Monday, March 23, 2015

4 TAHAP MENUJU CIREBON..

Untuk blog.

    Dalam rangka hari libur, di hari Sabtu yang indah (bertepatan dengan hari Nyepi), saya pergi ke Cirebon bersama Ibu. Adik saya gak ikut semua, cuma saya dan Ibu. Ciee. Alasan mereka gak ikut beda-beda. Lala lagi mager dan Retno ikutan lomba kontes pramuka. Oleh sebab itu, janganlah ikut pramuka wahai saudaraku sekalian, gak bisa ikut jalan-jalan. Mampus.
   
    Awalnya ketika diajak oleh Ibu saya menolak ikut, males banget. Masa ketika liburan harus mandi dan harus rapi berpakaian untuk berangkat ke Cirebon jam 7 pagi?!!!
   
    Padahal, kalau bukan liburan, saya juga jarang mandi lho! Hebat kan?
   
    Karena mendapat hidayah yang entah dari mana datangnya, saya pengin ikut. Di Cirebon, sinyal internetnya kuat, pasti enak buat browsing dan download film. Karena sinyal, saya bersemangat untuk berangkat. Tapi saya protes karena jam 7 terlalu pagi untuk berangkat ke sana. Setelah proses negosiasi yang sangat berliku-liku kata sepakat pun akhirnya didapat. Saya dan Ibu berangkat ke Cirebon jam 6 pagi.

    Sebagai orang jelek, saya dan Ibu menuju Cirebon melalui 4 tahap yang berbeda. 4 tahap menuju utara. 4 tahap menuju Cirebon. 4 tahap menuju sinyal. Do’akan saya mendapat sinyal yang mau menerima saya apa adanya.


Tahap pertama: NAIK DELMAN..


    Di desa Ciomas masih ada delman yang beroperasi. Tapi cuma satu rute, Ciomas-Pasar Ciputat, Ciawigebang. Tujuan pertama dari rumah yaitu ke desa Pangkalan, karena angkot Ciawigebang-Jalaksana melewati desa Pangkalan dan delman dari Ciomas melewati desa Pangkalan. Pusing ya? Sama saya juga.

    Naik delman itu gak enak, pagi-pagi sudah disuruh melihat pantat kuda. Apalagi suka tiba-tiba aja, CROTT. Kudanya BAB. Jijik. Harusnya, delman itu dilarang sama pemerintah desa Ciomas. Tahinya itu mengotori jalan protokol desa. 


Tahap kedua: NAIK ANGKOT..

   
    Tahap kedua itu membosankan. Naik angkot dari Pangkalan ke Jalaksana. Naik angkot lagi. Tiap berangkat sekolah naik angkot, 2 kali pula. Pulangnya pun sama, 2 kali. Sehari naik angkot kayak minum obat ada resepnya, 4 kali sehari. Seminggu itu 6 hari, naik angkotnya 24 kali. Satu bulan saya naik angkot 108 kali. Betapa nestapanya saya ketika harus naik angkot lagi di hari libur.
   
    Rute jalan yang dilalui angkot ini benar-benar rusak parah. Ibarat kanker, rusaknya sudah stadium 4. Angkotnya harus pelan, terus kalau lewat jalan berlubang angkotnya bergoyang. Saya hampir muntah, tapi saya tahan karena saya duduk di depan seorang wanita, 40 tahun, bawa anak. Dia adalah Ibu saya.

    Jika saya muntah di depan Ibu saya, saya akan dianggap lemah dan pangkat “Kakak Tertinggi” di keluarga Kusnadi (itu nama Bapak saya, bukan nama tetangga) akan jatuh ke tangan jahat Retno. Saya harus kuat.


Tahap ketiga: NAIK ELF.. 

 

Bukan elf yang ini ya. Tapi mobil Isuzu Elf.

 

    ELF, kendaraan dengan sopir yang kampfretnya minta ampun, lebih kamfret daripada mantan. Baru juga masuk pintu mau naik, belum juga duduk sudah dibawa ngebut.

    Tempat duduk di elf yang saya naiki hampir ada yang nempatin semua, kecuali di belakang. Sambil berusaha agar tidak jatuh saya langsung nyerobot pengin buru-buru duduk, bodo amat ada kaki penumpang lain yang saya injak. Saya sudah duduk, damai. Eh ibu belum duduk. Dia juga nyerobot pengin buru-buru duduk dan mencapai kursi belakang. BAK-BIK-BUK-BEK-BOK. Beberapa kali bokong ibu menghajar wajah penumpang. Tontonan yang mengasyikan.

    Sambil duduk di ELF saya menyaksikan pemandangan. Pemandangan Gunung Ciremai, pepohonan, dan papan iklan. Ya, papan iklan. Dari sekian papan iklan yang saya lihat, yang paling mengganggu adalah papan iklan dari Restoran Taman Pringsewu.

    10 km. Di Restoran Taman Pringsewu, Gratis Bibit Pohon.
    9 km. Awas ayam tiren.
    8 km. Menu paket wisata.
    7 km. Ultah bulan ini gratis menu pilih sendiri.
    6 km. 20 toilet bersih.
    5 km. Sop ikan laut.
    4,5 km. Es durian montong.
    4 km. Ruang menyusui. -__-
    3,5 km. Mushola dan perlengkapannya.
    3 km. Sop buntut.
    2 km. Ayam bakar.
    1 km. Ultah dirayakan.

    Itu baru permulaan, lama-lama makin menghantui pikiran. Seram.
   
    900 m. Kami di depan anda.
    800 m. Kami di depan anda.
    Di depan saya cuma ada penumpang lain yang lagi duduk, gak ada restoran.

    700 m. Kanan jalan.
    600 m. Kanan jalan.
    500 m. Kurangi kecepatan. Supir elf masih ngebut, sepertinya dia tidak terpengaruh papan iklan itu.
    400 m. Pelan-pelan. Supir elf tetap ngebut.
    300 m. Pelan-pelan woy! Papan iklannya sampai marah, supir elf memberhentikan elfnya. Ternyata ada penumpang yang turun.   

    200 m. Sign kanan.
    100 m. Sign kanan.
    0 m. Jeng-jeng-jeng-jeng-jeng. Biasa aja. Gede sih restorannya, saya kira bakalan ramai, banyak orang yang makan disitu, ternyata sepi. Papan iklan sebanyak itu ternyata gagal.
    100 m setelah melewati restoran itu, Sign kiri. MASIH ADAAAAAAAAAAAAAAAA!! Saya langsung terjun bebas dari elf, saking frustasi.

    Tapi saya berterima kasih, berkat papan iklan ini saya tidak bosan ketika dalam perjalanan.


Tahap keempat: NAIK BECAK..


    Kendaraan khas Cirebon nih. Tapi abang becaknya sempat membuat saya kesal. Pas tanjakan di rel kereta api, tanjakannya lumayan curam dan jauh. Saya disuruh jalan kaki karena abangnya gak kuat dorong. Ternyata bobot saya dan Ibu lumayan berat. Kirain cetek.

    Setelah diukur pake penggaris butterfly, saya berjalan kaki sejauh 100 m. Melihat saya berjalan, Ibu saya malah ketawa. Dia senang melihat anak kandungnya sendiri menderita. Ibu macam apa.

    Saya sampai dengan selamat tanpa hilang akal. Sinyal disini emang top. Saya internetan terus, mau di kamar tidur, mau di WC, bebas. Emang di Kuningan, harus di ruang tamu.

    Sampai sini dulu ya, orang jelek pamit undur diri.

10 comments:

  1. Apalah baca postingan ini bikin laper.. Tanggung jawab!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru juga diiming-imingi papan iklannya sudah keburu laper..

      Delete
  2. Seru sih, tapi gada fotonya jadi kurang lengkap hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang gak foto-foto. Gak ada objek bagus soalnya.

      Delete
  3. lo orang cirebon ya? baru tau...
    kayaknya lu afal banget kendaraan sama rute-rutenya..
    ini namanya "ada 1000 jalan menuju cirebon."

    naik elf udah paling enak. cipaganti gitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, saya orang Kuningan. Merantau ke Cirebon cuma buat nyari sinyal. Iya dong. Tapi gak seribu juga keleus.

      Enak sih, tapi sopirnya suka ngebut!

      Delete
  4. Lha.. Dulu Mama ku ikut pramuka malah jalan ke mana-mana.. Mulai dari daki gunung sampek berenang di laut.. :D

    Foto-fotonya manaaaaaa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dasar pramuka emang ekskul yang aneh.

      Gak foto-foto kakak.

      Delete
  5. pramuka keren kali mamba .. hehe

    ReplyDelete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email