Gebyar Prestasi Antar Kelas!

Untuk blog.

    Sudah lama gak cerita lagi saya, keasyikan menjalani hidup jadi lupa kalau blog si Mamba Hitam itu sudah makin menggelora di hati para pemirsanya. Asik!

    Bulan Oktober adalah bulan perlombaan. Sejak kepala sekolah secara resmi membuka acara dengan disambut tepuk tanga meriah waktu upacara hari Senin di awal Oktober, di SMA Negeri 2 Kuningan diadakan banyak sekali perlombaan. Baik akademik: pidato, debat, buat logo kelas, tata upacara bendera, dan lain-lain, dan non-akademik: basket, voli, futsal, tenis meja, dan lain-lain lagi. Semua perlombaan itu melebur menjadi sebuah nama yang aneh. GPAK. Gebyar Prestasi Antar Kelas. Keren juga yak nama acaranya?

Sumber Gambar. Diambil dari akun twitter @osissmandakng

    Kelas masing-masing di sekolah menyusun strategi untuk memenangkan sebanyak-banyaknya lomba yang dipertandingkan. Tiap-tiap kelas membagi perwakilannya untuk turun di perlombaan yang menurut mereka layak untuk berlomba di medan lomba. Tiap perwakilan yang ditunjuk adalah orang yang dikira bisa untuk berlomba dan sudah menguasai medan lomba yang dipertandingkan. Ya, saya ulang, yang ditunjuk itu harusnya bisa dan layak.

    XI MIA 1 menunjuk siapa saja yang ikut lomba. Azas “semua anggota kelas harus kebagi lomba” sangat dijunjung tinggi. Prinsip ini menjadikan Irawan sebagai KM (Ketua Maho) yang dipercaya sebagai pencari bakat main tunjuk-tunjuk aja biar ikut lomba semua. Dan saya yang ganteng dan imut ini pertamanya kebagian ikut futsal. Ini mah udah sangat biasa bagi saya. Karena ilmu yang didapat di SSB bisa digunakan di cabang futsal ini. Dan berhubung untuk pidato bahasa Indonesia masih kosong, saya ditunjuk untuk maju.

    “Enggak, ah!” Saya melambai-lambaikan tangan tanda tidak mau ikut lomba itu, pidato, ngaca depan cermin saja takut sama wajah sendiri.
    “Sementara, zy.” Irawan mencoba membujuk saya.
    “Albert aja!”
    “Lho kok saya? Kamu yang ditunjuk!” Albert langsung nyolot. Wajahnya mendengus kesal.
    “Adit aja, tuh! Dia belum kebagian lomba! Dit, plis, dit, pidato dit. Orang Padang itu baik, lho.”
    “Ih, gak mau enak aja! Gak bisa! Bawa-bawa Padang segala lagi!” si Adit yang nama lengkapnya Adit Istiadit ini benar-benar tidak mau ikut lomba. “Dasar Padang Bengkok!” ejek saya dalam hati, susah diajak kompromi temen saya yang satu ini.

    Dan Irawan yang pengen kerjaannya cepet selesai buat nyari perwakilan lomba membujuk saya lagi, emang, pengennya gampang doang. “Sementara, zy. Kalau nanti gak siap bisa diganti, kok.”

    Saya pun luluh lunglai berkata, “Iya deh, iya, sementara ya? Awas, lho. Bisa diganti ya? Awas lho.”

    Irawan tersenyum puas.

    ***

    Dan yang sementara kadang-kadang berubah menjadi permanen.

    Minggu, tidur siang saya yang menghasilkan mimpi kencan sama Cate Blanchett dan hampir saja mau bercumbu harus kandas karena terasa ada yang bergetar di bawah bantal, gak taunya hape, ada SMS dari Elboy. Bukan, Elboy bukan nama pahlawan super yang mau menangkap saya karena kemarin saya telah menewaskan seekor semut yang berjalan di depan saya ketika saya lagi asyiknya boker, bukan. Dia adalah teman saya, seorang cewek, aslinya berinisial EDA (kemungkinanyainisial lengkapnya bisa: al-qaEDA, buronan AS, terus nining maEDA, penyanyi pop sunda),Elboy hanya nama panggilan karena dia sedikit jantan sebab olahraganya jago, punya tumor jinak di atas bibirnya atau kalau orang jorok bilang, “TAHIK LALAT!”. Kemungkinan rumahnya banyak lalat, lagi tidur di-BAB-in. hehe. Dan dia adalah orang yang hobinya ngebully saya terus, dari mulai kulit saya, wajah saya yang ganteng, tingkah laku saya yang aneh, atau apapunlah dia komentarin dan menjadi bahan tertawaan orang. Dia selalu bilang, “EEEAAAA!!!” kalau guru lagi nerangin. Asli, walaupun kocak, ngeganggu konsentrasi sih. Habisnya, udah ngerti apa yang dijelaskan guru, terus ngedenger Elboy ngomong, “EAAAAAAA!!” dengan cempreng, materinya keluar lagi dari otak pada kabur semua.

    Udah ah, takut dimarahin Elboy kalo dia baca ini.

    Sampe mana tadi?

    Oh iya, SMS dari Elboy isinya gini:

    “Piiid* bikin pidato yah, hafalin, besok lombanya, Tema pidato: pahlawan, guru, sumpah pemuda. Cemumut.”

    *)David adalah nama panggilan untuk saya di kelas, walaupun terlalu keren abaikan saja, orang jelek juga pengin bahagia.

    SMS yang menyeramkan sekali dari Elboy itu saya baca berulang kali. Ngedip-ngedipin mata berulang kali. Geplak-geplak pipi pake tangan ternyata sakit. Apakah ini mimpi, guys? Tidak, itu kenyataan.

    “IRAAWAAAANNNNN KATANYA SEMENTARA!!!!!!!!”

    S.A.Y.A.H.A.R.U.S.G.I.M.A.N.A.?

    Mau gak mau saya bikin pidatonya dan besok adalah hari pembuktian seorang David*.

    *)David adalah nama panggilan untuk saya di kelas, walaupun terlalu keren abaikan saja, orang jelek juga pengin bahagia keleus.

    ***

    Besoknya, dengan bantuan Elboy saya menghafal pidato teks pidato yang saya buat. Nanti saya posting teksnya, oke. Saya juga dikasih petuah-petuah berpidato yang baik sama Pazin, cowok jangkung putih namun jerawatan, teman satu geng saya waktu MTs juga, dikasih tahu ketika sehabis sholat dzuhur di masjid sekolah.

    “Pidato yang baik itu yang gak bikin penontonnya bosen.” Sambil menepuk pundak saya.
    Sambil make sepatu saya mendengarkan dengan baik.
    “Stand-up-comedy juga pidato kan, tapi ngelucu?”
    Saya mengangguk pelan, “Bener juga.”
    “Nah, tambahin aja jokes-jokes di dalam pidato kamu, yang terpenting kamu harus meyakinkan para juri kalau kamu itu siap. Dari bahasa tubuh kamu juga menentukan dan itu jadi nilai plus.” Pazin meyakinkan saya dengan tatapan mata manusia harimau.
    “Sip!” kepercayaan diri saya melesat ke level tertinggi.
    “Gimana, tadi gue kayak Mario Tegang ya?”
    Mendengar omongannya Pazin barusan, kepercayaan diri saya pun runtuh, anjlok ke level terendah.

    ***

    Bel pulang berbunyi, waktu lomba pidato tinggal setengah jam lagi. Jam 3 sore.

    Kata-kata semangat dan dukungan mengalir deras dari seluruh anggota kelas XI MIA 1, terima kasih kawan-kawan!

    Sambil menunggu lomba dimulai, saya shalat Ashar dulu di masjid sekolah. Dan bertemu Rick, teman saya waktu MTs juga. Sekarang dia kelas XI MIA 5 dan saya lihat dia sedang menghafal sebuah teks yang tulisannya amburadul kayak cerita wayang yang kacau di OVJ.

    “Lomba pidato, rick?” tanya saya penasaran.
    “Iya, nih.” Jawab rick, matanya hanya tertuju pada teks pidato yang sedang ia pegang. Gak nyangka juga dia ditunjuk untuk lomba pidato. “Yang bener?” saya tanya sekali lagi.

    “Iya, tapi mendadak. Baru ditunjuk pas tadi pulang sekolah.” Waduh, parah bener yang nunjuknya. Kalau Irawan yang nunjuk mendadak ke saya kayak Rick begini, saya pasti gak mau dan Irawan sudah dipastikan mati mengenaskan karena ‘jurus gelitik-gelitik sampai mati’-nya saya yang legendaris, dimiliki oleh setiap warga desa Ciomas. Huehehehe.

    HUH, LOMBA DIMULAI!!!!

    Satu persatu peserta lomba berpidato dengan gaya khasnya masing-masing. Ada yang pidato dengan gaya khotbah, ada yang pidato dengan gerakan tubuh yang overacting sampe koprol-koprol segala, ada juga yang make gaya khotbah sambil koprol di panggung. Pokoknya semuanya tampil maksimal deh, termasuk Rick, walaupun awalnya lucu karena dia ngeblank di kalimat pertama, tapi dia terus nyerocos kayak ibu-ibu yang baru dapet bahan gosip teranyar.

    Dan tibalah saya, urutan ke 17 (sebenarnya ke 29 karena banyak peserta yang tidak datang jadi urutannya naik). Banyak juga yang nonton disana, ada Rainy, Pazin, Dakhil, Inca, dan masih ada deh mungkin kelas XI MIA 1 yang nonton, saya kurang inget. Makasih ya sudah mau menonton!

    Saya naik ke atas panggung, dan mengambil microphone dari pembawa acara. OSIS yang ngebawain acaranya cantik nih kelas X, mau saya tembak tadinya, takut digampar sama juri. Huehehehe.

    Fokus, microphone sudah digenggam. Badan saya tegakkan, dada pun dibusungkan. Fokus. Lomba pidato pertama yang saya lakukan seumur hidup saya harus berjalan sesuai ekspektasi. Nyatanya…

    Sepatah kata saya ucapkan, “Assalamu’alaikum WR. WB.” Anjrot, baru satu kata. Masih banyak kata yang harus saya ucapkan hari itu. Namun ngeblank melanda. Oh iya, ucapan syukur. Sehabis satu paragraf ucapan syukur, saya ngeblank lagi. Oke, ucapan terima kasih dan rasa hormat. Saya melongo lagi kayak kambing mau kawin. Oh iya, cerita masa kecil yang sudah butuh guru. Lalu, “ee..” lagi. Ngomong lagi, dikit. Ngeblank lagi. Ngomong lagi. Melongo lagi. Gitu terus nyampe kiamat. Petuah-petuah pidato yang baik dan benar dari Pazin seketika hilang semua. Yang saya pikirin adalah gimana caranya ngehipnotis para juri dan penonton agar tertidur lalu saya kabur dari situ.

    Baru saja saya menyampaikan setengah dari pidato saya. Tiba-tiba…..

    “Maaf, waktu pidato anda telah habis. Silahkan mengakhiri pidatonya dan meninggalkan panggung…” seru pembawa acara lomba pidato yang cantik itu. Aduh, kenapa sekarang? Lagi asyik-asyik ngomong. Kan belum selesai?

    7 menit gak kerasa di atas panggung. Saya pun tersipu malu disapa oleh pembawa acara yang cantik itu. Mau saya tembak, takut digampar juri. Huehehehehe. Fokus woy! Lo kehabisan waktu! Lo udah gagal! Pidato lo kagak selesai!

    Oh iya, lupa.

    *drama*

Saya pun tidak menyangka waktu akan berputar secepat itu ketika saya berpidato di depan para juri dan para peserta lomba pidato dan teman-teman yang menonton. Saya merasa tidak berdaya waktu itu, wajah saya memerah, luntur sudah wajah saya yang hitam itu saking malunya, saya pun beranjak dari panggung itu, namun, sebelumnya saya megucapkan salam perpisahan terlebih dahulu, “Sekian dari saya, mohon maaf atas segala kesalahan, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.” Dan berlari menuju kerumunan teman-teman saya yang menonton. Memeluk mereka. Menguraikan air mata yang begitu derasnya. Saya tak bisa menahan beban itu lebih lama lagi. Saya ingin mengakhiri itu semua. Saya ingin mengakhiri pidatonya. Namun, saya kehabisan waktu. Maafkan saya, teman-teman. Saya kehabisan waktu!

    Sekali lagi, maafkanlah.
   

Comments

  1. Replies
    1. Hehehe, lupa, bro. Gak keliatan, badannya kurus sih!

      Delete
  2. Yang tadinya gak mau pidato malah jadi keasikan sampe keabisan waktu. Hahaha. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, tadinya nervous malah keasyikan deh akhirnya... huahaha!!

      Delete
  3. Mantaap Bro , Lanjutkan :v :v Anonym Gapapa kan :v :v

    ReplyDelete
  4. Inka juga nonton tau,, video-in kamu malah :3
    #ada nma aku tuh :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah bro :4 dari awal juga ada namanya Inca (telah lulus sensor)

      Delete
  5. Ngakak gue bacanya xD Okesip Inca :D
    Sorry gue telat komen.-.

    ReplyDelete

Post a Comment

Silahkan komentar, bebas, mau saran, pujian, kritik, sampe roasting, bebaslah!