HOW ARE YOU FEELING?

Untuk blog.

    By the way, saya akan coba memakai “Aku” untuk menggantikan “Saya” di postingan ini. Tenang saja, aku yang nulis kok bukan orang lain. Maksudnya, saya kok yang masih nulis postingannya bukan orang lain. Yang lebih maksudnya lagi, masih tetap Fauzy Husni Mubarok kok yang ngetik dan memposting (ditambah beli kuota internet dan bayar ongkos angkotnya), masih jelek dan bersahaja kok..
    Mulai.. aku ini lagi galau mikirin sesuatu.
    Galau bukan karena jomblo akibat malem minggu kemarin yang tidak dihiasi oleh makhluk Tuhan paling rumit (baca: cewek).
    Aku ini lagi galau karena…. Film “PANIC ROOM” keluaran tahun 2002 arahan sutradara favoritku om ‘Dave Fincher’ gak ada di ganool. Sedih, pengen nonton..
    Bodo amat dan gak penting banget.
    Ini aku gak dibuat-buat ya, beneran galau. Bayangkan aku sedang berkeramas memegang kepala dengan kedua tangan sambil menatap cermin di kamar mandi. Memikirkan sesuatu yang aneh sudah terjadi, sesuatu yang harus dipikirkan kembali, kenapa bisa terjadi, kenapa begitu membingungkan? Kenapa airnya mati? Padahal tinggal bilas doang..


(9-_-)9

Kinds of feeling

    Aku ini galau karena mikirin “mitos feeling” di kehidupan sehari-hari.
    Wah, kelihatannya rada bagus topiknya ya? Ya?
    Seminggu ini, beberapa kejadian yang membawa-bawa ‘feeling’ atau ‘perasaan’ bermunculan layaknya jomblo di setiap musim. Seperti ungkapan aneh yang nge-trend di era ini, ‘baper’ bawa perasaan. Mungkin kalau sedikit kebarat-baratan akan menjadi ‘baling’ bawa feeling’. Feeling. Kata ini yang akan aku gali dan banyak disebut di postingan ini.
    Di mulai di suatu Senin yang pucat, terdengar gembar-gembor besok selasa akan ulangan harian Matematika, aku sudah sangat bingung karena dalam matematika ini, ah sudahlah.. tapi apa yang membuatku semakin bingung adalah temenku si Albert seperti santai-santai saja dan sempat berkata, “feeling gue berkata besok gak akan ulangan,” ketika pulang sekolah. Maksudnya apa coba?
    Pada malam harinya, aku mencoba beberapa soal yang sangat mudah sekali (karena yang susah malah membuat stress) dan membaca beberapa contoh soal. Mencoba untuk menyentuh klausa ‘siap ulangan’. Tapi setelah pagi dan akan berangkat sekolah malah berprinsip minder ‘males sekolah’ kayak anak SD takut disuntik lantaran takut ulangan. Dewasa aja. Siap gak siap harus siap.
    Pas nyampe sekolah, masuk kelas, duduk di meja, mendengarkan obrolan teman-teman, dan sempat dipergoki lagi duduk di atas meja, oleh guru yang lewat ke depan kelas, “Woy kursi diciptakan buat apa?”
    Guru matematika yang biasanya datang tepat waktu menjadi tidak tepat waktu. Hari itu matematika pelajaran pertama, biasanya guru matematikaku yang satu ini tetap datang tepat waktu walaupun masih pagi sekali. Sudah lima belas menit setelah bel jam pertama berbunyi, “ada apa ini?” kataku yang semakin takut. Jika guru matematiku telat datang ketika ulangan bisa menjadi masalah yang berat, pasalnya, waktu mengerjakan soal semakin mengerut.
    “kayaknya gak bakal ulangan deh, udah 15 menit si bapak belum dateng juga.” Kata Ulfa yang duduk di depanku, karena aku menghadap kepadanya. Aslinya dia yang duduk di belakangku kalo lagi belajar.
    Aku menelaah apa yang dikatakannya kali ini, mikir dikit, perkataan mengenai feelingnya bisa jadi 99,99% akurat lantaran otaknya sudah tidak bisa diragukan lagi, dia ini adalah seorang yang menyandang predikat ranking 1 di semester (yang) ganjil kemarin.
    5 menit kemudian, si Bapak guru matematika datang, dan tidak membawa apapun. Ternyata benar, tidak jadi ulangan disebabkan beliau akan mengantar siswa-siswa kece yang akan ikut lomba Olimpiade Matematika. Padahal aku sudah siap ulangan (mungkin)..
    Ternyata sebuah perasaan/feeling akan terjadi sesuatu terkadang menjadi kenyataan dan menjadi sesuatu.
    Seperti sewaktu kelas 10, aku melihat beberapa teman satu sekolah, satu angkatan, dan tidak sama sekali aku kenal dari kelas lain sewaktu upacara dan beberapa waktu di beberapa tempat di sekolah. Aku melihat mereka seolah-olah terasa akrab dan terasa aku dan mereka yang dilihat olehku sudah mengenal satu sama lain. Ini seperti, “Siapa dia? Aku tahu dia.” Entah perasaan apa yang aku rasakan dikala melihat mereka, setelah pergantian kelas, mereka mengisi ruang kelas yang sama dengan yang diisi olehku.


(9-_-)9 
Merasa aneh?

    Aku juga sering merasa ‘feeling yang main’ jikalau membahas pertandingan sepakbola. Apalagi terhadap pertandingan yang bersangkutan dengan tim kesayanganku sejak SD, Liverpool FC. Aku merasakan sesuatu hal yang berasal dari hati, seperti suatu bisikan atau sugesti aneh. Feeling. Ketika aku merasa sedang sangat cinta dan bangga terhadap tim Liverpool, sampai-sampai bela-belain begadang malam untuk menonton, dan melihat hasil akhirnya… tidak sesuai yang diharapkan. Terkadang, kalah dan imbang. Menang, hanya kadang-kadang jikalau aku sedang merasakan semangat di level tertinggi. Dan ketika musim lalu, ketika liga Inggris ditayangkan oleh stasiun televisi yang terpengaruh oleh sinetron walaupun ada big-match yang bisa mengundang rating dan lebih memilih menayangkan sinetronnya, aku merasakan kurang semangat. Liverpool FC jarang sekali mendapat jatah tempat untuk ditayangkan.
    Aku menyambut musim dengan pilu, terlebih kasus Suarez yang hangat diperbincangkan sehingga membuat minder pendukung Liverpool menyambut musim baru Liga Inggris kemarin. Namun, ‘feeling yang main’ terjadi. Feeling buruk malah menghasilkan sesuatu yang bagus. Liverpool tampil mengesankan di awal, hingga puncaknya berhasil meraih peringkat pertama hingga hampir musim kemarin berakhir. Aku pun bersemangat lagi untuk menyaksikan, mengupdate skor, dan lain sebagainya. Yang terjadi lagi, lebih buruk. Liverpool yang hampir sedikit lagi, selangkah lagi menjadi juara untuk pertama kalinya di era premier league harus mengakui kehebatan Manchester City yang akhirnya menjadi juara. Feeling bagus menghasilkan sesuatu yang buruk. Ketika aku mencapai puncak semangat, seketika itu semangatku hilang.
    Hari Jum’at yang digadang-gadang bakal ulangan matematika untuk guru wajib pun harus tidak jadi lagi lantaran di hari sebelumnya, si Albert temanku malah tidak mempotokopi materi padahal dia tidak punya buku dan besok akan ulangan.
    “Tenang aja.” Dia berkata santai.
    Aku berkata, “Yap, feelingmu bagus terus, bro.”
    Dan ketika hari Sabtu yang indah ini, isu ulangan tidak begitu menyengat karena mungkin di hari Selasa ulangan Matematika yang gak jadi akan terjadi hari ini. So what? Biasa saja perasaanku hari ini. Mungkin sudah siap dari Selasa. Tanpa ada gejolak apapun di dalam hati yang mengatakan, ‘akan terjadi sesuatu hari ini’. Inilah hari yang baik. Yes, it’s a good day I guess. Bau harum tanah yang sudah terguyur hujan semalam suntuk pun menyemangatkanku untuk pergi ke sekolah hari ini.
    Aku masukkan beberapa barang penting terhadap tas hitamku:
    Buku-buku, tepak, laptop, charger, dan joystick.
    Ya, aku terkadang bawa joystick ke sekolah untuk menghilangkan kejenuhan ketika habis belajar, bermain PES bersama teman-teman sekelas. Dan hari ini mungkin hari yang tepat untuk membawa joystick, mengingat guru mata pelajaran hari ini terkadang tidak masuk. Mungkin karena hari ini hari Sabtu juga, akhir pekan, OSIS tak akan melakukan razia. Toh, minggu kemarin 10 hari yang lalu, baru diadakan razia, dan minggu ini pasti tidak ada razia, dan “ITS SATURDAY, BRO”. Aku ternyata membawa feeling bagus dan semangat yang sangat tinggi menuju sekolah. Dan aku tidak menyadarinya.
    Aku sampai di depan gerbang sekolahku dan melihat 2 orang siswa kelas 10 yang satu pendek dan yang satu lumayan tinggi sedang berjaga.
    “Ada apa ini?”
    “Ada acara kali ya?”
    “Hari ini bebas mungkin.”
    “Yeah, free class!! Untung bawa joystick.”
    Hatiku berteriak kegirangan ketika melewati 2 orang kelas 10 itu.
    Dan aku menyadari bahwa, “tadi itu OSIS kan?”
    Tak sadar aku telah berjalan jauh dari gerbang tadi dan berada di depan 5 orang OSIS yang sedang berjaga di lorong yang selalu ku lewati menuju kelas. Salah seorang dari mereka adalah ketua OSIS-nya.
    Deg.
    Dan kelihatannya mereka semua sedang nganggur, tidak ada orang yang diperiksa oleh mereka. Mereka sedang menunggu mangsanya yang empuk, dan disinilah seekor rusa terperangkap di depan 5 singa dan tak ada celah untuk kabur selain berpura-pura mati.
    Tak ada makhluk yang menyukai bangkai. Aku pura-pura bego.
    Berjalan melewati mereka, satu orang ku lalui, 2 orang ku lalui. Ya Tuhan, apakah mereka tidak melihatku?
    “David, sini periksa dulu!” ya, salah satu nama panggilanku adalah David.
    “Enggak ada apa-apanya, kok, lagi buru-buru nih mau ulangan.”
    “Periksa dulu.”
    Aku pun mengalah dan menyerahkan tasku yang berisi barang ilegal itu (baca: joystick) di dalamnya, berharap bahwa joystick itu telah berubah menjadi kotoran unta yang dapat menyengat hidung mereka sampai pingsan dan aku bisa berlari ke kelas dengan damai.
    OSIS itu memeriksa, memeriksa, memeriksa dan.. BINGO!!
    “Ya ampun, Ini apa David?” sambil terkaget-kaget…
    “Gak tau…”
    “Ini disita ya?”
    “Terserah..”
    “Coba liat sabuknya?”
    Aku mengangkat baju bagian bawahku, dan..
    “Gak pake sabuk. Kaos kaki?”
    Aku mengangkat celana bagian bawahku, dan..
    “Kaos kakinya pendek banget.”
    “Udah?” aku pun bergegas menuju kelas, dan samar-samar aku mendengar, “Fauzy, bawa joystick, gak pake sabuk, kaos kaki pendek.”
    Shit. Hari itu aku telah masuk dan langsung tembus Peringkat Pertama di Daftar Orang Paling Kriminal di Sekolah.


 (9-_-)9 

Feeling Better?

    Lagi dan lagi,  sebuah feelingku mengenai sesuatu dan meramalkan apa yang akan terjadi buruk sekali. Apa yang harus kubuktikan lagi. Semangatku sedang tinggi, sesuatu yang buruk terjadi. Seketika, semangatku hilang dan masalah datang. Padahal aku sudah mempunyai feeling tidak akan ada razia. Feelingku terkadang bagus mengenai seseorang, melihat orang yang gak kenal, gara-gara feeling bisa dipertemukan. Feeling lagi feeling lagi, seperti di film Silver Lining Playbook, orang bisa mempertaruhkan seluruh harta bendanya hanya demi mengikuti perasaannya. Bayangkan! Hanya demi ngikutin apa kata ‘FEELING’.
    That’s it. Aku tidak kaget, namun aku bingung.
    “Gue gak ada feeling hari ini, tapi jadi gak ulangan Matematika lagi.” Sapa Albert setelah pelajaran matematika berakhir.
    Terserah.. But wait, feeling seorang Albert gak mempan hari itu. Membuatku semakin bingung.
    And I said in my deepest heart, “Apa aku harus percaya terhadap apa yang namanya feeling?”
    How about you?
    Dan pertanyaan dari film Gone Girl ini, mengakhiri semuanya..
    “Apa yang kau pikirkan?”
    “Bagaimana perasaan (feeling) mu?”
    “Apa yang kita lakukan satu sama lain?”
    “Apa yang akan kau lakukan?”

Comments

  1. Hmm ngomongin feeling ya. Dari awal baca tulisannya gue juga udah feeling ini pasti mau curhat. Eh ternyata bener. *diusir empunya blog*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku lagi kesel soalnya, feelingku gak bener-bener..

      Delete
  2. Oh. Tentang perasaan toh. Trus gimana? Uda nembak belom? Eh.

    ReplyDelete
  3. ah, itu kalau nonton bola memang begitu. feeling main melulu..
    feeling mirip-mirip firasat gitu ya..
    btw, jadi kayak alim banget kalau pakai "aku". keren, kayak alit versi pujangga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener. Apalagi kalo nonton bolanya taruhan.
      Emang lagi pengen alim dulu biar dilirik cewek. Aku lebih mirip oralit kali obat mencret.

      Delete
  4. Feeling kadang kuat banget kadang salah sih, film SLP itu download dimane Pit?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Aku dapet dari temen kak, namanya Albert. Mungkin film ini yang membuat dia menjadi kuat feelingnya.

      Delete
  5. Hahaha..
    Ya, namanya juga feeling, kalau ga bener ya salah.
    Salah disaat yang tidak tepat; bikin empet emang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Empet. (Baru denger)

      Empet banget.
      Empet = Nyesek kali ya?

      Delete
  6. Andai kau disini didekatku Pit, kamu bakal tau apa yang aku rasakan
    Pingin copy film................

    ReplyDelete
    Replies
    1. Flashdisknya kirim ke alamat aku, pake JNE..

      Delete
    2. Ide bagus! Masa cuma copy SLP, film bagus lainnya ada?

      Delete
    3. Banyak.. Susah disebutin disini Teh Umi..

      Delete

Post a Comment

Silahkan komentar, bebas, mau saran, pujian, kritik, sampe roasting, bebaslah!