Sunday, November 16, 2014

GPAK Futsal: Boys in Action!!!

Untuk Blog.

Baca juga prequel postingan ini: Gebyar Prestasi Antar Kelas dan  Perawan XI MIA 1 Main Futsal?

Para pemain dari kedua kesebelasan, eh, salah, bro kan futsal.

Para pemain dari kedua kelimaan sudah memasuki lapangan. Mereka tampak sudah siap saling sikut untuk merebut kemenangan, agar bisa lolos ke babak selanjutnya. Apalagi para pemain dari tim XI MIA 1, mereka ingin sekali mengalahkan kakak-kakak kelasnya itu, lantaran tim futsal putri yang telah kalah terlebih dahulu. Masa yang putranya harus kalah pula, sih?

“Ya, semua sudah siap, tapi kelas XI MIA 1 kipernya mana ini?!!” lantang si Agung yang menjadi komentator bertanya-tanya dari microphone, kemana si David kok belum masuk lapangan. Para pemain kelas XI MIA 1 kelimpungan, celingak-celinguk, ternyata dia masih di bangku yang sejak tadi didudukinya. David lagi make sepatu futsalnya yang telat dibalikkin sama Gina, yang tadi maen dari tim futsal putri XI MIA 1.

“Aduh, udah dibilangin cepet buka sepatunya. Saya kan yang ribet sekarang ditungguin lagi!” ketus David kepada Gina.

“Maaf, vid. Maaf!” Gina menyesal, meminta maaf.

“Eh, cepetan ke lapangan!”

“Iya vid, cepetan!!”

“Bentar dulu, ah!”

Si David yang tadi udah pake sarung tangan harus ngebuka lagi sarung tangannya biar pake sepatunya cepet. Pas. Tali sepatu udah ditaliin. Oke, sip. Dia kelupaan untuk memakai sarung tangannya, buru-buru aja dia ngibrit ke lapangan kayak udah ketinggalan kereta. Huh, telat, kereta udah berangkat.

“Akhirnya si Mamba Hitam masuk lapangan!” Agung berkomentar ria.

Pas, udah nyampe di gawang.. si David baru nyadar kalo sarung tangannya belum dipake. Shidiq lari-lari ke pinggir lapangan terus ngelemparin sarung tangannya ke si David, pertandingan keburu mulai.

“Kampret, udah mulai. Nanti aja makenya.” keluh David. Lalu sarung tangannya ditaro di sisi kanan gawang yang akan dijaganya itu. Pertandingan belum juga panas si David udah kelimpungan duluan. Pake sepatu telat, terus sarung tangannya gak dipake lagi.

Yang main dari kelas XI MIA 1 ada Dicky, Supri, Ken, Agun, dan kiper fenomenal, David. Mereka itu line-up yang turun pertama kali ketika kick-off 15 menit pertama dibunyikan. Sementara di bench—bangku cadangan, ada Bertus dan Shidiq. Siap menggantikan pemain yang udah ngos-ngosan nanti.

Grrrr, this is the match.

3 menit pertandingan berjalan. Yang kebobolan pertama malah si David. Kelas XI MIA 1 tertinggal duluan. Berkat kerja sama tim yang epic, kelas XII MIA 3 yang dikomandoi oleh Kang Ardan sukses menceploskan bola ke gawang David. Si David maju sedikit dan menebak arah bola malah ke kanan badannya, sedangkan bola meluncur ke kiri badannya. Gawang yang kosong lebar jelas menjadi tujuan utama bola itu.

“Gol! XI MIA 1 harus tertinggal lebih dulu!”

Setelah terpukul oleh kebobolan yang sangat menyakitkan, XI MIA 1 berusaha bangkit dari ketinggalan. Dicky dan Agun berusaha menerobos barisan pertahanan yang kokoh, sekokoh pertahanan gebetan mereka yang tak kunjung membalas sms dari mereka. Kasihan. Agun bermain di tengah selalu berusaha mengoper bola kepada Dicky. Namun usahanya selalu kandas.

“Anjrot susah juga nih!” keluh Agun dalam hatinya.

Tak patah arang. Usaha kelas XI MIA 1 membuahkan hasil. Berkat operan dari temannya, Agun berputar-putar, menggocek-gocek bola yang dibawanya. Dia berusaha mengelabui kakak-kakak kelasnya itu dan mencari ruang tembak yang nge-pas. Keringat terus mengucur dari jidatnya yang putih, gak kayak si David, jidatnya item. Agun tiba-tiba melepas tembakan. Kiper dari XII MIA 3 tidak menyangka akan mendapat bola sekencang itu dari Agun. Ia berusaha menangkap bola, namun tangannya tidak sampai. Bola pun sukses bersarang nyaman di gawang dan masuk. Kedudukan imbang 1-1.

Game ON!”

“Ayo XI MIA 1!!!”

Dan setelah sukses menyeimbangkan kedudukan, XI MIA 1 malah keasyikan menyerang. Si Supri yang tugasnya menjaga pertahanan malah maju ke depan dengan ekspektasi bisa masukin bola. Jelas, kelas XII MIA 3 memanfaatkan celah-celah kosong yang kelupaan dijaga Supri yang malah ikut-ikutan maju. Tim XI MIA 1 krisis pertahanan. Operan jarak jauh dari kiper, dioper lagi, dan bola berada di kaki kakak kelas yang ganteng. Giliran si David yang ngejaga gawang yang harus mengamankan gawangnya.


Lagi-lagi ia mencoba maju ke depan, namun wajahnya nampak ragu-ragu. Dengan gampang, bola dicungkil ke atas. Si David yang malah berlutut terus berusaha me-sliding-tackle bola agar ketangkep, tak mengira bola bakal melambung tinggi di atas badannya. Refleks ia mengayunkan kedua tangannya ke atas, namun bola masih terlalu tinggi walaupun hanya berjarak 1 cm di atas tangannya. Bola yang melambung masuk lagi ke gawang si David.

“Aduh! Kalo aja pake sarung tangan. Pasti kena tuh!” teriak Elboy menggerutu. Ia turut meluapkan kekesalannya karena si David gak pake sarung tangannya.

1-2 untuk keunggulan XII MIA 3.

Ken keluar digantikan Shidiq. Shidiq yang selalu berada di zona pertahanan membuat si David sedikit tenang. Namun, karena dia itu asalnya anak basket, skill pertahanan futsalnya berasa kurang, beberapa kali pemain dari XII MIA 3 berhasil mengecoh dan melewatinya. Si Supri juga masih belum nyadar akan kesalahannya yang selalu meninggalkan pos pertahanan dan striker macam Dicky pun gak berhasil ngebobol gawang lawan. Agun juga masih mengira-ngira harus main kayak gimana. Lawan yang sudah sangat enjoy bermain dengan tidak meraba-raba lagi. Sudah terlatih. 2 gol selanjutnya pun menyusul. Memasuki gawang si David. Padahal ia sudah berlatih untuk menjadi penjaga gawang yang tidak bakal kebobolan sore hari di H-1 menjelang pertandingan. Ia berlatih bersama Engkongnya di teras rumah Engkongnya. Walaupun dengan tembok dan hanya memantul-mantulkan bola basket kecil miliknya lalu menangkapnya dengan lagak seperti Iker Casillas. Lalu bangkit lagi, lempar bola lagi dan tangkap lagi seperti Simon Mignolet. Ia semangat banget menatap pertandingan ini. Namun, takdir berkehendak lain. Dia harus kebobolan 4 gol di babak pertama ini.

Skor 1-4 untuk keunggulan XII MIA 3 di babak pertama.

“Sori, sori, tadi gue di depan terus! Kalian-kalian sih susah amat ngegolin juga! Gue kepancing deh buat ikutan nyerang!” si Supri yang ngomong sambil ngos-ngos-an merasa harus memberitahu kesalahannya.

“Oke, nanti elo harus diem jadi bek jangan kemana-mana.” tegas Agun.

“Si Bertus maen dong!” teriak si David. “Jadi bek, please! Biar pertahanan kita makin mantap.”

“He’eh. Pokoknya tetep di pos masing-masing. Jangan ada yang mau ngelunjak. Santai aja.” Si Dicky dengan keren memberi arahan.

“Sori juga saya tadi kebobolan 4.” Sambil sok-sok-an minta maaf, si David menyiram kepalanya dengan air supaya basah. Seperti di pertandingan piala dunia, kalo udah stres, biar sejuk dan kepala jadi dingin, siram kepala sama air. Mantap. Lalu meneguk dengan ganas air yang masih ada di gelas Aqua yang dipegangnya. Tak lupa kini ia memakai sarung tangan yang ia pinjam dari Rimo.

Si Bertus menjawab dengan kesal, “Bego, kebobolan banyak banget!”

“Ayo, ayo, kalian bisa kok!” Elboy dan teman-teman XI MIA 1 yang berada disitu menyemangati tim futsalnya agar bisa membalikkan keadaan dan memetik kemenangan.

“Bisa kalah?!” ejek Supri.

Interval kedua akan dimulai. Semua bersiap.

    ***

Di babak kedua ini akhirnya si Bertus main. Pas ditanya sama orang lain kenapa lo gak main tadi babak pertama, “Gue gak tau ternyata bakalan dibantai kek gitu….” Sambil nyengir. “……tau gitu gue main dari babak pertama. Pemain andalan mainnya belakangan..” Lanjutnya santai.

Emang laga Bertus ini udah kayak pemain yang kalau di istilah sepakbola disebut super-sub. Ternyata laganya itu bener-bener terbukti. Dengan adanya Bertus ternyata (sedikit) memberi pengaruh pada tim XI MIA 1, ritme permainan yang tidak jelas di babak pertama menjadi (sedikit) jelas di babak kedua. Tim XI MIA 1 terlihat lebih santai dalam bermain, tidak terburu-buru menyerang. Supri juga sudah sedikit kalem, gak sering ninggalin posnya sebagai bek. Dan dengan masuknya Bertus, beknya juga nambah. Beberapa peluang diciptakan dari dua pemain penyerang, si Agun dan Dicky.. namun kiper kelas XII MIA 3 juga gak sebegitu begonya mudah dibobol. Penyelamatannya lumayan apik. Bikin frustasi, tapi lama-kelamaan dia ngompol bobol juga. Karena kebingungan mau nebak bola kemana, hasil dari tendangan Agun yang mau memberi umpan kepada pemain depan, bek dari kelimaan kelas XII MIA 3 malah menahannya. Walhasil bola berbelok arah dan kipernya kelimpungan. Mati langkah. Bola pun masuk.

“GOOOLLLLL!!!!!” skor sementara 2-4.

“Ayo!! Bisa bro!!” teriak semua kelas XI MIA 1 yang ada di kursi penonton. Bahkan anggota XI MIA 1 yang tidak ada disitu juga memberi semangat.

“Semangat!!” Geng Gambreng ikut menyemangati nun-jauh di sana.

Fotonya waktu GPAK Voli... Gak punya yang waktu futsal..

Setelah gol ini tensi pertandingan memanas lagi, namun kembali turun lagi. Setelah kedua kelimaan ini terlihat lelah dan saling menikmati ritme permainan mereka. Disaat yang lain sudah sedikit dingin kepalanya, gak bagi Supri. Dia masih terlalu semangat. Emosinya masih tinggi banget. Ketika pemain kelas XII diberi bola oleh kawannya dan berhasil di kontrol di sisi kanan lapangan. Melihat keadaan yang membahayakan bagi gawang si David, si Supri langsung saja mem-body kakak kelasnya. Entah diving atau kakak kelasnya yang so dramatis, entah juga si Supri yang terlalu keras membody-nya, entah juga dia pengin cari perhatian gebetannya, entahlah… pas di-body oleh Supri dia seakan terbang dan mental jauh dari lapangan pertandingan. Lalu ngejogrok nabrak tong sampah.

“Apa-apaan lo hah?!” kata salah satu pemain XII MIA 3 ngomel-ngomel ke si Supri.

“Gue cuma body dia kok!” Supri jengkel dia yang dimarahin. Dia emang suka marah-marah. Apalagi di kelas. Tapi marahnya itu gokil, dia punya logat cadel. Yang lahirnya di Lampung emang pada cadel ya?! Bener gak sih, dia orang Lampung? Lupa, heh. Bener gak, pri?

“Enak aja cuma body, Kuning sit dia dorong dia juga!!!” marah banget wajahnya terlihat. Meminta kartu kuning ke wasit. Tapi ya mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu. Engkau disana aku disini, meski hatiku memilihmu…….

Semua ngerubungin si Supri yang dinilai mainnya kasar.

“Oy, biasa aja, oy!” Supri emang orangnya berani mati, prinsipnya masih berlaku walaupun terhadap Kakak Kelas. Si Supri yang udah ngelak masih aja diomelin, dia kerubungin semua pemain kelas XII MIA 3. Bahkan yang cadangannya juga ikut-ikutan ngerubungin. Ngomelin si Supri.

Sementara itu, kakak kelas yang tadi merintih kesakitan. Wajahnya iba, kakinya lecet, dia gak bisa bangun. Wajar aja ya, nubruk tong sampah sambil terbang dengan kecepatan tinggi. Harry Potter aja yang bisa terbang pake sapu terbang gak pernah seumur hidupnya nabrak tong sampah waktu pertandingan Quidditch. eh ini main futsal di sekolahan aja malah nabrak tong sampah. Tapi orang-orang kemana, malah ngerubungin Supri lagi. Geram gak ada yang nolongin, dia menjerit. “Woy tolongin gue!”

“Oh iya si Daniel!!”

“Eh itu si Daniel, tolongin!”

“PMR mana PMR?!!”

“Panggil 911!!!”

Akhirnya si Daniel yang terlupakan ditolongin. Dikerubungin sama PMR yang anggotanya laki-laki cucok. Daniel yang terlupakan berhasil ditolongin dengan semestinya. Tak lupa diberi nafas buatan. Pertandingan berlanjut.

Usaha-usaha kelas XI MIA 1 untuk menyamakan kedudukan masih saja menemui jalan buntu. Gak gol lagi setelah kejadian gokil tadi. Akhirnya skor masih 2-4 untuk keunggulan XII MIA 3.

Si David yang sejak tadi ngejagain gawang gak kebobolan sama sekali di babak kedua. Pake sarung tangan emang membuat efek yang signifikan. Makin cakep aja dia. Kulitnya yang mendung makin berbinar-binar sore itu. Keringatnya bercucuran. Keringatnya seperti hujan. Lalu muncul pelangi. Ken, Shidiq, Supri, Bertus, Agun, dan Dicky juga masih semangat walaupun harus kalah. Mereka meninggalkan lapangan. Adzan maghrib pun berkumandang menutup pertandingan.

Pemain futsal baik dari putri maupun putra sudah menjadi pahlawan untuk kelasnya hari itu. Namun, mereka harus segera melupakan kekalahan itu. Karena besoknya, mereka harus bertanding kembali melawan kejamnya kehidupan Ulangan Kimia.

Kekalahan bukanlah kemenangan yang tertunda. Melainkan kemenangan. Jika  hati dengan mudah melupakan kekalahan tersebut. Dan semangat kembali untuk melawan lawan-lawan selanjutnya..

“Shid, contekan tiket kimia gue mana?” pinta David pada Shidiq.

“Gak tau… tadi dipinjem Razor. Di kelas mungkin.”

“Ah, minjem gak dijaga kamu mah..” ia ngomel sambil berlari menuju kelas. Dia harap-harap cemas karena besok tiketnya harus dikumpulkan. Yang kayak gini emang kagak boleh ditiru ya. Ngerjain tiket ulangan harusnya jauh-jauh hari. Eh, ini malah H-1 baru ngerjain. Nyontek lagi.

Tapi tiketnya kagak ada di kelas.

“Aduh, mati saya.” Batin David dalam hati cemas.. dia memang selalu kalah.

0 komentar:

Post a Comment

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email