Tuesday, May 27, 2014

Tawa dalam Perpisahan

Untuk blog.

    Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat tinggal kepada Kakak-kakak kelas 12 tahun ajaran 2013-2014 yang pada hari Sabtu tanggal 17 Mei lalu melaksanakan perpisahan. Terima kasih sudah mengajari kami cara bergaul dan bertingkah laku di sekolah dengan baik dan benar. Semoga sukses di luar sana, kehidupan sesungguhnya benar-benar ganas, Kak. Good luck and Congratulations. Semoga berhasil diterima di Perguruan Tinggi yang diinginkan, amin. Saya hanya bisa bantu do’a, karena kalau ngebantuin Kakak-kakak untuk nyari bocoran jawaban SNMPTN saya tidak menyanggupinya. The last word for Kakak-kakak kelas 12 is, “Cieee calon mahasiswa ciee..”


    Tadinya, saya tidak akan pergi ke sekolah di hari Perpisahan tersebut. Para setan-setan sudah menggerayangi sejak malem. Saya dibuat tidur malam oleh mereka. Gara-gara keasyikan main PES bangun jadi kurang seger. Jadinya saya pun kerasukan jin, yang sering saya sebut malas mandi. Saya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan jin itu dari tubuh kerempeng saya ini. Kasihan saya. Sudah kerempeng, males mandi pula. Kasihan banget. Saya teringat kepada teman-teman saya yang menunggu di sekolah sana. Wajah-wajah mereka yang konyol, membuat saya semangat dan jin males mandi pun terusir dengan sendirinya.

    Langkah kaki santai membawa saya ke ruang kelas X IPA 2. Kabut segar menyelimuti wajah lingkungan sekolah. Harum khas dari sebuah perpisahan mulai tercium. OSIS yang emang sangat rajin sudah stand-by menyiapkan acara, mereka gagah sekali, memakai batik trusmi, celana hitam, dan sepatu pantopel. Cocok untuk menjadi karyawan pabrik mobil. Di kelas pun masih sepi, hanya ada 3 orang cewek dan satu cowok, dia adalah Lukman, jendral datang pagi. Saya heran. Padahal, saya datang ke sekolah hari ini ditelat-telatin, tapi masih saja datang paling pagi.

    Tak lama Ijun datang, ramai mulai terdengar. Salah satu siswa yang paling saya pengen jitak di kelas karena tiap pagi pasti selalu menanyakan, “De, bawa laptop gak?” ini adalah sebuah kode untuk bermain game NBA2K di Leptop Kepo milik saya. Saya mengelak dengan halus, “Masih pagi mas, toko roti aja belum buka.” Dia ngerayu sambil maksa, saya sih mengalah aja karena seru juga main NBA2K itu.

    “Kalau kamu gak sekolah, hidup ini garing mungkin!” kata dia sambil bermain NBA2K dengan saya di bangku paling belakang di kelas. Dasar, saya menyadari, ini juga sebuah kode agar saya terus membawa laptop ke sekolah tiap hari, biar nanti anak-anak bisa main NBA2K sampai jari-jarinya keriting.

    Hidup ini penuh dengan kode dan juga konspirasi.

    Dengan saya membawa laptop setiap hari, anak-anak kelas akan malas untuk belajar dan malah bermain NBA2K di laptop saya. Nilai mereka akan anjlok dan saya akan naik menjadi juara kelas. Hahahahahaha. Enggak mungkin juga sih, sayanya juga jarang belajar. -_-

    Kelas mau dipakai, terpaksa saya yang sedang asyik bermain game dengan Ijun harus menunda dulu pertandingan. Kita pindah ke kelas 12 IPA 1, kelasnya kosong lumayan buat main game sepuasnya. Tak lama kemudian, terdengar suara kaki yang berlari. “Huahaahahahaha.” Teman-teman saya yang lain pada datang, Ozan, Fahrul dan Fildzah sambil tertawa kegirangan kayak orang gila.

    Mereka mangap-mangap cari oksigen, ngos-ngosan kayak babi berhidung mampet.
    “Eh brow!! Gue habis liat cewek ganti baju!! HUAHAHAHA!!” teriak Ozan dengan sangat bangga. Sial, beruntung banget ini anak. Pagi-pagi gini udah liat yang kinclong-kinclong gitu.
    “Serius kamu?? Dimana???” saya menyahut penasaran.
    “Iya bener, di IPA 8. Mereka sampai teriak-teriak gitu?” Kata Ozan lagi sambil mengelus-elus dada, tanda dia bertaubat kepada Allah swt. atas dosa yang telah dilakukannya.
    “Terus kelihatan itunya dong?? Gimana bentuknya??” saya makin kepo.
    “Gak jelas, gue gak make kacamata tadi.” Jawab Ozan lagi.
    “Kalo kalian berdua lihat?” tanya Ijun kepada Fachrul dan Fildzah.
    “Enggak.” Sial sia-sia mereka ketahuan mengintip namun mereka tidak melihat secuilpun keindahan yang diciptakan Tuhan untuk kita. Kasihan sekali mereka, kasihan.

    Setelah itu kami pun memutuskan bermain PES. Namun ketika Fathin datang dan ingin menonton Upacara Adat, yang lain pada mengikuti, yang bertahan di kelas ini hanya saya dan Ijun. Dan kami berdua pun bermain NBA2K lagi. Setelah kalah dua pertandingan, Ijun mengajak ke lapangan tempat acara perpisahan berlangsung. Eh, pas ketemu sama anak-anak, Fathin mengejek saya dengan berkata, “Awas ada Maho!!” kampret kamu Fathin, kamu kira tadi saya dengan Ijun habis ngapain, main pedang-pedangan? Saya masih normal kali gini-gini juga. Dasar!

    Acara berlangsung dengan sangat lancar, walaupun saya enggak sempat nonton acara intinya yaitu Upacara Adat. Puisi-puisi perpisahan membuat acara semakin melankolis. Saya juga merasakan atmosfir kesedihan dan kebahagiaan dalam acara tersebut. Saya ingin sekali menitikkan air mata, namun apa daya air matanya sedang habis. Harus diisi ulang ke rental Play Station.

Galauu,,,


    Terasa banget (karena tak terasa sudah sangat mainstream) sudah siang hari. Jatah makanan ringan akhirnya dibagikan. Saya langsung menghabiskannya dengan sangat ganas. Maklum, perut udah keroncongan, sampai mengeluarkan bunyi, “towewewewew.. towewewewew..” Makanan habis, senyum pun menjadi lebar karena sudah kenyang.

    Saya, Ijun, Fachrul, Ozan, Luqman, dan Fathin sedang duduk sembari melepaskan sepatu dan mengobrol di serambi Masjid sekolah. Kami akan melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah kenyang diberi makanan oleh Tuhan, kami sadar, kami harus segera bersyukur ataupun meminta makanan kembali. Hehe. Wajah teman-teman terlihat sangat lesu, lemah, lunglai, pokoknya 5L. Seperti kurang darah. Mungkin mereka mengantuk, atau memikirkan status jomblo mereka yang tak kunjung berubah menjadi berpacaran. Daripada suntuk ngelihat mereka saya memperhatikan game yang dimainkan Ozan di handphone-nya Luqman, 2048. Saya ngerti sedikit jadi saya sok-sokan ngasih intruksi, “Kanan.. kiri.... kanan... atas... kiri... kanan!!!”

    Mendengar saya yang ngasih intruksi Dia juga ikut-ikutan teriak sambil menirukan gaya orang mau memberhentikan angkot. “Kanan, Mang!!”
    “Itu sih nyetop angkot!!” saya menimpali.
    “Kalo gue nyetop angkot kayak gitu.. Mungkin, supirnya nurunin gua di tengah jalan..”
    “Iya, kamu langsung mati ditabrak delman.”
    “HAHAHAHAHA!!” semua terbahak.
    “Kampret kamu!” Fathin menggerutu.



    Setelah shalat Dzuhur, ada yang pulang dan ada yang mengikuti acara perpisahan sampai selesai. Saya memilih untuk pulang. Saya masih aja senyum-senyum memikirkan kejadian tadi. Si Fathin emang jago ngocol. Tertawa bareng teman-teman itu memang bisa membuat beban hidup sedikit tersisihkan. Ah, Canda tawa seperti inilah yang terkadang membuat saya tidak menginginkan adanya perpisahan.
   

Sunday, May 25, 2014

Ferdi's Questions about My School

    Untuk blog.


    Ditulis pada malam jum’at, ditemani hening. Dipadu suara jangkrik dan angin malam yang sesekali terdengar berhembus.

    Pagi-pagi saya buka facebook di hari Senin ada sebuah inbox  facebook dari seorang penggemar blog ini yang saya samarkan namanya, sebut saja dia Titan. Oke ini absurd, saya jadi takut nama samaran ini akan mengundang marah para Titan di anime Singheki no Kyojin (Attack on Titan). Kalau mereka marah, bisa-bisa kabupaten Kuningan diserang oleh mereka. Para penduduk pada dilahap, taman kota hancur, angkot-angkot ditendang. Kalo begitu, bisa-bisa libur panjang terjadi. Asyik! (Kok malah asyik?). Nama samarannya diganti aja ya. Saya mendapat inbox dari seorang bocah bernama Ferdi, ini nama asli, nama lengkapnya Ferdilah Kau Ferdi Dari Hidupku Bawalah Semua Rasa Bersalahmu. Si Ferdi ini adalah seorang anak yang sudah mengikuti UN, dan dia nanya-nanya ke saya tentang sekolah saya. Kayaknya dia berminat untuk masuk ke sekolah saya ini, SMA Negeri 2 Kuningan. Cekidot aja lah, daripada lama, saya akan kupas tuntas pertanyaan dari si Ferdilah Kau ini.

Ceritain dong, Kak di Blog supaya jelas..

    Iya ini mau, saya kan orangnya baik hati pemurah dan penyayang terhadap sesama.

Bagaimana perasaan pertama kali?

    Perasaan saya pertama kali... eh tunggu. Perasaan pertama kali apaan? Enggak jelas nih pertanyaannya. Karena pertanyaan di atas kurang lengkap saya akan menjawabnya dengan random saja. Perasaan pertama kali ke dokter gigi itu campur aduk kayak tong sampah di Indonesia, mau organik atau enggak pasti dalam satu tong sampah, kumpul kebo disana semua. Awalnya takut, karena membayangkan kalau dokter giginya pasti serem. Berkumis, pake kacamata, dan ada tahi lalatnya, serta laki-laki. Eh gak taunya, dokter giginya cewek dan cantik. Senyumnya manis, giginya putih dan rata. Saya jadi jatuh cinta, padahal waktu itu saya baru kelas 4 SD. Mungkin, pada saat itu adalah saat saya jatuh cinta pertama kalinya.

Bagaimana guru-gurunya?

    Nah ini walaupun belum jelas tapi maksudnya saya paham. Guru-guru di sini, di sekolah saya pada hakekatnya, semuanya baik. Sikap kitalah yang menentukan guru tersebut akan baik terhadap kita atau tidak. Dan satu hal lagi, jika yang Ferdi maksudkan adalah bagaimana wajah guru-gurunya, saya hanya menyimpulkan wajah mereka berbeda dan unik semua. Wajah guru-guru saya mewakili mata pelajaran yang mereka ajarkan. Beneran lho, guru Olahraga di sekolah saya enggak ada yang pake kacamata. Dan Guru Matematika enggak ada yang pakai celana training kalo mengajar.

Teman-temannya?

    Asyik, cerdas, lucu, setia kawan, enggak bikin bosen.

Cara belajarnya?

    Kayak belajar pada umumnya aja. Waktunya dikasih materi, guru pasti akan menjelaskan. Waktunya latihan soal, siswa lah yang pastinya akan pusing. Siswa pun dikasih kesempatan untuk menjelaskan di depan kelas dengan presentasi, metode debat, dan juga diskusi.

Senengnya sekolah disini?

    Kesenangan nomer satu adalah karena teman-teman.

Enggak enaknya apa?

    Nah, siswa yang sekolah disini itu uang jajannya banyak. Kalau saya bisa dibilang pas-pasan lah. Karena keinginan saya banyak juga kali ya. Saya kadang minder juga kalo ke kantin gitu. Bukan karena temannya enggak baik-baik lho, tapi harga makanannya yang emang kalo saya jajan itu pasti uang saku langsung ludes. Tapi ya kita sikapi aja dengan positif, saya sering ikut ke kantin dan kalo teman-teman lagi baik suka ditraktir juga.

Ekstrakulikulernya apa aja, kak?

    Di bidang akademis kamu akan disediakan kelompok belajar yang disingkat KB. KB di SMA Negeri 2 Kuningan ini hanya ada satu hari yaitu pada hari Rabu saya yaitu KB Matematika, KB Fisika, KB Kimia, KB Biologi, dan KB Ekonomi. Kamu hanya bisa milih satu aja. Kamu akan diajarkan lebih banyak sesuai minat kamu. Ada juga English Forum, Debat Politik, Karya Ilmiah Remaja, dan SII (Studi Islam Intensif) untuk penyegaran rohaninya.

    Di bidang nonakademis ada banyak, yaitu Pramuka yang menjadi ekskul wajib di kelas X, PMR, PASKIBRA, SMANDARIKAL (SMANDA Rindu Kelestarian Alam) kalau kamu yang suka hal-hal esktrim kayak panjat tebing, terjun dari jurang, masuk ke sini. Terus dari Olahraga ada Basket, Voli, Futsal, Karate, Pencak Silat, dan tenis meja. Dan juga di bidang seni, seperti Sastra, Rupa, Paduan Suara, Wirahma kalau suka nari-nari, Jurnalistik untuk yang suka potret-potret atau buat artikel dan berita, dan Nada yang suka main alat musik. Ada juga Japanese Forum dan Korean Forum untuk yang suka hal-hal yang berkaitan dengan kedua negara tersebut.

Fasilitasnya?

    Fasilitas buat siswanya lengkap kok jangan takut. Untuk belajar ada ruang kelas, 5 laboratorium (bahasa, biologi, fisika, komputer, dan multimedia), Lapangan olahraga yang lumayan luas, dan perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap. Kalau kamu lapar bisa ke koperasi siswa, dan kantin. Makanannya enak-enak coy. WC juga ada, jangan takut kalo kebelet pipis. Kamar mandinya banyak kok. Masjid Al-Ihsan yang menjadi ikon SMANDA kalau terlihat dari depan sekolah dipakai siswa untuk menunaikan ibadah shalat dan acara kegiatan keagamaan lainnya. Dilengkapi dengan WI-FI sekolah dan WI-FI tambahannya juga ada. Dan masih banyak lagi deh.

Ada “Uang Bangunan” gak?

    Ada. Tapi enggak di awal. Pake sistem kredit. Jadi uang bangunannya jadi satu dengan SPP bulanan. Jadi enggak terlalu berat. Kan kalo di awal langsung bayar uang bangunan yang naudzubillah bikin stress para orang tua kita. Kalau ini enggak dicicil tiap bulan. Sempat masuk koran juga karena biaya SPP yang menurut para wartawan terlalu mahal. Enggak kok, itu SPP udah termasuk uang bangunan juga. Jumlahnya juga mungkin masih wajar juga karena fasilitas disini itu bagus banget dan lengkap. Apalagi kalau kamu ikut lomba pasti biaya apapun diakomodir oleh sekolah. Dan untuk jumlah SPP yang saya bayar tiap bulan bisa Ferdi tanyakan ke saya di inbox facebook saja. Enggak enak ngomongin uang di depan umum. Hihihi.

    Jadi, buruan daftar ke SMA Negeri 2 Kuningan untuk pilihan pertama. Jangan ragu, toh kalau gagal masih ada pilihan kedua. Ajak teman-temannya daftar ke sini ya, banyakin ceweknya. Pasti bakal keterima kok, kalian kan pinter-pinter. Alumni MTsN Sindangsari mah tidak diragukan kapasitasnya. Hehe.

    Oke segitu aja yang bisa Kak Fauzy bagikan untuk Ferdi dan juga adik-adik kelas lain yang mungkin minat masuk ke SMA Negeri 2 Kuningan. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam postingan ini. Jangan gugat saya ke jalur hukum, karena saya enggak punya uang buat sewa pengacaranya. Kamu boleh share postingan ini ke akun sosial media kamu, ke teman-teman kamu, atau ke orang tua agar kamu diijinkan masuk ke sini. Untuk Ferdi, kamu janji bakal follow blog saya, silahkan klik join this site di sebelah kiri blog ini. Dan masukkan aku gmail kamu. Dan juga kamu udah saya suruh untuk promoin blog ini ke seluruh siswa MTsN Sindangsari. Hahahaha. *ketawa antagonis*

    Minat ke SMAN 2 Kuningan. Datang aja ke Jalan Aruji Kartawinata no. 16 Kuningan berkode pos 45511. Info lebih lanjut hubungi (0232) 871063. Buruan daftar sekarang! Persaingan makin ketat!



Tuesday, May 20, 2014

Hal Absurd di Film The Conjuring

Untuk blog.

Malam minggu yang menyeramkan.
Sabtu 10 Mei 2014.

    Jantung saya masih berdebar-debar gak karuan. Hantu ‘The Conjuring’ berhasil membuat malam minggu saya lumayan mencekam. Bukannya dihabiskan dengan gebetan atau pacar, malah sama hantu dalam film. Musik yang keluar dari kotak musik yang diputar yang suaranya, “triling-triling” gitu, terngiang-ngiang terus di telinga. Wajah Anabelle juga sulit dilupakan dari pikiran.



    Ini saya tulis langsung loh, sehabis nonton film “The Conjuring” di laptop. Sebenernya filmnya sudah ada sejak lama. Tapi, karena jiwa dan mental saya merasa menolak jadi dipendam terus hasrat ingin menontonnya. Malam minggu ini saya berhasil melawan rasa takut saya. Dan berhasil terselesaikan sampai akhir filmnya. Lega.

    Biar gak hambar nontonnya, saya mau cerita tentang keberhasilan saya menonton film horror untuk yang kedua kalinya di tahun ini. Tepuk tangan dulu dong!! Habis Evil Dead, terbitlah The Conjuring Tapi saya mau cerita tentang kejadian anehnya saja ya. Biar enggak panjang postingannya. Kalau saya ceritakan semua, nanti bisa menyaingi panjangnya jalur Pantai Utara Jawa. Yok simak baik-baik....

    Annabelle sudah dimunculkan di awal film. Sukses bikin kaget, awal-awal sudah seram saja nih. Yang bikin ngeri itu wajah boneka Annabelle ini rusak dan seolah tersenyum kecut. Menghiasi setengah layar laptop saya ini. Grrrr..



    Keluarga yang datang ke rumah angkernya ini sedikit membingungkan. Masa datang ke rumah tua udah jelek gitu pada seneng. Salut. Biasanya sih kalau saya, datang ke rumah yang bagus tapi ada jaring laba-laba satu sudah merasa kalau itu rumah angker. Nah ini, jaring laba-laba dimana terus lantainya rapuh, harus minum susu biar kalsiumnya enggak kurang. Anak-anaknya langsung bermain semacam permainan petak umpet gitu. Yang kalah hompimpah matanya ditutup dan disuruh nyari orang-orang. Petunjuknya Cuma suara tepuk tangan, dan maksimal yang nyari minta tepukannya 3 kali.  Di film Conjuring, hantunya malah ikutan main. Ngegangguin anak-anak yang lagi main. Kasihan, Masa kecil hantunya kurang bahagia. Pukpuk. Turut prihatin.


 
    Hantunya juga ngerepotin banget. Semua jam di rumah angkernya berhenti berputar setiap jam 03.07 pagi.  Dan enggak bergerak lagi sehabis subuh. Setiap hari keluarga itu harus mengganti baterai jam yang ada di rumah itu. Dan jam di rumah itu enggak cuma ada satu, banyak. Kalau dihitung-hitung, satu batu baterai ABC saja 1500, yang ukuran kecil. Kalau satu baterai satu jam dan di rumah itu ada 5 jam. Sudah menghabiskan 7500 dalam satu hari. Satu bulan 225000. Sepertinya profesi utama si hantunya deh. Strategi bisnis yang cerdik. Kebayang, setiap malem nyabutin baterainya, terus dijual ke Tukang Loak yang ada di Pasar Induk Khusus Hantu, tempat dimana barang-barang bekas hantu dijual. Hantunya juga kayak kucing, bikin memar si istri dari keluarga itu di setiap malem. Tiap satu malem satu memar. Malem lagi, memar lagi. Hantunya harus dilaporkan ke polisi nih, ini sudah termasuk kasus kekerasan rumah tangga. Bisa dijerat Pasal 34 KUHP. (Pasalnya ngarang)

Jam berhenti tiap pukul 03.07 dini hari


    Tiap malem, hantunya ngegodain anak cewek dari keluarga tersebut. Si anak cewek lagi enak-enak tidur dan bermimpi sama gebetan, sampe mulutnya ngorok dan ilernya netes, si hantunya jail. Narik kakinya sampai satu meter. Gangguin tidur aja tuh hantunya. Jangan-jangan hantunya nurutin saya lagi, soalnya kalau adik saya lagi tidur saya suka gelitikin kakinya. Kampret tuh hantu, benar-benar ‘based on the true story’. Terinspirasi dari kisah nyata seorang Fauzy Husni Mubarok.

    Si anak cewek yang satunya, adik dari yang suka ditarik kakinya, suka tidur berjalan. Kenapa enggak sekalian tidur berdagang? Sambil menyelam minum air. Tidur bisa, dagangpun bisa. Lumayan, menghasilkan uang. Dari suara kotak musik hantunya sering menampakkan diri. Musiknya, “Triling-triling-triling. Iya gitu, bukan suara terompet tahun baru. Bukan juga dari suara musik penjual es krim Walls lewat. Tapi kalau pakai suara musik penjual es krim Walls boleh juga tuh. Nanti si hantunya berkolaborasi sama si Shadow Masters untuk menyerang Paddle Pop. Bakalan seru filmnya, tapi bakalan ditakutin juga karena anak-anak pasti takut liat darah-darah gitu.

Shadow Masters.. huahahaha!!


    Salut juga sama pawang hantunya. Gemar mengoleksi barang-barang yang berhubungan sama pemujaan setan. Atau yang berhubungan dengan setan-setan gitu. Beda sama saya, gemar mengoleksi barang-barang dari mantan. Walaupun mantan (baca: mantan resmi) saya cuma dua. Tetap saya koleksi karena mantan adalah prestasi. Sstt, jangan-jangan.. setan-setan itu mantannya si pawang hantu. Cieee setan sama pawang hantu juga terjebak nostalgia. Sekali lagi. “Cieeee!!”

    Repot. Kesurupan di negeri barat sana repot sekali teman-teman. Untuk mengusir setan yang merasuki jiwa seseorang saja harus lapor sama Pastur dulu. Terus kalau yang kesurupannya belum dibaptis, harus lapor dulu sama Vatikan. Lama prosesnya. Kalau di Indonesia tinggal dibacain ayat kursi ke orang yang kesurupan. Muka yanng kesurupan, diciprat-cipratin air lalu di pencet jempol kakinya. Beres. Masalah terselesaikan. Cara mengusir setan tiap orang dan tiap negara berbeda, tergantung keyakinan masing-masing. Tapi. Apapun setannya.. minumnya Teh Botol Sosro!

Waktu lagi kesurupan,,


    Terakhir, endingnya bagus. Cukup mengharukan. Nonton film horror itu enaknya pas endingnya. Puas sekaligus lega. Sama seperti jika kamu jadi banci dikejar Satpol PP, dan kamu berhasil lolos. Lega deh pokoknya. Saat nonton sesak napas, pas ending paru-paru udah pindah ke leher. Jangan takut, itu efek nonton film horror. Huehehe.

    Sekian postingan saya kali ini, cukup absurd saya nulisnya. Gapapa, biar suasana enggak tegang terus. Kita sikapi dengan menyenangkan saja. Oke, selamat malam. Semoga mimpi indah. Sebelum tidur, cuci kaki sama tangan dulu. Yang belum sholat, sholat dulu. Baca do’a.
“Bismika allahuma ahya wabismika amuttu”. 
Ayat kursi dan surah Al-Fatihah. Dijamin, Anda akan dilindungi oleh Allat Swt. Dari gangguan syetan yang terkutuk.

    Have a nice dream, guys!

    #AwasKuntiDiatasLemari dan #PocongDiTempatTidurmu
   

Saturday, May 17, 2014

Hal-Hal Yang Sering Dilakukan Setelah Ujian Nasional

Untuk blog.

    Ujian Nasional. Sebuah ajang bergengsi bagi para siswa-siswi di berbagai sekolah di Indonesia. Dari mulai SD, SMP, dan SMA bertarung,  bahkan TK juga katanya juga mau diadakan Ujian Nasional untuk sebuah pertimbangan masuk SD favorit, gile. Banyak siswa yang girang akan Ujian Nasional, ada juga yang gila dan stress menghadapinya. Maka dari itu setelah Ujian Nasional, pelajar merasa bebas. Mereka seolah terbebas dari sebuah rantai, sebuah penjara, sebuah kurungan.

    “Ah, akhirnya Ujian Nasional udahan juga lega gue.”
    Goyang membalas dengan kecut pernyataan Otoy, “Jiaah, kamu sih sama aja. Mau UN atau enggak, pasti enggak belajar..”
    “Hehehe... yang penting kita bisa maen PS lagi nih... bisa tiap hari!”
    Goyang hanya tersenyum melihat tingkah Otoy yang kegirangan karena terbebas dari sebuah skenario pemerintah untuk rakyatnya yang disebut Ujian Nasional. Walaupun dalam hati dia kegirangan, karena Otoy selalu kalah dalam permainan PES di saat main PS di rentalnya Pak Haji.

    Nah, kali ini saya mau cerita atau berbagi, kegiatan apa saja sih yang dilakukan oleh seorang Fauzy Husni Mubarok ketika Ujian Nasional sudah berhasil dilalui dengan sukses ketika kelas 9 di MTs. Kali aja bisa dijadikan rekomendasi kegiatan dan berguna kalau kamu lagi homesick atau enggak tau mau ngapain kalau di rumah.

Sering Main ke Rumah Teman.

    Kegiatan ini adalah yang sering dilakukan ketika sehabis Ujian Nasional. Waktu itu, saya seringnya main ke rumah Fazrin, di desa Lengkong. Saya suka rumahnya, bagus, sejuk, ada lampu tamannya lagi di depan rumahnya. Ditambah udara di sana emang sejuk, di dalem rumahnya juga sejuk, ada kolam buatan dan hidup seekor penyu disana. Indah. Enggak pernah bosen deh, di rumahnya. Bisa internetan, main gitar, dan main petak umpet kayak anak kecil. Saya masih ingat waktu itu saya ngerujak bersama teman-teman di sebuah gubuk buatan di rumah Fazrin. Sedap.

    Lalu ke rumahnya Ajis, ada burung ketilang yang galak banget. Kalau tangan udah nyentuh kandang dipatuk sama burungnya. Di rumahnya Ajis ada sebuah warung, dan ketika saya dan Nur waktu itu main ke rumah dia dikasih minuman segar sari rasa jeruk manis. Sedap lagi.

    Masih banyak sih rumah-rumah temen yang saya singgahi ketika habis Ujian Nasional. Saya ini sangat direkomendasikan bagi kalian yang pecinta kuliner. Soalnya, sering dapet makanan dan minuman gratis. Manfaat lain adalah kalian bisa mempererat silaturrahim dan menambah momen penting dan memperkuat rasa persahabatan diantara kamu-kamu semua.

Pergi Berenang Bersama.

    Di kota saya, berenang di kolam renang umum adalah salah satu momen penting juga. Disamping tiket masuknya cukup nguras uang saku ketika itu, dan jarak kolam renang jauh, bisa menjadi salah satu pelepas lelah karena hanya dilakukan satu tahun sekali. Paling singkat ke kolam renang umum satu semester sekali. Tapi ketika SMA, satu bulan sekali udah renang. Jadi bosen juga.

    Sehabis UN, teman sepermainan saya, yaitu Fazrin, Firyal, Ricky, dan Yov, berenang bareng-bareng ke Sanggariang, sebuah kolam renang umum yang letaknya di dekat pusat kota. Saya girang banget, soalnya waktu dulu pergi ke pusat kabupaten Kuningan itu jarang, maklum anak desa. Dan ke kolam renang Sanggariang ini pun baru sekali. Ndeso banget.

    Walaupun terancam gagal karena mau cuaca mendung, kami tetap semangat. Kami naik angkot dan ngebajak angkot bersama. Supir angkotnya kami turunkan di perempatan jalan. Sadis sekali. Di kolam renang cuma kecepuk-kecepuk di kolam khusus anak dengan kedalaman lutut seorang bapak-bapak. Lalu pindah menuju kolam yang sedikit dalam, kami balap renang. Yov Cuma diam saja di pinggir, dia enggak bisa berenang. Semoga dia sudah bisa berenang sekarang. Amiin.

    Di kolam renang ini, kami saling memperkuat komitmen untuk tetap saling menjaga status kami sebagai jomblo akut. Betapa indahnya hari itu, ketika kami melupakan semua keresahan ketika menghitung soal matematika di saat Ujian Nasional, dan tidak ingat akan kejadian apa yang akan menghadapi kami selanjutnya. Percayalah,  di dunia ini tidak ada sepatah kata pun yang mampu melukiskan indahnya persahabatan.

Berenang bersama Buaya


Main PS dan Nongkrongin Warnet.

    Suasana di rental PS adalah suasana yang kesal untuk digambarkan. Saya dipaksa untuk mengantri dan berebut untuk duluan bermain. Ketika sudah memegang stick dan bermain, pasti ada saja yang mengejek ketika kalah dalam pertandingan Winning Eleven. Apalagi ketika seisi rental, malah mendukung teman kita.

    “Fauzy, kalah!!”
    “Yogi menang!!”
    “Ayo Yogi, si Fauzy pemainnya turun semua tuh fisiknya.”
    “Yogi ayo masukkin!!” oke yang ini sedikit erotis, pedofil out.

    Lalu ketika kalah si Yogi suka memasang alesan yang tidak logis, mulai dari stick-nya error. Wasitnya pake baju pink, atau saya yang mainnya terlalu kasar. Dan ketika saya menang, semua yang ada disitu pura-pura enggak melihat dan mendengar. Kampret.

    Saya juga sering ke warnet, salah satu hobi saya yang lain. Warnet itu sumber inspirasi, apalagi kalau ada cewek cantik. Entah itu penjaga warnetnya cantik, atau yang pakai komputer di sebelah saya cantik. Pokoknya pelepas stress setelah UN banget.



Ke Sekolah Cuma Mau Numpang Main Basket.

    Sebelum masuk SMAN 2 Kuningan yang katanya prestasi basketnya bagus, saya jadi sering ke sekolah buat numpang main basket. Hasilnya? Dribble dasar dan shooting dasar sih dapet. Level lomba, enggak deh kayaknya.

Ngurusin Berkas-Berkas Persyaratan Buat Pendaftaran ke SMA.

    “Fau, ke sekolah! Kamu harus tanda tangan! Cepetan enggak bisa diundur!!”
    “Fau ke sekolah!! Dibutuhin foto terbaru buat daftar nih!!”
    Berangkat ke sekolahnya lama, maklum rumah dengan sekolah jaraknya sangat jauh, lewati gunung langkahi lembah. Tapi pas udah nyampe, ngurusin persyaratan dan berkasnya enggak nyampe satu menit. Langsung selesai, sisanya, ya main basket lagi. hehe.

Ngemie Ayam Bareng, Ngebakso bareng.

Dan Kegiatan Lainnya.

    Nah, itulah yang saya lakukan ketika habis Ujian Nasional. Pokoknya habiskan dengan kegiatan yang bisa membuat kamu senang dan enggak stress. Jangan di rumah terus, enggak enak tua di rumah. Banyakin kegiatan dengan sahabat, teman sepermainan, teman-teman satu angkatan, juga sering-sering ajakkin gurunya main. Karena setelah lulus, kamu bakalan susah untuk bertemu mereka lagi.

    Sekian, dan ceritakan dong kegiatan apa yang sering kamu lakukan sehabis Ujian Nasional di kotak komentar. Berbagi itu lebih indah kawan.
   

Thursday, May 15, 2014

Parabola Yang Disuruh Ulangan PKn..

Untuk blog.
Ditulis pada tanggal 13 Mei 2014.

Canggih abis!

    Hari minggu kemarin lusa adalah hari yang pantas dicatat dalam sejarah kehidupan saya ini, pasalnya hari itu adalah pemasangan parabola di rumah saya. Penderitaan saya cukup lama untuk mengakhiri puasa hiburan yang bila datang ke rumah, satu-satunya hiburan adalah laptop saya. Di laptop pun terbatas, hanya video-video yang saya download dari youtube atau semacamnya. Kalau lagi bosen sama si Lepo (Leptop Kepo, nama yang saya berikan untuk laptop yang hina ini), saya ngejailin adik saya yang lagi pura-pura sibuk belajar karena mau Ujian Nasional. Menggelitik pergelangan kakinya adalah hal yang sering dilakukan, dia suka ngamuk kalo saya gituin. Hehehe. Yang sangat disayangkan adalah channel Kompas TV enggak ketangkep di parabola. Nasib-nasib. Padahal dari youtube suka download acara #Kepo, Stand Up Comedy 4, Socmed juga dari Kompas TV channel tentunya. Saya pengen nonton langsung dari channel televisinya, teman. Tapi harusnya saya bersyukur, itu juga pemberian dari orang tua, terutama Ibu yang emang ngebet banget pengen beli parabola akibat rindu akan ceramah Ustadz Maulana di Trans TV, “Jama.. aahhh!! Ooooo.. Jama.. aaahhhh!! Alhamdu... lillah..” terimakasih Ya Allah engkau telah berikan hamba parabola. Walaupun Kompas TV masih enggak ada, tapi channelnya banyak. Sampe bingung mau liat apa. Hehe.

Bengek!


    Selasa, Sports Day. Bagian lari. Banyak yang bengek. “Uhuk-uhuk.. uhuk!!” begitulah bunyinya, wajahnya semrawut, itulah Guru Olahraga.
    “Fauzy! Sini kamu!” korannya dilemparkan ketika menyebut nama saya.
    “Apa pak?”
    “Batuk Fauzy?” dengan menirukan gaya Andre Taulani di iklan obat batuk. Kirain mau memenggal leher saya karena saya ngatain wajahnya semrawut.
    “Enggak pak. Saya cuma TBC.”

    Sehabis shalat Dhuha, beredar kabar bahwa pelajaran fisika hari ini akan membahas materi Alat Optik. Dan Ibu Gurunya yang super sekali tegas akan memberikan pre-test dulu sebelum materi diberikan. Untuk mengetes kemampuan belajar kami dari hasil membaca. Saya adalah orang yang selalu telat untuk mempersiapkan sesuatu untuk segala macam test maupun ulangan. Dan info selalu saya dapatkan sangat terlambat. Walhasil setelah mendapat kabar itu, saya langsung menuju kelas karena pelajaran akan dimulai 10 menit lagi.

    Materi terbaca sedikit. Yang penting ada materi yang nyangkut. Bekal terpenuhi, sedikit. Saya siap pre-test fisika.

    30 menit kemudian. Guru PKn masuk. Dia memberikan ulangan tentang Lembaga Pemerintahan di Indonesia yang sudah dijanjikan kemarin, “Besok atau rabu ulangan ya kalau ada jam pelajaran yang kosong.” Kata-kata itu teringat kembali, dan saya belum mempersiapkan apa-apa.

Anji*g belum ngapalin!


    Materi Alat Optik akankah ada kesinambungan dengan Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif? Pre-test Fisika tidak jadi dan malah ulangan harian PKn. Benar kata Charly ST12 di lagunya mengatakan,

Dunia pasti berputar.”

    Minggu sore memakai motor matic Yamaha Mio milik teman saya yang biasa dipanggil Otoy namun bernama asli Aldi (jauh banget ya?) untuk mengambil jersey ke coach Dedi. Jangan protes! Nama panggilan selalu tidak bisa ditebak. Seperti kaum cewek. Maunya apa sih, saya nanya lagi ngapain. Malah dijawab, lagi datang bulan. Saya kan nanya serius dijawabnya malah becanda. Motor maticnya Otoy ini sangat susah untuk dikendarai. Saya terbiasa mengendarai motor yang ada giginya, sekarang membawa motor yang enggak ada giginya. Otomatis saya enggak bisa ngunyah makanan pake motor matic, sebab enggak punya gigi. Berarti sebutan lain motor matic adalah motor ompong. Hehe.

    Motor Otoy berhasil membawa saya menuju rumah Coach Dedi, walaupun di jalan kami sudah tabrakan dengan motor lain sekitar 26 kali dan 3 kali menabrak pagar rumah orang. Ditemani oleh Dhika alias Goyang saya bertamu ke rumah coach Dedi yang angker. Setelah 3 bulan kempot-kempotan nahan jajan, saya berhasil melunasi jersey yang sudah diidam-idamkan dari sejak saya masih berbentuk sperma dalam testis Bapak. Ngomong-ngomong, saya masuk berita loh. Jadi headline.

Sumber: Daily Planet

       Sebagai pemain bola yang masih amatir, saya merasa bangga. Mari kita teriakkan, “Jama.. aahhh!! Ooooo.. Jama.. aaahhhh!! Alhamdu... lillah..”

    Terima kasih, Ya Allah....
    Terima kasih, Ibu.
    Terima kasih, Bapak.
    Terima kasih, Otoy dan Goyang.
    Terima kasih, semuanyaaa...

Thursday, May 8, 2014

Facewash Belanda

Untuk blog.

Ditulis di Minggu malam yang sejuk, ditemani krik-krik jangkrik, dekat pintu depan rumah yang dibiarkan terbuka agar angin masuk mengusir kegerahan, dan sembari mendengarkan lagu-lagu versi akustik-nya Imagine Dragons dari album Night Vision.
Minggu,  4 Mei 2014.

Kinderdijk, Belanda, Eropa, Bumi, , Tata Surya, Bimasakti

    Ah, bahasa saya sudah seperti novelis romance ya? Maklum, sedikit terpengaruh juga karena sebelum nulis ini saya membaca dulu novel “Holland-One Fine Day in Leiden” karya Feba Sukmana. Walaupun belum terselesaikan semuanya, baru setengahnya saya baca. Tetapi saya ingin berbagi, sedikit. Hehe. Novel ini mengajak kita untuk berimajinasi, seolah-olah saya berada di Belanda. Namun dengan cara yang santai, mengajak pembaca menjelajahi tempat-tempat di Belanda. Seperti Universitas Leiden, Bagel & Beins kafe di kota Leiden, Rumah Kubus, desa Kinderdijk yang banyak kincir anginnya, dan juga Rotterdam. Mungkin masih banyak tempat-tempat lain di Belanda yang akan diceritakan di halaman-halaman berikutnya di novel ini. Perjalanan dan keadaan tempat-tempat itu pun disajikan oleh Feba Sukmana secara sejuk dan fresh. Tidak seperti novel “Da Vinci Code” yang mengangkat konsep traveling juga ke tempat-tempat di France dan Inggris, namun dengan cara thriller dan menegangkan. Pokoknya coba baca. Malah jadi promo. Oh yeah, big thanks buat Adam, ketua kelas di X IPA 2, yang meminjamkan novel ini kepada saya yang teraniaya ini. Dia juga hobi menulis, dan semoga kamu kelak menjadi pengusaha rental buku paling besar di Indonesia penulis best-seller mengikuti jejak saya, amin. Woalah. Kalian pengen juga minjem ke dia? Kunjungi nih blognya Adam, http://adamadis20.blogspot.com/ . Tapi siapin sapu tangan buat baca-baca postingannya. Dijamin galau abis. Saya enggak mau promoin twitter dia, soalnya followersnya lebih banyak dari saya.
One Fine Day in Leiden - Feba Sukmana

    Saya juga masih bingung, gimana caranya ganti header buat blog ini. Pengen banget pasang header yang ngeklop banget. Saya udah pake cara yang otomatis dari tata letak di dasbor blogger-nya itu malah jadi kelihatan jelek. Nanya jamban (jamban blogger maksudnya) dan searching, jawaban dari blog-blog lain kebanyakan dari tata letak. Edit aja HTML-nya. Tadi siang, Satu jam setengah saya di warnet cuma ngotak-ngatik HTML tapi enggak berhasil-berhasil. Lama-lama bingung sendiri. Terus galau liatin monitor isinya kode-kode gak jelas. Bola mata perlahan-lahan keluar disertai cairan ingus dari hidung yang ikut-ikutan minggat dari hidung. Bulu-bulu mulai berdiri dan terbang jauh ke bulan. Jadinya malah bikin laman buat Social Media. Itu pun masih dalam tahap rancangan. Tunggu ya, nanti hasilnya publish dalam waktu dekat. Kamu bisa ngemodusin aku deh lewat SocMed. Iya kamu! I Love You! #terpengaruhDodit

    Di parkiran warnet, saya menunggangi motor saya yang kepanasan karena mantannya matahari berdiri tegas di atas dia. Pandangan saya tertuju kepada kaca sepion motor. Memberikan penampakan wajah imut nan ganteng, dibalut kulit yang blaster berminyak, namun berjerawat. “Berilah aku facewash! Berilah aku facewash!” seolah-olah wajah berteriak meminta haknya yang belum dipenuhi. Saya pun langsung bergegas menuju swalayan untuk membeli Tango si Wafer renyah. (Loh kok gak nyambung?)

    Swalayan Aneka Sandang menjadi tempat saya berburu facewash untuk wajah yang kesusahan milik saya ini. Hhhm, tas mau dikemanain yah? Masa mau dipake? Penitipan barang mana? Kayaknya enggak ada. “Pake aja deh,” saya bergumam dalem hati, memutuskan untuk memakai saja tas saya ke dalam yang dari rumah telah bergelantung di punggung saya. Cuma sebentar ini. Enggak akan menimbulkan kecurigaan sepertinya.

    Di bagian Alat tulis, saya tidak menemukan facewash. Di bagian elektronik, apalagi. Adanya cuma setrikaan, mau ngebersihin muka pake ini emang muka saya kebaya antik milik Ibu, tiap mau kondangan disetrika dulu. Sampai pada akhirnya saya melihat banyak sekali tumpukan kolor. Saya teringat satu hal di buku Raditya Dika yang mengatakan satu fakta terbesar yang berhasil ditemukan di dunia, bahwa ‘Kolor dapat menyembuhkan wajah dari jerawat.’ Hampir tergoda, saya pun beranjak meninggalkan kolor-kolor itu. Saya menoleh lagi, namun kolor-kolor itu tetap diam. Menunjukkan bahwa kolor-kolor disana berperilaku tidak baik. Mereka jutek. Kolor tidak berhasil mengalihkan dunia saya.


    Tak lama kemudian, padahal udah lama banget. Akhirnya, saya menemukan tempat facewash berada. Namun, ketika saya sedang memilih-milih facewash yang ada. Terlihat seorang petugas swalayan berpakaian kemeja batik, parfumnya juga menyengat, berambut keriting berjalan ke arah saya dan sok akrab menegur saya. “De, tasnya mau di titipin sendiri atau saya yang titipin?” dengan wajah polos, unyu, campur curiga, digaremin dan enggak pake daun bawang.

    Jerawat di hidungnya seolah memberitahukan bahwa dia curiga saya mau nyolong barang-barang yang ada di swalayan itu. Ya, saya sih terima aja. Salah saya pake tas. Dan hidup saya memang selalu dicurigai. Tiap pagi-pagi, saya naik angkot, supir-supir angkot nakal selalu mencurigai saya. Mereka suka kepo, dan bertanya dengan wajah anggota FBI pengen pipis. Interogasinya selalu sama, supir-supir angkot yang ada selalu menanyakan, “Sekolah di mana?”

    Ketika petugas tadi menanyakan hal itu, saya hanya langsung mengambil facewash dan Tango si Wafer renyah yang sudah diidam-idamkan dan bergegas menuju kasir. Jangan tanya saya ngutang atau bayar pakai apa, karena yang terpenting adalah saya bisa kabur dari petugas swalayan tadi yang berhasil membuat saya tengsin.

    Pas di rumah, ada saudara dari Cirebon datang bertamu. Abah Ucup dengan istri, dan juga anaknya yang masih berumur 4 tahun. Saya masuk ke rumah, lalu menyapa mereka dengan berjabat tangan, kasihan mereka tangan saya habis megang kolor di swalayan tadi. Bakteri tertular semua ke mereka, yeah! Karena mereka orang Cirebon, pasti bahasa mereka juga sering memakai bahasa Jawa. Dan saya mendengar bahasa Jawa keluar dari mulut istri Abah Ucup yang diberikan spesial untuk saya, “Fauzy, kok ireng sih?” Mendengar itu, saya buru-buru ke kamar mandi, terus ngaca dan cuci muka pakai facewash yang sudah dibeli.  


Seger-seger!!

Monday, May 5, 2014

Semenjak Channel Hilang

Untuk Blog.

Ditulis pada Hari Kedua Bulan Mei,

Jum'at, 2 Mei 2014.



    Sekarang, saya sering kehilangan info berharga dari televisi. Dulu, waktu layanan jasa TV kabel masih dipake di rumah saya, saya masih bisa nerima informasi yang bikin saya tertarik dan pas dengan hobi yang saya jalanin. Channel-channel kayak Trans 7, Trans TV, dan ANTV masih ada. Pagi-pagi, saya sering nongkrongin dulu Sport 7 jam 5 pagi. Kalo saya bangun rada kesiangan, saya masih bisa lihat channel ANTV buat ngelihat acara lensa Olahraga jam setengah 6-nya, masih ada cadangan. Hidup saya keren dan kece banget waktu itu, enggak pernah ketinggalan berita olahraga. Misalnya, sebelum berangkat ke sekolah saya ngelihat acara Lensa Olahraga yang menayangkan bahwa Barcelona kalah 1-0 dari Granada. Dan di sekolah, saya pun bisa ngeledekkin temen sekelas yang ngefans sama Barcelona, “Cieee.. yang tim favoritnya kalah tadi malem cieeeee......” dan selanjutnya temen saya yang ngefans sama Barcelona suka ngeles, dan terjadi perdebatan mengapa Barcelona kalah tadi malem. Entah karena Messi enggak main, atau wasitnya pake baju pink, pokoknya jadi obrolan seru.

    Kalo sorenya juga, saya masih bisa ngelihat kinclongnya kepala Om Deddy Corbuzier di Hitam Putih. Saya juga suka ngelihat lawakan-lawakannya Cak Lontong dan kawan-kawan di Indonesia Lawak Club. Juga bisa ngelihat film-film keren di bioskop Trans TV.


    Sebelum TV kabel itu dicabut layanannya dari rumah saya. Saya suka bilang untuk “Cabut aja deh bu.” Karena Ibu suka protes karena biaya TV kabel membebani dirinya. Karena jatah untuk membeli bedak malah dipake bayar TV kabel. Mungkin kalau TV kabel dicabut, Ibu enggak akan ngomel-ngomel lagi dan akan baik-baik saja. Hidup akan mengalir layaknya benda kuning di Sungai Ciliwung. Ternyata, prasangka hanyalah prasangka. Yang terjadi malah makin parah. 1 hari setelah pencabutan TV kabel itu, saya memprogram channel-channel yang ketangkep make antenna. ANTV enggak ada. Dan Channel Trans TV yang biasa saya pake buat nonton film-film berkualitas, lenyap. Dia tidak tertangkap oleh antenna saya. Untungnya masih ada Trans 7, satu-satunya channel favorit harapan saya, yang bisa saya tongkrongin acara ILK-nya, Hitam Putih, dan Sport 7-nya. Saya masih bisa narik napas, masih bisa ngelihat acara-acara favorit dan informatif kayak yang saya sebut di atas. Dan 2 hari setelah pencabutan, sore-sore. Saya mau liat acara hitam putih, saya pencet remote saya untuk mindahin channel ke Trans 7. Di layar cuma ada semut-semut ngumpul, alias gak ada gambarnya. Otak saya nangkep, ini cuma gangguan beberapa detik atau menit, sebentar lagi paling udah bener lagi. Saya tunggu sampe 5 menit, belum nongol juga itu gambar dari TV-nya. Ibu udah ngomel-ngomel buat pindahin aja ke channel sinetron. Saya ngalah dan nunggu sambil harap-harap cemas. 15 menit nonton sinetron membuat saya gerah, dan pindahin lagi ke channel Trans 7, masih kesemutan TV-nya. Coba cari lagi aja. Saya menyetel otomatis TV saya ke mode scan channel automatic. Tujuannya agar channel yang bisa ditangkap antenna ketangkep semua. Hasilnya sama aja. Saya udah nyoba 3 kali di-scan dan scan lagi channelnya, yang terjadi Trans 7 masih enggak ada. Saya masih enggak percaya, saya yakin, besok pasti pulih lagi dan Trans 7 kinclong kembali gambarnya. Saya pun sadar pas saya latihan bola sama temen-temen, saya mendengar obrolan yang ketangkep kuping saya. “Oy, Trans 7 di rumah saya ilang loh!”
    “Saya juga,”
    “Saya juga!!”
    “Saya?? juga!” semuanya berebut untuk punya televisi yang paling hilang. Dan ada anak satu yang enggak hilang channel Trans 7-nya, dan dia ngaku bahwa dia enggak pake layanan TV kabel apapun dan enggak pake parabola. Pas saya tanya lagi kok bisa trans 7 masih ada dia menjawab gini, “2 hari yang lalu perasaan Trans 7 masih ada deh..” 1 hari yang lalu juga, TV saya masih nangkep trans 7 keleus. Semua yang latihan disitu akhirnya ngeroyok temen saya yang tadi sampe cedera 2 musim.

    Channel favorit saya hilang semua, dan TV di rumah pun jadi diambil alih kekuasaan oleh Ibu saya. Yang tadinya dipake buat nonton ILK, jadi dipake buat nonton sinetron favorit beliau, yang tokoh utamanya saudara kembar itu. Saya suka berebut channel sama Ibu. Ibu sekarang menang. Dia bebas menonton sinetron itu sekarang. Dan nyeseknya lagi, sebelum Trans 7 menghilang, saya sempet lihat iklan acara ILK yang tayang lebih awal. Saya tahu, acara ILK sekarang tayang lebih awal. Dari 21.15 jadi 20.45. Dulu, saya sering ketiduran karena tayangnya kemaleman dan saya ketinggalan acara. Kampret kan?

    Dan kalo ada Bapak apa lagi, dia doyan banget sama channel yang lambangnya ikan terbang. Setiap Malem minggu, lagu dangdut pasti terdengar ke semua sudut rumah. Dia suka nonton acara kompetisi nyanyi dangdut. Dari pengamatan saya, setiap malam minggu, si Bapak membujuk untuk mindahin channel dengan omongan, “A, pindahin dong ke acara G academy. Konser final tauk.” Dia bicara gitu setiap malem minggu. Dan sampe sekarang udah satu bulan, itu masih belum selesai. Dan masih dengan embel-embel ‘konser final’ dan finalis nya ada 6. Coba bayangin, final Liga Champions aja 2 tim. Dan paling maksimal, final itu 3 finalis. Nah, kalo ini ada 6 finalis. Ditambah juri-jurinya pada ngelawak dengan lawakan yang super garing. Saya cuma bengong dari Ruang Tamu (tempat saya baca buku), denger si Bapak ketawa-ketawa liat yang kayak gituan. Saya pun ngelanjutin baca buku aja.

    Dan pagi pagi sekarang, saya gak semangat bangun karena enggak ada channel berita olahraga. Mood saya berpengaruh terhadap kelancaran proses eksresi tubuh saya. Saya jadi seret berak.  Efeknya, saya di kamer mandi jongkoknya lama. Dan jadinya telapak kaki saya pada merah, kaki saya pun kaku semua. Jadinya malah kram. “KRAM PAGI” begitu saya suka menyebutnya. Penyakit itu jadi sering mendera saya kalo pagi-pagi akhir-akhir ini. Dan, kelamaan jongkok dan kaki jadi kaku, efek paling buruk adalah males buat berdiri dan ngelanjutin mandi. Untung saya suka nginget muka temen-temen saya yang pada baik di kelas X IPA 2 biar saya semangat buat bangun. (Moga-moga mereka baca, biar saya ditraktir jajan.) Hehehe.!!

    Dan pada akhirnya, obrolan sepakbola di kelas saya pun terjadi. Temen saya ada yang nanya ke saya, “Eh tau gak Madrid menang kan tadi malem, lawan Munchen?”

    Saya bengong sebentar, dan cuma bisa ngangguk pura-pura tahu.

    Tuhan berilah saya parabola. Saya suka maen bola, dan saya suka manjat ke para (dalam bahasa Sunda itu artinya: atap) rumah. Intinya, saya butuh hiburan dan informasi yang berkaitan dengan hobi-hobi saya.

    Satu lagi, saya kangen kompas TV. Dodit!! Kampret kamu jadi idola di kelas saya!

Follow by Email