Thursday, June 26, 2014

Ambil Raporku, Pak!

Untuk blog.

    Halo, sudah lama tidak bertemu dengan tulisan saya ya? Kangenkah? Hehe. Maaf ya, saya jarang nulis lagi. Soalnya, saya malah keasyikan nonton anime. Alur-alur anime berkecamuk di kepala saya ini. Malah nyandu, gitu. Jadi lupa buat nulis lagi. Tapi saya jadi sedikit-sedikit apal bahasa Jepang (baca: negara tempat tinggal Maria Ozawa). Contohnya, saya minta maaf, sumimasen. Bener kan? (bangga.)



Apakah ini rapor? (Bukan, itu RAPTOR!!)

    Waktu hari Sabtu lalu. Sekolah mengadakan acara yang sangat sakral. Pembagian Rapor. Ini acara benar-benar sakral, saking sakralnya diadain sama sekolah setiap satu semester sekali. Lalu, yang membuat ini menjadi sangat fenomenal adalah rapor harus diambil oleh orang tua. Ketika surat undangan untuk orang tua saya dapatkan, banyak pikiran-pikiran aneh di otak saya ini tentang orang tua saya. Pertama, ibu. Dia kalo lagi ngobrol sama saya tentang sekolah biasanya suka mengarah ke hal-hal yang berkaitan sama kepala sekolah saya yang baru, Pak Kasiyo. Contohnya, ketika saya ngomong bahwa besok mau ada praktek renang di sekolah.


    “Bu, besok ada praktek renang. Disuruh bawa bikini, ibu mau minjemin?”
    “Ambil aja di lemari. Eh..” pembicaraan ibu terhenti disitu, saya menatap dia ragu. Dia melanjutkan, “Kalo ketemu kepala sekolah kamu, Pak Kasiyo. Salam gitu ya dari Ibu. Dia itu guru ibu waktu Ibu sekolah.”


    Tuh kan, rempong.


    Terus, ibu juga suka mengingatkan dan memberi petuah yang aneh. 


    Nyam-nyam, seperti biasa saya suka ngobrol sama dia di meja makan. Saya lagi makan sama sayur asem. Si Ibu seperti sedang asyik menggado mentimun dicampur kerupuk.


    “Sekolah kamu gimana? Nilai kamu bagus-bagus kan?” Saya enggak suka pertanyaan ini. Ini menyinggung harkat dan martabat saya sebagai seorang murid yang nilainya emang pas-pasan.


    “Baik, bu. Bagus, kok.” Saya jawab aja sekenanya.
    “Kalo pengen nilai bagus. Ibu tau caranya..” mukanya berubah serius.
    “Belajar kan?”
    “Bukan. Deketin guru-guru kamu. Waktu ibu sekolah dulu, ibu sering terlambat. Suka dimarahin sama guru. Tapi lama-lama ibu malah disuruh ke rumahnya buat bantuin meriksa pekerjaan murid-muridnya.” Layaknya Mario Teguh, tapi dia gadungan. Sama sekali tidak memberikan solusi.


    Ibu selalu mengatakan dua hal itu. Saking seringnya, dua hal itu berubah menjadi pedoman hidup saya. Jika ditambahkan, pedoman hidup saya adalah Al-Qur’an, Al-Hadits, salam kepada kepala sekolah, dan dekati guru. Mantep.


    Saya malah ragu, takutnya kalau nanti dia ke sekolah untuk mengambil rapor, ketika semua orang tua dikumpulkan di lapangan. Dan ketika Pak Kasiyo sedang berpidato di depan mereka, ibu saya berdiri lalu lantang berteriak, “ASSALAMU’ALAIKUM!!!! SALAM KEPADA BAPAK!!!!!!!!!!!” tidak sampai disitu dia melanjutkan. “SAYA MURID BAPAK WAKTU ZAMAN BAPAK BELUM PUNYA ANAK!!” penderitaan saya berlanjut. “SAYA TITIP ANAK SAYA YANG ITEM, DEKIL, JERAWATAN, TAPI GANTENG. X IPA 2!!! FAUZY HUSNI MUBAROK!!”


    Oh tidak. Kalau benar-benar begitu, saya akan mandi kembang untuk buang sial.
    Lalu bapak saya. Dia itu suka bertingkah yang enggak-enggak dan enggak bisa nahan kebiasaannya di rumah. Waktu Bapak nemenin saya seminar motivasi di aula yang diadakan oleh salah satu bimbel.


    Acara demi acara dilalui. Saat sesi hiburan, dia berbisik manis ke telinga saya. “A, bapak keluar dulu.”
    Saya mengangguk tanda mengiyakan. Tapi setelah dia enggak balik-balik, saya bingung. Saya celingak-celinguk cariin dia. Eh dia lagi di belakang ngobrol sama OB yang ngurusin sound system. Begitu dicek, dia lagi ngerokok. Aduh si Bapak, udah tua godain OB. Insyaf dong pak, OB itu pria.


    Dia balik ke kursi yang ditinggalkan dia dan duduk sebelah saya lagi, saya masih penasaran atas kelakuan bapak saya tadi, “Pak tadi ngapain di belakang sama OB, kayak akrab gitu?”
    “Hehehe.. bapak lupa bawa korek buat nyalain rokok. Bapak minta aja ke OB itu.”
    Ya ampun, bapak. Tapi saya masih bersyukur, dia enggak ngelakuin yang aneh-aneh seperti tiba-tiba meneror seisi aula untuk meminjam korek.
    “JANGAN BERGERAK!!!!!!!!!!!! SERAHKAN KOREK API!! JIKA TIDAK, SAYA AKAN MELEDAKKAN AULA INI!!”


    Bener-bener buruk, sadis. Saya mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatif itu dari kepala saya. Bagaimanapun juga dia tetap orang tua saya. Saya serahkan undangan itu kepada Ibu, karena biasanya sih ibu yang suka ngambil rapor. Tapi untuk pembagian rapor kali ini ibu enggak bisa, dia harus ngebagiin rapor juga di SD.
    “Gimana dong, bu? Masa harus ema yang ngambil ke sekolah?”
    “Suruh bapak kamu, dong.”
    Oh iya, saya lupa. Saya kan punya bapak. Babeh tercinte. Saya pun langsung sms ke nomor bapak. Tapi kasihan juga, bapak harus jauh-jauh lagi ke Kuningan dari Cirebon. Naik motor sendirian, malem-malem lagi. Saya takut dia sakit, dan juga takut dia kesurupan. Sampe rumah, bukannya bawa oleh-oleh malah ngebonceng sundel bolong di motornya.



Ini rapor apa bukan? (Itu KOLOR!! Bego lo!)

    Sampai rumah, saya ngomong lagi buat minta bapak ke sekolah ngambil rapor. Dia mengamini. Ibu pun benar-benar mendukung bapak untuk maju ke medan perang. (Duile?) Dia bener-bener menyiapkan segala sesuatu-nya. Jujur, saya sedikit risih dengan tingkah ibu yang menganggap bapak seolah-olah akan nge-blank ketika sampe di sekolah.
    Si bapak bertanya, “A.. kamu kelas apa sih?”
    Bukannya saya yang jawab, Ibu yang jawab, “X IPA 2, pak. Awas entar lupa lho, catet aja biar inget besoknya.”
    Akhirnya saya yang mencatat di kertas buat bapak.
    Setelah itu, Ibu ngebawel lagi, “Eh.. tulis nama kamu juga A. Entar bapak kamu lupa lagi..”
    Akhirnya saya mencatatkan biodata saya lengkap, isinya: nama lengkap, kelas, biasanya nongkrong dimana kalo istirahat, dan game favorit. Untuk perlengkapan bapak bertempur besok.


    Saya melakukan itu semua karena besok saya males buat pergi ke sekolah. Biar bapak saja yang mengambil. Pagi-pagi sekali, bapak sudah mandi. Lalu memakai batik dan celana panjang, sabuknya dikencangkan sampe perutnya yang buncit jadi kurus.
    “Jangan malu-maluin, pak. Hehe.” Itulah pesan yang saya bisikkan kepada bapak yang siap untuk bertempur (baca: mengambil rapor anaknya).


    Di rumah, saya menanti-nanti kedatangan bapak dengan sangat galau. Sampe saya membuat status yang sangat menggemparkan dunia internet internasional, “Semoga bapak tidak pingsan melihat rapor saya.” Dan ternyata di-like oleh 30 orang dan 4 orang berkomentar. Fenomenal.


    Setengah 11 bapak datang, saya harap-harap cemas. Saya takut dia berubah jadi vampir untuk memarah-marahi anaknya yang bodoh ini. Dia menyetandarkan motornya (ini bahasa apa coba?), membuka pintu, dan…..
    “Selamat!!”
    Saya langsung beranjak dan nyamperin bapak, “Apa pak?”
    “Kamu naik kelas.”
    Alhamdulillah, saya lega. Masalahnya, sekolah di SMAN 2 Kuningan itu enggak semudah yang kamu kira. Nilai ulangan harian anjlok melulu, dapet 7 aja sujud syukur. Pas ulangan kenaikan kelas juga kurang meyakinkan, banyak soal yang nebak-nebak unyu untuk soal pilihan ganda. Pola-pola misterius adalah jurus jitu andalan. Saya juga menjadi jago mengarang bebas. Berkat soal-soal essay di ulangan kenaikan kelas.


    Dia ganti baju, dan duduk di meja makan nyamperin saya. “Kata Bu Lina..” saya tahu lanjutannya adalah, “..anak bapak goblok banget, nilai matek di remidial terus. Di kelas kerjanya cuma maen NBA2K.. wi-fian pengennya gratis.. anak bapak cupu..”


    Bapak melanjutkan dengan tatapan ‘tahan kentut mu, nak’, “Kata Bu Lina.. kamu pinter.. tapi, kamu harus lebih giat lagi belajar.. ada nilai yang turun dari semester sebelumnya. Kamu anak pinter..”
    Saya tahu dia hanya menghibur saya, “rankingnya gimana?”
    “Enggak, gurunya gak berani nyebutin ranking. Kamu masih anak bapak kok.”


    Saya menarik napas, lega, saya masih dianggap anak. Lalu, bapak pergi ke dapur. Mungkin bapak lelah. Saya pun melihat nilai-nilai di rapor saya. Rapornya cukup berat, gak seringan rapor SD. Di angkatnya juga pake kelingking, tapi rapor SMA rada berat. Mungkin ini pertanda, semakin dewasa kita semuanya akan menjadi berat. (Mencoba bijak.)


    Nilai rapor saya benar-benar saya syukuri, ada yang bagus dan ada yang anjlok. Apalagi pelajaran eksak anjlok bener dah.


    “FAUZYYYYY!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” aduh bapak saya teriak dari dapur. Kaget banget.
    “Iya, pak?”
    “Korek mana korek?”
    Gubrak. Saya orgasme.

Sunday, June 15, 2014

Pengorbanan Sesungguhnya

Untuk blog.

    Manusia memang tidak sempurna, mereka mencintai namun harus mengambil resiko untuk berkorban. Ketika suatu hubungan harus dipisahkan oleh sebuah kutukan. Dan, dia mereka merelakan sesuatu, ada sakit yang tidak tertahankan yang terkadang membuat seseorang sulit mengendalikan kekuatannya yang besar.

    Itulah yang harus dirasakan oleh Lena Duchannes, tokoh dalam film sekaligus novel Beautiful Creatures karya Kami Garcia dan Margareth Stohl. Saya benar-benar terpukau setelah melihat film ini. Lena ini adalah seorang wanita cantik, memiliki kekuatan yang tak terkendali. Harus jatuh cinta kepada seorang lelaki bernama Ethan Wate yang penasaran akan Lena yang selalu digosipkan yang aneh-aneh oleh warga kota Gatlin yang menganggap semua kesialan di kota itu karena kedatangan dirinya. Lena mengalami depresi ketika dirinya harus menerima kenyataan, bahwa sebentar lagi dia akan berulang tahun yang ke-16. Sebagai seorang caster, di usia ke-16, sifat alaminya akan menentukan dia akan berpihak kemana. Antara kejahatan dan kegelapan. Rasa takut selalu menghantuinya karena dia tidak ingin sifat alaminya mengklaim dirinya untuk pro pada kegelapan. Dia tidak ingin seperti ibunya dan sepupunya, yang setelah berpihak pada kegelapan. Mereka tidak pernah lagi dapat merasakan cinta dan mengerti apa arti cinta.



    Ethan Wate menyemangatinya ketika sebentar lagi dia harus berulang tahun ke-16. Pengklaiman Lena akan terjadi. Lena bukan manusia biasa, dia adalah seorang caster yang memiliki kekuatan magis. Lena yang stress setelah melihat cerita masa lalu dari sebuah liontin, seorang caster yang jatuh cinta pada manusia harus merelakan seseorang yang dicintainya mati untuk mematahkan kutukan di kota Gatlin.

    Ketika mengetahui bahwa kutukan dapat dihilangkan dengan merelakan Ethan, Lena menghilangkan ingatan Ethan untuk dapat menjauhinya. Dia benar-benar sudah merelakannya dan siap untuk menentukan hidupnya.


Aku tak mau menceramahi kalian hari ini.
Sebaliknya, aku hanya ingin bicara pada kalian.
Soal kata yang sudah jarang sekali kita dengar.
Pengorbanan.
 Aku tak menyebutnya kata modern.
Mendengar kata ‘pengorbanan’ orang-orang menjadi takut,
kalau sesuatu akan diambil dari mereka.
Atau harus memberikan sesuatu..
yang mereka tidak bisa hidup tanpa itu.
“Berkorban” bagi mereka,
 berarti “kehilangan”.
Di dunia yang mengatakan kita bisa memiliki semuanya.
Tapi aku percaya pengorbanan sejati..
merupakan kemenangan.
Karena itu membutuhkan kesediaan kita..
menyerahkan sesuatu atau seseorang yang kita cintai..
untuk sesuatu atau seseorang yang lebih kau cintai dari dirimu sendiri.
Aku takkan berbohong pada kalian.
Layaknya judi…,
Pengorbanan takkan menghilangkan rasa sakit karena kehilangan.
Tapi itu kemenangan melawan kegetiran.
Kegetiran yang meredupkan cahaya..
pada semua nilai kebenaran dalam hidup kita.

    Saya tidak tahu, penjelasan diatas, membuat kamu membayangkan sebuah cinta yang dipisahkan oleh sebuah kekuatan, kutukan yang menyebalkan. Masuk ke dalam dirimu, ketika kamu benar-benar merasakan sebuah keindahan yang dibuat oleh sebuah tingkah unik seseorang yang membuatmu tersenyum, sebuah hubungan yang seolah menghidupkan cahaya dalam kegelapan. Dan ketika kutukan itu terhapus, Lena Duchannes, sekali lagi harus merasakan pahit.

Aku bisa mendengar suara itu.
Suara yang membuatku hancur.
Aku menangis karena dia hidup.
Karena dia mati.
Aku hancur, Aku selamat.
Yang kutahu hanya,
Aku yang dulu telah hilang.
Dia benar.
Tak ada bagusnya mencintai Manusia.
Mereka tak bisa bertahan hidup di dunia kami.
Menjauhlah.
Pergilah, Ethan!
Klaim dirimu dengan tantangan,
Harapan.
Cinta.
Amarah.
Dan rasa syukur.
Klaim-lah kebaikan.
Klaim kegelapan.
Klaim semuanya.
Jangan ada yang tertinggal.

    Pamannya meninggal, kutukan berhasil terhapus, menyamar menjadi Ethan dan terbunuh. Lena Duchannes meneteskan air mata lagi.

    Pergi, kutukan itu pergi. Dan orang yang dicintainya telah mati, namun kekasih yang sesungguhnya dia harapkan untuk hidup telah lupa akan semua kenangan yang telah mereka lalui bersama.

    Mereka bertemu untuk pertama kalinya. Seolah tidak akan terjadi apa-apa dan hidup hanya akan berjalan dengan indah. Ketertarikan Ethan kepada Lena karena rasa penasaran yang tergugah dari buku Bukowski.
Beberapa orang tak pernah gila.

Hidup yang sangat mengerikan yang harus mereka jalani.
Orang-orang yang membosankan.
Di seluruh muka bumi.
Memperbanyak orang membosankan.
Sungguh pertunjukan yang mengerikan.
Bumi berkawan dengan mereka.

    Ketika pertama kali Ethan masuk ke rumahnya yang dijauhi oleh seluruh warga kota. Mereka berdua melawan mitos yang beredar. Kencan pertama mereka di bioskop penuh dengan cemoohan dan ejekkan yang membuat Lena kehabisan akal dan tak terkendali. Lena mengeluarkan kekuatannya, namun Ethan memeluknya dan memakaikan jaket itu ke tubuh Lena.



    Jangan berburuk sangka kepada orang lain yang terlihat aneh. Ketika melihat orang pendiam, kamu sebut sombong. Orang lucu dan mencoba membuat orang lain tertawa, kamu kira itu hanya cari sensasi belaka dan hanya ingin perhatian yang lebih. Percayalah, mereka adalah orang baik. Dekati dan pahami.

    Orang yang baik akan berani memberikan pengorbanan kepada orang yang benar-benar dicintainya, entah itu sahabat, kekasih, keluarga, teman, atau kepada seseorang yang baru saja mencopetnya di jalan.



    Hidup adalah pengorbanan dan pengabdian. Kehidupan sejati mengarah pada orang-orang baik.

    “Salam Kuperrrrrr!” :P
   

Thursday, June 12, 2014

Balada Ulangan Kenaikan Kelas

Untuk blog.

    Ulangan berakhir dan saya sangat senang untuk menyambutnya. Setelah ulangan, ada hari dimana siswa bisa datang lebih siang dari waktu masuk biasanya. Jika dalam sehari-harinya berangkat sekolah jam 7, setelah ulangan siswa dapat datang jam 8. Selamat datang Hari Bebas. Tapi, guru-guru tidak ingin muridnya bebas dalam waktu secepat ini. Mereka sudah menyiapkan segudang cara agar murid-murid menderita untuk kesekian kali dalam hidupnya. Ya, mereka menyiapkan senjata terampuh mereka yang membuat kita merasa bahwa kita adalah manusia yang bodoh di dunia. Senjata itu adalah remidial. Murid-murid dipaksa untuk menggunakan otak mereka lagi, pusing-pusingan lagi ngerjain soal eksak. Dan ketika kami sedang mengerjakan dengan soal remidial super kutukupret, gurunya hanya duduk di depan kelas dan memberikan senyum. Senyum senang melihat penderitaan muridnya. “Hehehe,” senyum kuda poni hidung belang.

    Ketika ulangan, jujur satu minggu ketika ulangan itu menyenangkan, walaupun sedikit takut sama pelajaran eksak. Iyalah, saya takut enggak naik kelas. Tapi ya, jangan terlalu dipikirkan, nantinya malah stress. Terus gila, masuk Rumah Sakit Jiwa, hih. Kita capek-capek belajar juga, ujung-ujungnya akan tenggelam dalam lautan remidial yang sangat dalam sedalam Palung Mindanao dan dimakan ikan hiu berwajah spongebob, sadis.


    Fase kegiatan saat ulangan, bangun tidur-ulangan-pulang-tidur siang-baca materi-makan-tidur. Itulah mengapa saya merasa senang, karena hanya disaat ulanganlah saya bisa tidur siang. Saya juga tidak mengerti, saat ulangan saya itu inginnya senang terus. Baru pulang ulangan dari sekolah ngelihat adik nganggur dan lihat FTV saja saya sedih, terus saya suruh dia ke warung beliin Gery Feses. Biar dia ada kerjaannya gitu. Terus ngelihat adik lagi nonton sinetron ganteng-ganteng buaya, remotenya saya ambil. Saya matikan TV-nya. Saya suruh dia ngerjain soal Sistem Persamaan Kuadrat Sepuluh Variabel. Adik saya overdosis, keluar buih-buih dari mulutnya dan tergeletak dengan mata melotot. Melihat itu, saya bahagia.

    Saat ulangan, saya merasa otak saya encer banget. Sering-sering baca materi yang mau diulangankan jadinya terlatih. Dan nikmat terindah adalah ketika saya sudah membaca materi dan sangat hapal materi itu. Soal tentang itu keluar di ulangan, essay lagi. Saya suka senyum-senyum sendiri, sambil mengerjakan. Kakak kelas yang duduk sebelahan sama saya suka curiga kalau saya senyum-senyum, dia takut saya naksir dia.
Lalu saya beralih ke nomor essay selanjutnya, ternyata.. saya tidak hapal materinya, dan saya belum baca sama sekali. Durian montong menimpa kepala saya ketika mendapat soal seperti itu. Soal kayak gitu itu enggak enak, dari kejauhan saja sudah tercium bau remidial di dalamnya. Saya langsung berdiri dan menggebrak meja dengan kepala. Lalu maju ke depan kelas untuk menjambak rambut pengawasnya. Saya buka peci yang dikenakan pengawasnya, dan ternyata pengawasnya botak. Akhirnya saya jambak rambut teman saya, Fathin. Dia meraung-raung juga, bukan karena kesakitan. Dia juga merasakan hal yang sama dengan saya. Kesal karena soalnya susah buat dikerjain. Dia menghampiri meja saya, dan menjambak rambut saya. Kampret.

“:v”
 “De,”
 “Apa, kak?”
 “Ada komodo di muka kamu.”

  Ketika ulangan, sebagai adik kelas, satu ruangan sama kakak kelas kadang bikin gugup. Takut dikira adik kelas yang sok-sok-an. Sok ganteng, sok keren, dan juga sok lucu. Yang saya heran, kenapa kakak kelas suka suudzon gitu ya, apalagi kakak kelas cewek versus adik kelas cewek. Di jalan, ketika berpapasan terus tidak menyapa satu sama lain atau sekedar senyum suka digosipin sama teman-teman satu gengnya, dibilang sombong.

 “Kemarin adik kelas kita si Oti yang super udik itu, pas ketemu gue di jalan gak senyum sama sekali.”
 “Ih, najong tralala banget.”

  Makanya, saya kalau emang berpapasan atau harus berbicara langsung sama kakak kelas sebisa mungkin pasang wajah super imut dengan senyum sesering mungkin. Dan yang terpenting jangan pasang wajah sinis atau cemberut. Entar, dicap sebagai adik kelas sombong.

  Tapi, di ulangan kemarin, kakak kelas yang duduk sebelahan sama saya tidak membuktikan teori yang baru saya kemukakan dengan panjang lebar di atas. Dia perempuan, bertubuh pipih, dan berkembang biak dengan cara membelah diri. Dia tinggal di sungai yang airnya bersih. Sekali airnya kotor dan mengandung bahan kimia berbahaya, dia langsung sakaratul maut. Dan pulang ke surga dengan damai.

    “Maaf, de?”
    “Apa?”
    “Teteh bukan planaria.”

    Sebut saja si Teteh. Yang jelas dia wanita karir, berkarir di sekolah. Si Teteh suka senyum ke saya menandakan dia enggak jaim. Walaupun hari pertama dia kelihatan diem dan serius. Tapi, hari selanjutnya dia membuka bajunya.

    Sorry, saya lagi migrain.

    Dia mulai membuka diri, dia mulai tanya-tanya sesuatu. Dia nanya soal temen perempuan di kelas saya, biasa perempuan suka pengen tau hal-hal tentang perempuan lain. Si Teteh ini juga punya gejala amnesia stadium pertama.

    Kejadiannya, ketika temennya yang duduk di depan dia minjem tipe-x (correction pen) punya si Teteh. Pas udah selesai make, si temannya naro tipe-x nya sedikit dekat dengan papan ulangan yang saya pakai. Teteh ini masih serius mengerjakan soal essaynya. Beberapa menit kemudian, dia mulai salah nulis. Dia menyadari tipe-x berada di dekat saya. Dia mulai lirik-lirik, saya menjadi salah tingkah. Saya nunduk.

    “De, itu tipe-x punya siapa?”
    “Err..” pasang wajah imut, “kan punya teteh. Hehehe.” Ditambah nyengir biar kece.

    Terjadi keheningan, Teteh mengambil tipe-x, “Oh iya. Hehe.” Dia nyengir juga, tapi enggak kece. Kayak guru kalau ngasih remidial.

    Ke sananya si Tetehnya suka senyum-senyum kalau dia berkontak langsung sama saya. Kalau saya ngambilin absennya, dia senyum. Saya minjem tipe-x-nya, dia senyum. Mungkin dia masih geli sama kejadian waktu itu, dan saya menyimpulkan: gejala amnesia stadium dua adalah senyum-senyum gak jelas ke orang lain.

    Bisa karena biasa, saking seringnya disenyumin jadi enggak aneh lagi. Senyumnya juga manis kok, seperti rasa permen gulali. Saya juga jadi pengen sikat gigi terus, soalnya malu giginya kuning. Saking terinspirasi dari gigi saya yang kuning ini, Coldplay sampai menciptakan lagu “Yellow” buat saya.
    Tepuk tangan dulu, dong.


“:v”

    Ulangan boleh jadi unjuk kebolehan. Untuk menunjukkan siapa yang paling pintar dan paling tinggi nilainya. Tapi di ruangan tempat saya ulangan, terjadi sebuah kompetisi yang sangat membuat saya muntah, soalnya otak saya lemot.Kompetisi itu adalah paling cepat ngerjain soal ulangan. Saya lagi serius ngerjain soal dan waktu masih satu jam habisnya. Salah satu teman saya sudah keluar ruangan, dia sudah selesai mengerjakan. Saya mana bisa ngerjain soal begitu. Paling cepat saya mengumpulkan, 15 menit sebelum waktu habis.

    Dan ketika sedang dalam ulangan PAI (Pendidikan Agama Islam), soal dan jawaban dibagikan. Saya langsung mengisi identitas diri. Ketika saya selesai mengisi identitas dan baru akan mulai lompat ke soal. Ada kakak kelas yang sudah ke depan kelas untuk mengumpulkan. Lalu disusul 2 orang kakak kelas lagi.

    “Glek.” Saya menelan ludah. Sepintar itukah anak-anak yang sekolah disini. Seisi kelas tertawa. Saya hanya bisa diam, antara kagum dan tidak mengerti apa yang ditertawakan. Beda tipis.

    Saya lanjut ke soal.

    Ketika ulangan PAI selesai dan keluar ruangan saya coba menyakan ke Adam perihal orang yang tadi bener-bener cepat banget mengerjakan soalnya. Flash juga kalah cepat dalam mengerjakan soal jika duel dengan dia.

    Adam menjawab, “Oh. Itu non-islam.”
    Pantes.

    Dan kompetisi paling cepat menyelesaikan soal membuat saya kewalahan lagi. Ketika ulangan kimia, 30 menit sebelum waktu habis orang-orang satu kelas sudah keluar ruangan semua. Tinggal saya dan satu anak cewek. Ini tekanan batin, membuat saya kebelet pengin cepat-cepat keluar juga. Saya linglung, bingung, dan pusing. Pengen muntah. Essay belum diisi 2 nomer dan soalnya sangat sulit. Dari kepala saya mulai keluar cacing-cacing kremi. Ini gejala kalau otak saya sudah mentok.

    15 menit lagi, pengawasnya mulai beres-beres. Saya mulai panik. Essay-nya satu nomor lagi yang belum dikerjain. Jangan sampai satu nomor terlewatkan untuk tidak diisi.

    Ketika saya dalam puncak kepanikan, si pengawas itu mulai melirik ke arah saya dengan berbinar-binar. Dia berjalan menghampiri saya yang sedang pusing, lalu duduk di tempat duduk yang berada di depan saya. Tersenyum seraya mengatakan, “Udah. Cepetan selesai dong. Jangan sok pinter gitu.”

    Saya hanya bisa nyengir. Pengawasnya malah ngejekkin saya, lagian siapa yang sok pinter. Bukannya bantu saya, minimal ngasih kunci jawabannya lah.

    Setelah diejek begitu saya menulis jawaban seadanya untuk essay yang tinggal satu nomer tadi. Enggak tau bener atau tidak, saya asal mengisi saja. Saya meninggalkan ruangan dengan langkah gontai dan menyapa teman-teman yang berada di luar. Saya melihat ke ruangan lain yang letaknya dekat dengan ruangan tempat saya ulangan, ternyata masih banyak yang belum keluar dan masih berkutat dengan ulangannya.

    Saya hanya bisa mengelus dada, seharusnya saya tidak tergesa-gesa dan termakan ejekkan maut si pengawas itu. Toh, yang lain juga  masih banyak yang belum.

    Itulah, semoga terhibur teman-teman.
   
   

Saturday, June 7, 2014

Tips Menulis "Creative Writing"

Untuk blog.

    Untuk yang suka menulis entah itu menulis cerpen, cerita panjang, fiksi, atau novel merapat yuk saya akan berbagi Tips Menulis dari Buku Creative Writing karya A.S Laksana, saya akan kupas dengan sudut pandang saya. Yuk mulai.


Mari Menulis!

    Pertama, sebagai penulis kamu harus mengakrabkan otak dengan tangan. Mulailah memberi kesempatan kepada tanganmu untuk menulis. Berikan tangan kamu pena atau kesempatan untuk menekan tombol-tombol keyboard komputer. Biarkan tanganmu menjalin sebuah kerja sama dengan otak. Tulis semua yang berkecamuk di dalam pikiran, sebagai sahabat karib otak, tangan akan tahu cara mewujudkan apa yang ada di pikiran kita.

    Hasrat semata tanpa tindakan akan membiakkan penyakit. –William Blake

    Lalu, mulailah menulis sekarang juga. Kamu hanya perlu beraksi, tidak hanya diam saja. Menulislah untuk menghargai dunia penciptaan, yaitu dengan menulis dalam suasana hati apapun. Jangan juga menjadikan tidak ada ide sebagai alasan untuk berhenti menulis. Bisa saja menulis tanpa ide, yang tidak bisa adalah menulis tanpa kemauan. Seorang penulis, sehebat apapun dirinya, tidak hanya melamun dan ongkang angking kaki di teras rumah untuk menemukan ide yang luar biasa. Namun kita harus memancing supaya ide-ide muncul, kita harus menangkap dan mulai mengembangkannya dengan menulisnya. Apa jadinya jika tukang pos berhenti mengantarkan surat hanya karena tidak punya ide? Kamu hanya perlu action and action. Menulis apa saja ketika sedang tidak ada ide bisa membantu memancing ide luar biasa itu muncul. Percayalah.

    Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa. –Edward John Pelps

    Kita perlu juga menulis buruk lho. Maksudnya, kita tidak bisa menghasilkan sebuah tulisan satu kali langsung bagus. Berhenti menulis sambil mengedit. Biasanya mayoritas orang yang hobi menulis suka begini, kepengin satu kali jadi. Tulislah apapun yang ada di pikiran, walaupun jelek dan alurnya loncat-loncat.. kita bisa edit lagi kok. Ingat! Yang penting tulisannya sudah ada, dan kamu enggak bisa edit tulisan yang enggak pernah ada.


Bukunya keren banget men,, si Buku Hitam.. hehe

    Menulis, jika dilakukan secara benar, tak ada bedanya dengan kegiatan bercakap-cakap. –Laurene Stence

    Menulis cepat adalah salah satu skill yang harus dimiliki seorang penulis. Ada fenomena ketika seseorang menulis cerita segalanya tiba-tiba mandek, tidak jelas, dan kehilangan fokus, dan kita pun kehilangan mood untuk melanjutkannya. Disinilah menulis cepat sangat diperlukan. Ketika kamu mempunyai sebuah gagasan cerita untuk ditulis. Tulislah dengan cepat cerita tersebut, jika kamu bisa tulislah sampai akhir. Dengan menulis cepat kamu akan menyelamatkan mood dan waktu sekaligus.

    Menunjukkan kekeliruan adalah satu hal, menyampaikan dengan benar adalah hal lain. –John Locke

    Terkadang dalam menulis, kita lebih banyak menceritakan daripada mempertunjukkan. Lebih banyak mengumbar kata sifat daripada menggambarkannya. Terkadang penggambaran dengan kata sifat cenderung kurang menarik minat pembaca. Nah, kita perlu menambahkan sebuah detail dalam cerita, terutama dialog dan action agar tulisan kita menjadi lebih menarik. Tunjukkan sebuah detail agar pembaca melihat ada perasaan, pikiran, keinginan,  aroma dan sebagainya yang terlibat di dalamnya. Dengan cara ini kita telah mengajak pembaca masuk ke dalam dunia rekaan yang kita sampaikan.

    Penulis yang baik menciptakan dunia rekaanya dan para pembaca dengan senang hati menghanyutkan diri ke dalamnya. –Cyril Connolly

    Deskripsi yang baik membuat cerita “hidup” di benak pembaca. Dapat memikat seluruh indra pembaca, membangkitkan emosi, dan membuat karakter dalam cerita yang dilukiskan menjadi lebih nyata, dan dapat dipercaya. Deskripsi yang baik dapat mengajak pembaca melihat sesuatu, mencium baunya, merasakan persentuhan dengannya, mendengar bunyinya, dan mengecap bagaimana rasanya. Kebanyakan deskripsi hanya menggambarkan dengan apa yang dilihatnya, ini terlalu mainstream dan membosankan, kawan. Pake foto juga langsung kelihatan kalau gitu, gak usah pake tulisan. Tapi tak selamanya deskripsi selalu menggunakan lima indra, tiga atau empat juga sudah memadai. Yang penting kamu gambarkan dengan lebih dari satu indra oke!

    Penyakit yang dialami penulis pemula adalah sering memanjangkan sebuah dialog atau percakapan. Biasanya dipake untuk memperpanjang tulisan dan ketika penulis sudah kehabisan akal pasti ditambahin dialog. Dialog ditulis karena penting, dan untuk memperkuat informasi yang anda tulis. Dengan dialog kamu dapat memperkuat watak, mengembangkan konflik, dan agar si pembaca enggak bosen. Ada saran untuk kamu membuat dialog, yaitu: Dialog yang sama seperti percakapan sehari-hari itu membosankan, yang sudah ada dalam narasi jangan ditambahkan ke dialog, tulislah dialog jika apa yang ingin kamu sampaikan sudah diketahui pembaca atau disampaikan oleh kamu sebelumnya, tulis dialog dengan ringkas, jangan buat pembaca bingung dan tambahkan bahasa tubuh kalau diperlukan. Rajin-rajinlah belajar pada penulis-penulis yang baik, guys.

    “Pembaca yang baik memiliki kekayaan imajinasi, ingatan, kosakata, dan sejumlah kepekaan artistik.” –Vladimir Nakobov

    Penulis yang baik sesungguhnya adalah pembaca yang baik. Bacalah buku-buku dari penulis yang kamu anggap bagus dan cocok dengan gaya menulismu. Bacalah buku apa saja. Referensi itu bebas, bisa juga dengan buku yang kamu anggap kurang asyik. Penulis yang baik tidak meniru ya. Kamu bisa belajar mengembangkan cerita dari mereka, membuat dialog yang bagus, dan juga membuat paragraf pertama dalam cerita yang ingin kamu buat.

    Rajin-rajin juga membuka kamus untuk mengetahui arti kata yang belum kamu ketahui.


A. S. Laksana


     Dan masih banyak lagi kekayaan dalam buku ini. Ada contoh ceritanya di setiap Bab-nya. Masih banyak yang belum dikupas seperti membuat adegan, mengatur plot, mengakrabi karakter dan sebagainya. Quotesnya juga banyak banget saya suka. Beberapa telah saya bagikan di atas kepada kamu-kamu semua, pembaca setia. Terima kasih kepada A.S Laksana, saya mengagumi tulisanmu dan sangat ingin menjadi penulis besar sepertimu. Amin. Terima kasih juga kepada Adam yang telah meminjamkan buku ini. Silahkan kunjungi juga blognya Adam di http://adamadis20.blogspot.com/ .. oke.

    Hanya ini yang dapat saya bagikan dengan kamu-kamu semua. Hanya inti dan yang penting saja menurut saya yang bisa saya tulis. Mohon maaf bila kata-kata yang ada yang salah. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa.

Sumber: CREATIVE WRITING – Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel. Karya A. S.  Laksana. Penerbit Gagasmedia, 2013.