pauji's blog

menuju kekerenan yang haqiqi

Monday, October 27, 2014

Review Film: Slank Gak Ada Matinya 2013

Untuk Blog.


Tentang Film
    Disutradarai oleh Fajar Bustomi, bergenre drama, musik, dan romantis. Film yang harus ditonton kalau kamu seorang Slankers.

Pemeran
    Adipati Dolken sebagai Bimbim
    Ricky Harun sebagai Kaka
    Deva Mahendra sebagai Abdee
    Ajun Perwira sebagai Ridho
    Aaron Ashan sebagai Ivanka
    Meriam Bellina sebagai Bunda Iffett
    Alisia Rininta sebagai Reni

Sinopsis versi si Mamba Hitam.

Dibalik nama besar “Slank”banyak tersimpan cerita. Sudah beberapa kali ganti personil, band ini masih tetap abadi sampai sekarang.

    Ketika Abdee “Slank”(Deva Mahendra) memanggil Ridho (Ajun Perwira) untuk menjadi gitaris baru Slank. Bimbim (Adipati Dolken) yang menjadi karakter utama di film ini menyetujui Ridho menjadi gitaris baru. Akhirnya lengkap sudah mereka berlima: Bimbim, Kaka (Ricky Harun), Ivanka (Aaron Ashab), Abdee, dan yang baru, Ridho, menjadi formasi 14, formasi Slank yang baru. Album-album yang mereka keluarkan laris manis, dan banyak meraih penghargaan.

    Tak berapa lama, perselisihan diantara mereka muncul ketika Ridho tidak menyukai Bimbim yang sudah terjerat dalam sekali dengan narkoba. Slank terancam bubar.

    Mereka para personil Slank berusaha menjaga Slank agar tidak bubar dan agar lebih baik lagi. Menjalin hubungan persahabatan diantara personil, berusaha menghilangkan citra negatif Slank yang buruk, dan juga agar mereka tidak tergantung dengan narkoba lagi. Dengan dukungan Bunda Iffet (Meriam Bellina), ibu Bimbim, fans, dan bidadari-bidadari penyelamat mereka, mereka berusaha mewujudkan semua itu, menuju Slank yang baru.

Review, yuk?!
    Bergenre drama, musik, dan romance. Film ini banyak menceritakan kejadian penting dalam sejarah band “Slank”yang mempunyai fans terbanyak di Indonesia. Sudah banyak kan yang bilang, “Gak ada Slank di sebuah konser, tapi bendera Slank tetap berkibar.”Nama besar band Slank sudah tidak dapat diragukan lagi. Ketika Slank tour ke beberapa kota di Indonesia juga tak luput digambarkan disini, backsound music-nya baik ketika sedang senang atau sedih benar-benar full lagu “Slank”. Dan juga ketika personil Slank bertemu bidadari-bidadari penyelamat dalam kehidupan mereka, pokoknya so-sweet.

    Namanya juga aktor tidak mungkin Ricky Harun yang memerankan Kaka “Slank” bernyanyi dengan suaranya sendiri, terpaksa harus lypsinc agar lebih merdu dan efek “Slank”-nya terasa. Untuk anak di bawah umur juga kurang bagus karena kata-kata kotor, adegan mabuk-mabukan, menghisap nakoba, dan merayu cewek banyak keluar di film ini. Jadi, jangan ngajak anak kecil nonton film ini ya, guys.

    Yang unik adalah ketika aktor-aktor ganteng seperti Adipati Dolken, Ricky Harun, Deva Mahendra, Ajun Perwira, dan Aaron Ashab harus memerankan karakter personil Slank yang slenge’an. Lucu ketika Adipati Dolken mabuk dan berbicara tidak jelas dan Ricky Harun yang berambut gimbal. Namun mereka memerankan para personil Slank dengan cukup baik sehingga penonton dapat merasakan efek slenge’annya.

    Film ini juga dimeriahkan aktris cantik seperti Alisia Rininta, Olivia Jansen, Jessica Mila, Kirana Larasati, Chika Jessika, Mikha Tambayong, Nadine Alexandra, Sahila Hisyam, dan Tora Sudiro, lengkap kan? Kamu yang laki-laki dapat menyegarkan mata dan tidak bosan. Untuk yang pengin lebih tahu lebih banyak tentang Slank harus nonton film ini. Dan kamu akan kagum dengan band yang satu ini. Di balik nama besar “Slank”banyak tersimpan cerita.

     PEACE!

Nilai: 7 dari 10.

***

    Ini adalah tulisan Review Film pertama saya, kawan. Saya mulai tertarik menulis review film karena saya merasa kalau cuma banyak nonton film terus tidak menghasilkan buat apa, gitu. Jadi, saya mulai nulis review Film dari sekarang, dengan niat berbagi, bisa saja bermanfaat bagi kalian yang suka menonton film juga.

    Karena tulisan Review Film ini masih sangat jelek, dimohon tuliskan di kolom komentar: kritikan, ejekkan, dan saran agar saya bisa lebih baik lagi dalam membuat review film-nya.

    Terima kasih.
    Dengan penuh rasa syukur, Fauzy H. Mubarok. S, Mh.
    *S, Mh: Sarjana Mamba hitam.

Saturday, October 11, 2014

Pengen Cepat Pulang!

Untuk blog.

    “Warnet is my second home.”begitu kata saya dengan imutnya.

    Albert cuma memandang gue penuh nafsu. “Jelek banget filosofinya.” ejek Albert sambil tetap berjalan cepat menuju depan gerbang sekolah.

Sumber Gambar

    “Udah takdir saya, bert. Suka ke warnet. Untuk sekedar ngeblog atau cari video.” Saya mencoba menjelaskan arti filosofi saya kepadanya.

    “Banyak bacot kamu.” Albert ini memang teman saya yang rada ngeselin. Hobinya ngejekkin saya melulu. “Udah ah cepetan, warnetnya entar penuh lagi.” Sambil menarik tangan Albert, lalu kami saling menatap. Hus!

    Dia mulai kepo, “Mau ke warnet sekarang?”

    “Iyalah!” jawab saya cepat.

    “Cariin jadwal ISL 8 besar dong! Di-print.” Tuh kan, udah ada maunya, gue jawab dengan cepat, “Ogah!” Berani taruhan dia ngambek.

    Dia menggerutu, “Pelit lo!” kalau tidak dituruti memang suka begitu dia. Tak terasa saya dan Albert sudah berada di depan gerbang sekolah, Saya melepaskan tangan Albert. “Saya nyebrang, bert!”

    “Iya, saya juga duluan ya, udah ada angkot.”

    “Oke! Jangan lupa bayar!” teriak saya sambil menyebrang.

    “Sialan lo, jadwal ISL ya, nyet!” teriak dia sambil naik angkot.

    “Ogah!”

    Saya melirik ke belakang. Sekedar untuk melambaikan tangan saya kepada Albert tanda perpisahan. Namun, dari sebrang jalan, saya melihat samar-samar dari jendela angkot yang tadi Albert naiki, jari tengah teracungkan untuk saya. Albert sialan!

***

     Sekarang sih enak, sudah ada flash-disk baru. Dulu mah, saya pakai card-reader, dan memori 2 GB untuk menyimpan data-data yang dibutuhkan ketika ngenet (baca: internetan memakai komputer warnet). Ngenes memang, harus cabut colok memori dari handphone menggunakan pulpen. Yoi, sob, memori 2 GB tadi emang multifungsi. Selain memori untuk handphone juga untuk keperluan Warnet-Tools saya.

     Bekal saya untuk ke warnet, gampang aja.

     Kalo ada postingan blog, memori saya pasti sudah terisi file .doc. Saya sudah terbiasa mengetik postingan di rumah dan mengepos besoknya ketika di warnet. Jadi, maklum, aja kalo emang misalkan blog-nya sepi gak ada update-an dari saya bukan berarti saya gak nulis lagi. Tapi emang sayanya aja gak punya duit buat ngenet.

     Untuk keperluan download, saya membawa IDM kemana-mana. Hehe, lancar jaya deh kalau download. Warnet-warnet suka licik soalnya, internet cepat tapi Cuma make software download bawaan browser. Sama aja boong.

     Nih liat, waktu saya pakai IDM……… kalo lagi cepet banget bisa nyampe segini.

Dokumentasi Mamba

     Hehehe, di kota-kota besar mungkin segitu sih masih cetek kecepatan downloadnya. Saya sudah orgasme melihat kecepatan download di warnet segitu. Saya tinggal di kota kecil sih.

***

     Oke lanjut aja, kalau sudah dari warnet itu perasaan jadi rusuh banget. Pengen cepet nyampe rumah.

     Kalau misalkan saya jadi nobita, pas ngenet selesai, dari bilik warnet saya langsung aja minjem pintu kemana saja dari doraemon. Sekali buka pintu, nyampe rumah deh. Pas gitu tukang warnetnya nyariin, “Si blogger kampret emang suka ngutang kerjaannya!!” dan besoknya saya gak dibolehin lagi ngenet disitu. Ckckck.

     Flash-disk sudah penuh sama hasil tambang dari kerja keras ngenet. Pengen cepet-cepet panen datanya di rumah. Video, pengen cepet-cepet ditonton. Software, pengen cepet diinstall. Tapi sabar aja, apalagi kalau ngenetnya di warnet depan sekolah. Jauh dari rumah. Ngelus dada deh pokoknya.

     Kayak kemarin aja ketika saya selesai ngenet dari warnet langganandepan sekolah. Pengen banget buru-buru pulang. Di flashdisk sudah terkantongi harta karun begitu besar. Ada film The Fault in Our Stars. 1 GB. Berhasil di download selama satu jam. Lagi hoki!

     Saya berjalan menuju perempatan, dapatlah angkot, saya pun naik. Di angkot, check-in biasanya terjadi. Ngecek handphone takut hilang. Liat jam, ternyata udah sore. Rogoh saku kiri celana, flash-disk untungnya ada. Jangan lupa juga ngecek uang ongkos buat bayar juga. Ih, jangan sampai saya disandera supir karena gak bayar angkot. Geli.

     Untuk kemudahan dan alasan biar keren, saya pindahkan ongkosnya ke saku dada biar ngambilnya gampang. Tentunya uang pas ya. Untuk perempuan, sangat dianjurkan untuk menaruh uang ongkos angkot kalian di saku dada ya!

     Badan saya remuk banget. Pada pegel. Apalagi pundak. Kerasa banget pegel, keberatan bawa laptop soalnya. Hehe, gaya bro bawa laptop ke sekolah. Kayak anak kuliahan. Padahal di sekolah, cuma dipake buat ngegame doang. Sok-sok-an!

     Bersyukurlah saya dapet tempat duduk di depan, samping supir. Bisa nyender nyaman di kursinya. Lurusin kaki juga bisa. Biasanya sih kalo capek banget saya ketiduran. Tapi, kayaknya, “zzzzzzzzzzzzzzzzzzz……” saya pun tertidur mesra di samping supir.

      “Saya dimana?” pertanyaan saya ketika terbangun.

      “Anjrot, terminal!!” saya pun merogoh-rogoh dada saya sendiri. Beruntung saya tidak refleks merogoh dada supir angkotnya. Kasihkan uangnya lalu cabut, supir angkotnya sempet senyum, “Capek banget ya dek? Sampe tidur.”

      “Hueheheueheuehe.” Malu deh saya.

      “Lain kali bawa bantal.” Katanya lagi sambil ngasihin kembaliannya, tak lupa saya ucapkan terima kasih dan sampai jumpa besok.

      Saya pun mulai mencari angkot lagi untuk meneruskan perjalanan saya yang panjang ini. From Warnet Front Of School to Home. It’s feel so far when you want to come home fastly. But, faster better. What the f*ck!!!!!!!!!!!!

      “Dek..dek..dek.. ayo dek ciawi dek!!”

Saya pun menghampiri angkot Ciawi dengan sangat gembira. Kulit supir angkot kini ada ekstraknya.
Wah! Kursi depan samping supir (saya singkat jadi KDSS), kosong!

       Pantat saya pun buru-buru ditempelin di KDSS. Menurut saya ini adalah layanan high-class di angkot. Kelas bisnis. VVIV. Hueheheehe. Lurusin kaki, kepala nyender. Beuh… tinggal nunggu angkot penuh doang dan berangkat. Biasanya saya cek handphone, lalu ngetik apa aja random, mau cerita kek, mau unek-unek, apa aja, kalo bagus posting twitter, kalo gak diposting berarti hape gak ada kuota internet..hehe.

      Dan masuklah seseorang di KDSS, mengganggu kenyamanan saya. Emang, KDSS sudah tidak nyaman lagi kalau penuh. KDSS maksimal kan 2 orang. Jadi kalo udah ada yang masuk seorang, penuh deh. Sesak.
“Waduh!!!!” saya terkaget dalam hati. Yang masuk itu cowok cucok deh boo, alias banci. Shit!

      Namun bancinya gak lagi dandan banci, alias lagi pake pakaian pria biasa. Entah masih siang atau apa. Si Bencong Berpakaian Macho ini rambutnya kriting panjang dikucir. Dari spion saya lihat, di mulutnya ada tahi kudanya, eh bukan, tahi lalat maksudnya. Pake levis namun asem, bau keringet kuli panggul Pasar Baru. Macho juga nih baunya. Tapi ilfeel tetaplah ilfeel, ngomongnya masih tetap saja cucoookk, pakai bahasa Indonesia yang terkesan diimutkan.

      “Heiiii Wahyudiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhh……” pas masuk di KDSS. Si Bencong Berpakaian Macho ini menyapa supirnya. Nampaknya mereka sudah akrab satu sama lain.

     Bisa ditebak, saya tegang. Bukan tegang itunya, saya deg-deg-an setengah mati.

Takut banci= Takut Di Grepe Grepe + Takut Digodain.

     “Maju dong Wahyudiiiiiiiiiiiiii, itu ada si Karduuunnnnnnn……” dia nyuruh Wahyudi buat memajukan angkotnya.

     Si bencong berpakaian macho turun, lalu nyamperin si Kardun, supir angkot yang ada di depan. Saya kira dia mau pindah dari angkot ini. Ternyata cuma mau ngambil kupluk dia yang ketinggalan di angkot si Kardun.

     “Makasiiiihhhhhhhh bangettttt nih dun……… kupluk saya sudahhh dijhhhagain…” desahannya makin kerasa.

     Dia masuk lagi ke angkot si Wahyudi dan duduk lagi di KDSS. Sudah anda tahu disitu ada saya.
Bencong Berpakaian Macho mengeluarkan sebungkus rokok Djarum Super dari celana levisnya. Lalu menawarkannya pada Wahyudi. Wahyudi menolak karena dia punya. Dan dia pun menawarkan pada saya, “Rhhhokoooookkkk mauhh???”

     Saya mencoba menjawab, “Enggak.” Tapi suara saya kecil banget.

     “Apaaaaaaaahhhh????” sambil mendesah.

Saya gelengin aja kepala saya. “Oooohhh gituuuuhhh.” Dianya ngerti. Saya merasa bukan pria sejati. Ditawarin rokok sama banci dan saya menjawab dengan sangat feminim.

     Angkot terisi penuh penumpang dan akhirnya berangkat.

     Sungguh perjalanannya sangat lama sekali. Seluruh anggota badan saya bersentuhan dengan dia. Apalagi ketika dia mulai gerak-gerak tak menentu. Goyang pinggul bagai ular sawah pengen kencing. “Ih apa sih!! Gaje..” Saya terus memaki diri saya, kenapa sih kamu tadi duduk di KDSS?? Hah!! Jawab! Badan kamu sudah ternodai Fauzy!! Ternodai!!!

     Si Wahyudi juga bukannya ngebut malah angkotnya kerasa pelan banget. Waktu terasa slow-motion. Suasana KDSS sangat awkward sekali. Saya gak berani liat muka si bencong ini, takut geer. Liat kaca spion aja gak berani, takut dianya lagi ngaca terus keliatan saya lagi ngeliatin dia. Ih serem deh ngebayanginnya. Sesekali, saya larak-lirik ke belakang. Nunjukkin kode kalo saya ini pria normal dan gak mungkin jatuh cinta sama dia.

     Tak lama kemudian dia melancarkan usahanya, dia menyenderkan pundaknya dengan anggun ke badan saya. “Apa-apaan ini?!!! Berat, cong!!!”

     Aduh saya makin gak tahan, pengen cepet-cepet nyampe rumah!!!!!!!! “TOLONG!! TOLONG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” dalam hati saya terus saja berteriak. Dan berdo’a kepada Tuhan tentunya.

Ilustrasi Banci Ngegodain Orang. Sumber Gambar


***

     Sampai rumah saya langsung menemui kamar mandi. Lalu bersih-bersih diri dengan bermandi wajib ria. Buang sial.

     Pas keluar dari kamar mandi saya masih setengah telanjang dengan badan cuma ditutupi oleh handuk.
“Halah!!! Copotin handuknya!!!!!!!” ternyata ada sepupu saya Dipa.. asdfghjkl banget. Saya panik dan refleks ngibrit ke kamar sambil teriak, “Ampun, cong! Ampun cong!!”

     Takut Sepupu = Takut Diperosotin Handuknya

Follow by Email