. Kasihan sekali ketiga film itu dikomentari orang jelek.

THE DOUBLE (2013)


    Seorang karyawan di sebuah kantor bernama Simon James (Jesse Eissenberg) kehilangan jati dirinya ketika ada karyawan baru yang mirip sekali dengan dirinya namun memiliki karakter yang berbeda dengan dirinya bernama James Simon (Jesse Eissenberg).



Serupa, tapi tak sama..

    Bagi saya film ini menampilkan konflik yang luar biasa, yaitu susahnya menjadi diri sendiri. Apalagi menyangkut urusan percintaan, ya, ketika Simon memiliki cewek taksiran di kantornya bernama Hannah (Mia Masikowska) dia kesulitan untuk menjadi dirinya sendiri di hadapan Hannah. Bahkan dia menyebut dirinya pinokio. “Aku boneka kayu, bukan anak sesungguhnya. Dan itu membunuhku.” Jelas sekali Simon yang kesulitan menemukan jati dirinya bahkan ketika dia bertemu dengan James yang mirip dirinya, Simon makin kesulitan menjadi dirinya sendiri sampai ingin menjadi seperti James.



"I don't know how to be myself. It's like I'm permanently outside myself. Like, like you could push your hands straight through me if you wanted to. And I can see the type of man I want to be versus the type of man I actually am and I know that I'm doing it but I'm incapable of what needs to be done. I'm like Pinocchio, a wooden boy. Not a real boy. And it kills me." -Simon James

    Dengan tokoh protagonis dan antagonis yang diperankan oleh satu orang yaitu Jesse Eissenberg terbilang cukup sukses. Hanya saja, tidak masuk akal saja bos di kantornya, atau Hannah yang tidak menyadari perbedaan di antara keduanya. Kadang bikin gregetan ketika si Hannah terlihat bingung dan langsung meng-judge Simon yang jahat. Pengin banget saya teriak, “Itu bukan Simon tapi James!” Terus teriak lagi, “Itu bukan dia! Tapi aku.” Lagunya Judika jadinya.


Hannah, tatapan kamu bagus, tapi kok jomblo?

    Menurut saya wajah Jesse yang memerankan James yang punya karakter suka main perempuan itu gak cocok. Dari film-film sebelumnya yang dibintangi beliau yang pernah saya tonton seperti, Zombieland dan The Social Network, kesan nerd-nya masih kerasa. Gak pantes. Wajahnya terlalu polos untuk main perempuan. Kayak bayi baru lahir. Gak kayak bayi juga, sih.

    Filmnya juga lumayan aneh, suarealis gimana gitu. Pas nonton awalnya, gelap banget sih suasananya? Kayak horror, tadi baca keterangan di situs download film-nya.. komedi. Ini kenapa? Ternyata emang sengaja, jadi dark-comedy gitu. Komedi dalam gelap. Eh.

    Yang paling bikin suasananya makin komedi-gelap itu musiknya, banyak musik klasik yang diputar dan membuat hati dag-dig-dug-der mendengarnya. Selain pas banget sama gambar yang diambil, tempatnya kayak di Amerika atau Rusia klasik, dengan konflik dan ceritanya juga pas. Tapi saya bingung ketika musik yang Jesse beli hadiah buat Hannah kok kayak nada musiknya itu seperti musik bahasa mandarin ya musiknya? Apa perasaan saya aja, berasa gak connect disitunya. Kayak film drama mandarin jadinya.

    Ternyata film ini diangkat dari sebuah karya tulis (gak tau novel/cerpen takut salah nyebut) dari Fyodor Dostoyevsky. Bagi saya film ini lumayan, gak membuat stress juga karena ceritanya yang lumayan gampang dimengerti. Dialog antar tokohnya juga pahamlah, gak terlalu pengin di-wow-in orang, two thumbs buat Richard Aoyade dan Avi Korine. Bisa juga sesekali ketawa gara-gara ketika tokohnya lagi confused banget, tiba-tiba ada yang lucu. 


HACHIKO: A Dog's Tale (2009 - Hachiko Versi Amerika Serikat)


    Bercerita tentang seekor bernama Hachiko, biasa dipanggil Hachi, yang setia banget kepada tuannya Profesor Wilson. Tiap hari main bareng, sampai nganterin tuannya berangkat kerja sampai stasiun. Pas pulang juga Hachi jemput Profesor Wilson di stasiun. Pas tuannya wafat, saking setianya, sampai-sampai Hachi rela menunggu di stasiun sampai 10 tahun.

    Filmnya lumayan sedih, mengangkat tema keloyalan binatang peliharaan terhadap tuannya. Ngenes banget anjingnya, ditinggal mati sama tuannya. Saya jadi ingat lagu Wali yang judulnya “Jomblo Ditinggal Mati (JODI)”, kurang lebih bisa ditafsirkan gambaran film ini dari lagu Wali tersebut. Yang bikin haru yaitu Hachi-nya ngarep banget bisa ketemu Profesor Wilson lagi, padahal sudah mati. Harusnya sebagai anjing dia tahu dong?

    Hachi adalah binatang paling sabar di dunia. Dia bisa melakukan pekerjaan yang paling dibenci oleh saya, yaitu menunggu. 10 tahun menunggu. Hebatnya dia menunggu yang tidak pasti. Saya menunggu yang pasti-pasti juga satu menit udah gak kuat. “Bu, gimana, jadi gak nih dibuatin mie gorengnya?”

    Ibu jawab, “Iya bentar, satu menit, Ibu lagi pemanasan dulu takut kram.”

    “Kelamaan. Aa bikin sendiri aja.”



"Look, you don't have to wait anymore. He's not coming back." -Carl, Penjaga Stasiun ke Hachiko

Hachi lagi nungguin mie goreng


    Menurut saya akting anjing yang memerankan Hachi patut diapresiasi. Anjingnya bisa punya mimik wajah yang menunjukkan ekspresi. Harusnya bisa dapat piala Oscar anjingnya, kategori Best Animal Actor. Tapi gak tahu juga jangan-jangan anjingnya itu cuma animasi.

    Hollywood juga patut diapresiasi, bagaimana mereka bisa mengangkat cerita yang aslinya dari Jepang. Aslinya cerita Hachiko ini dari Jepang, malahan ada versi film Jepangnya yang lebih dulu dibuat, terus Hollywood buat lagi remake-nya. Mereka gak segan dan gak gengsi untuk mengangkat cerita bagus dari versi lain ke versi mereka yang sama bagusnya. Malahan berkat Hollywood ini, anjing Hachiko jadi lebih terkenal lagi.

    Btw, pengin banget punya peliharaan kayak Hachi, nurut banget. Saya punya burung aja dikeluarin dari kandang malah kabur gak betah. Beneran, dulu saya pernah punya burung pleci (kacamata) 3 ekor, lepas semua. Yang satu kabur karena saya kelupaan nutup kandang pas habis mandiin, yang dua mungkin ada yang maling, gak tau lepas sendiri. Pas mau dimasukkin ke dalam rumah, tau-tau gak ada aja, tinggal kandangnya doang. Dimanapun kalian berada saya kangen kamu?

    Jadi curhat.


HAPPY FEET 2


    Masih ingat sama kisah Mumble? Penguin yang suka ngedance, menghentak-hentakkan kaki ke salju, yang kalau nyanyi suaranya kayak suara panci minta ditambal. Ingat? Kalau ingat berarti kamu sudah pernah melihat film Happy Feet yang pertama. Saya sudah beberapa kali lihat film Happy Feet yang pertama. Waktu pertama kali lihat di Trans Tv, terus di RCTI, yang ketiga kalinya liat di Global TV. True story, satu film dalam tiga channel yang berbeda.
   
    Petualangan Mumble (pengisi suara: Elijah Wood) berlanjut, kali ini bersama anaknya Erik (pengisi suara: Ava Acres). Tak seperti di film yang pertama, petualangannya gak jauh-jauh, malahan deket banget, di rumahnya sendiri. Ya, rumah penguin The Emperor (penguin yang tinggi terus nyanyinya bagus) yang sepertinya cekungan, terjebak batuan es yang tinggi banget. Jadinya bangsa penguin The Emperor gak bisa kemana-mana, mereka mulai kelaperan, mau cari ikan gak ada jalan keluar, pokoknya terjebak di tengah-tengah gitu. Untungnya, Mumble yang lagi nyari anaknya yang kabur ke rumah bangsa The Adelies (penguin yang pendek-pendek), gak terjebak di situ dan akhirnya dialah yang memanggil bantuan untuk membebaskan bangsa penguin The Emperor dari batuan es yang tinggi itu.
   
    Di film ini tokoh baru bermunculan. Ada Sven (pengisi suara: Hank Azaria), penguin yang bisa terbang. Kalau kamu nonton kamu bakalan tahu rahasia kenapa Sven bisa terbang. Tonton aja dan lihat sendiri rahasianya. Ada juga anak Mumble, Erik dan dua temannya, Atticus dan Bo. Mereka lucu, terutama Erik yang masih unyu-unyu tapi mikirnya udah jauh banget, “pengin jadi berbeda.” Waktu saya masih kecil paling juga nangis gak bisa cebok kalau abis BAB, minta dicebokkin. Ada juga Brad Pitt dalam wujud udang. Ya, Brad Pitt dikutuk jadi udang, mengisi suara Will The Krill (si Udang), yang sifatnya mirip Erik, pengin jadi berbeda dan ingin jadi penguasa rantai makanan. Dia gak tahan jadi makanan paus terus. Akhirnya memutuskan untuk berpisah dari gerombolan udang dan berpetualang bersama temannya Bill The Krill (pengisi suara: Matt Damon).

    Ada juga Alecia Moore/P!nk yang mengisi suara Gloria, Hugo Weaving yang mengisi suara Noah sang Sesepuh The Emperor, dan Robin Williams yang mengisi suara dua tokoh yaitu Ramon dan Lovelace.

    Film ini mengajak penonton melihat tiap-tiap plot atau latar dengan tokoh yang berbeda-beda, tapi tetap memiliki hubungan dengan cerita. Bisa dibilang, sub-plot-nya banyak banget. Plot yang sangat menghibur saya adalah plot yang menceritakan tentang kehidupan Will dan Bill si Udang, bener-bener lucu dan menggemaskan. Dialog-dialog dalam film ini juga ringan ditambah komedi yang lumayan bisa mengundang tawa.


Ini dia wujud Brad Pitt di film Happy Feet 2
 
"So this is the end. I better make my will. I, Will Williams, do hereby leave everything to my imagination. Oh, no! I have an imagination, the second sign of madness." -Will the Krill

    Pesan moral yang diangkat masih gak beda jauh sama film yang pertama yaitu tentang “berani beda”. Jangan takut memiliki kekurangan dan jadikan kekurangan itu suatu kelebihan. Asik. Tetapi juga politik balas budi yang sangat terasa di film ini.

    Sampai disini dulu ya, orang jelek pamit undur diri.

8 comments:

  1. Happy Feet 2 udah pernah nonton, seru sih.. Jadi penasaran sama film The Double

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nonton kak The Double tapi nontonnya jangan sendirian.. lumayan mencekam suasananya..

      Delete
  2. Gue sampe terharu waktu nonton tu Hachiko . . ternyata bukan cuma GGS aja yang bisa buat gue nangis waktu nonton TV . . *plakk*

    ReplyDelete
  3. kebanyakan tokoh utama memiliki psikis yang demikian ya

    ReplyDelete
  4. Aku ngga kuat nonton Hachiko. Ngga bisa nonton yang sedih-sedih gitu, entar bisa mewek sepanjang minggu. Cemen banget. -_-

    ReplyDelete
  5. Wih bagus tuh kayaknya the double , nanti minta ah ke fauzy:3

    "Kamu akan tahu siapa aku" :v

    ReplyDelete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.