pauji's blog

menuju kekerenan yang haqiqi

Monday, February 9, 2015

DIKEJAR-KEJAR PENGGEMAR

Untuk blog.

    Suatu hari yang tidak tahu tepatnya hari apa, entah Rabu atau Kamis, saya tak tahu dengan pasti. Gerbang sekolah saya lalui seperti biasa.. ya, saya lewat dan gerbang tidak protes sedikitpun. Di dalam tas saya terdapat barang ilegal yang baru saya ambil tadi siang, sehabis beribadah di masjid. Barangnya yang tadi tersembunyi di ruangan yang gelap di ujung sekolah, tersimpan di dalam tempat alat tulis yang dimodifikasi menjadi loker penyimpanan rahasia. Cukup cerdik. Teman saya yang mencarikan barang ilegal ini kesulitan mendapatkannya. Saya mengantungi beberapa poin setelah keluar dari pintu masuk ruangan ini.


    Barang ilegal itu saya pakai lagi di kelas untuk bermain sebuah permainan yang memperebutkan bola yang bundar untuk dimasukkan ke dalam sebuah gawang yang dijaga seorang yang disebut ‘kiper’. Entahlah, permainan itu sepertinya berasal dari negeri sakura Jepang karena di awal ada sebuah tulisan yang sepertinya bahasa Jepang.


    Saya mainkan permainan itu di kelas bersama teman-teman yang sangat bersemangat karena barang ilegal itu telah lama hilang dari kehidupan mereka. Wajah-wajah muram, hari-hari yang kurang terang saat yang lalu tidak ada barang itu berubah menjadi 180 derajat terbalik. Sontak, mereka menyambut hangat kedatangan barang ilegal ini dengan gembira. Langsung saja bermain. Dibuatkan sebuah kompetisi, dengan iming-iming piala yang sebenarnya tidak ada harganya.


    Ketika kami bermain, banyak mata-mata yang menatap sinis terhadap kami. Dari pintu kelas yang terbuka itu, saya melihat mereka melewati kelas kami. Berjalan pelan, menoleh, lalu berjalan pelan, dan menatap. Kecurigaan terlihat dari gerak-gerik mereka. Apa sebenarnya yang ingin mereka lihat? Apa yang sebenarnya ingin mereka ketahui.


    Jawabannya saya ketahui ketika saya melewati gerbang sekolah, saya yang sedang ingin segera lekas sampai rumah. Karena barang ilegal itu ingin saya pakai di rumah. Sekedar untuk melepas penat dan menjadikan skill menjadi lebih baik, agar bisa menatap kompetisi selanjutnya dengan percaya diri, saya tahu.. semua itu tidaklah nyata.


    Saya berjalan melewati sekelompok pedagang yang seperti berperang membawa tank-tank (baca: gerobak) beramunisikan macam-macam makanan, ada cilok, aneka gorengan, seblak, sosis, dan lain-lain. Langit yang muram tak mengurangi semangat mereka untuk membuat perut-perut pelanggan mereka terhibur. Saya lihat juga siswa-siswi dengan wajah lapar. Saya tidak berani mendekati mereka, atau sekedar menyapa “Hai apa kabar?” kepada mereka. Pepatah bilang, “Orang Rese kalo lagi laper.” Saya tak tahu, apakah itu hanya mitos nenek moyang negara Indonesia yang sedang berkembang ini.. well, orang-orang mudah percaya dengan hal-hal semacam itu.


    Sesuatu menyeruak dari balik semak-semak. Tidak. Hanya metafora. Orang itu. Berbadan tegap dan kulitnya agak gelap sedang menatap ke arah saya yang tak sadar saya berjalan mendekatinya. Untungnya dia berada di seberang jalan. Oh tidak, sepertinya itu ketua dari pengurus organisasi intra sekolah, seolah ingin memburu saya karena saya sudah mendapatkan poin tertinggi di daftar kriminal sekolah. Jika dihitung, 70 poin lagi saya keluar dari sekolah. Benar, 30 poin saya dapat ketika tadi keluar dari ruangan itu. Gosip cepat menyebar. Orang-orang peduli terhadap hal yang berbau keburukan orang lain.


    “FAUZY!!!” Dia memanggil saya. Berteriak penuh amarah. “KENAPA KAMU PAKE LAGI BARANG ILEGAL ITU DI SEKOLAH!!!”


    Sudah saya duga. Pengurus organisasi intra sekolah itu sudah menyimpan kecurigaan yang mendalam terhadap diri saya. Mereka tak bisa melihat kegembiraan dan kesenangan yang ditimbulkan dari barang ilegal itu, kami bisa mengusir kegundahan hati, kesedihan akan asmara yang selalu gagal menghantui kehidupan, dan kepusingan karena rumitnya tugas dari sekolah.


    Saya lihat dia mulai melangkahkan kakinya yang kuat itu. Berlari dan mengejar saya. Saya pun berlari ke arah barat untuk menghindar. Saya tak mengira akan terjadi pengejaran yang gila seperti ini. Orang itu masih memanggil-manggil nama saya, meneriaki saya, seolah-olah saya adalah orang yang paling jahat di dunia. Dia memanggil bantuan. Bertambah banyak.


    Saya menoleh untuk melihat keadaan, dan saya lihat mereka ada 8 orang. Dalam pengejaran ini saya masih unggul. Namun, saya menyadari saya harus sembunyi karena tak lama lagi saya akan tertangkap. Mereka berpencar dan bertambah banyak. Saya bersembunyi di balik tembok besar bertuliskan nama sebuah organisasi geng motor. Ah, dasar pekerjaan orang-orang yang tidak punya pekerjaan. Berusaha mencari pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan.
Dan dekat tembok itu ada bank. Bank itu, sepertinya sangat meyakinkan.Saya masuk ke bank yang terlihat memiliki 2 lantai itu. Saya mengira mereka tidak akan menemukan saya di sini.


    Mereka ternyata tidak sebuta yang saya kira, mereka masuk untuk memeriksa ke dalam. Saya pun naik ke lantai dua. Lalu, bersembunyi di balik kursi yang digunakan nasabah untuk duduk. Suara langkah kaki itu membuat saya semakin takut. Takut ketahuan. Otak saya memerintahkan saya untuk melawan.


    Sudah tak tahan lagi, dengan amarah yang membara saya bangun dan mulai berteriak sekeras-kerasnya. Mereka menyusuri anak tangga, berlarian menghampiri saya. Saya banting mereka sekeras-kerasnya, dengan tinju tangan saya yang jarang saya pakai untuk melukai orang. Kaki juga saya gunakan untuk menghalau mereka yang mencoba menghalangi saya untuk keluar. Mereka berjatuhan. Tangga itu menjadi saksi keganasan saya.


    Saya berhasil turun dan menapak di lantai pertama bank itu. Dan saya tak sadar, 2 orang dari belakang saya membekap saya. Dan dunia berubah menjadi hitam. Gelap. Saya mencoba melawan. Tidak, mereka terlalu kuat. Tamat. Saya sudah habis. Saya akan keluar, dan menjadi pecundang. Menjadi seorang yang dilupakan dan tidak pernah diingat oleh siapapun. Menjadi makhluk yang menjijikan yang tiada seorang pun ingin memeluk saya. Saya berontak. Dan juga, saya ingin menyerah.



    Warna hijau adalah warna cat kamar saya. Mengapa saya menjadi teringat kepada kamar saya. Kamar yang selalu hangat. Tak pernah membiarkan pemiliknya kedinginan. Tak pernah membuat pemiliknya takut. Jam dinding warna biru itu masih ada. Di dindingnya juga masih tertempel tulisan-tulisan yang tidak penting: rumus matematika dan rumus fisika. Tubuh saya tenggelam di sebuah kasur yang dilapisi kain berwarna-warni membentuk pola gambar pikachu. Dan suara musik yang sangat mengganggu bergemuruh memekakan telinga, musik yang saya dengar tiap pagi, seolah membangunkan saya dari tidur yang panjang ini. 


    Barang ilegal itu, tersimpan rapi di dalam tas saya yang hitam mirip dengan warna kulit pemiliknya…


(9-_-)9

9 comments:

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email