pauji's blog

menuju kekerenan yang haqiqi

Tuesday, May 27, 2014

Tawa dalam Perpisahan

Untuk blog.

    Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat tinggal kepada Kakak-kakak kelas 12 tahun ajaran 2013-2014 yang pada hari Sabtu tanggal 17 Mei lalu melaksanakan perpisahan. Terima kasih sudah mengajari kami cara bergaul dan bertingkah laku di sekolah dengan baik dan benar. Semoga sukses di luar sana, kehidupan sesungguhnya benar-benar ganas, Kak. Good luck and Congratulations. Semoga berhasil diterima di Perguruan Tinggi yang diinginkan, amin. Saya hanya bisa bantu do’a, karena kalau ngebantuin Kakak-kakak untuk nyari bocoran jawaban SNMPTN saya tidak menyanggupinya. The last word for Kakak-kakak kelas 12 is, “Cieee calon mahasiswa ciee..”


    Tadinya, saya tidak akan pergi ke sekolah di hari Perpisahan tersebut. Para setan-setan sudah menggerayangi sejak malem. Saya dibuat tidur malam oleh mereka. Gara-gara keasyikan main PES bangun jadi kurang seger. Jadinya saya pun kerasukan jin, yang sering saya sebut malas mandi. Saya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan jin itu dari tubuh kerempeng saya ini. Kasihan saya. Sudah kerempeng, males mandi pula. Kasihan banget. Saya teringat kepada teman-teman saya yang menunggu di sekolah sana. Wajah-wajah mereka yang konyol, membuat saya semangat dan jin males mandi pun terusir dengan sendirinya.

    Langkah kaki santai membawa saya ke ruang kelas X IPA 2. Kabut segar menyelimuti wajah lingkungan sekolah. Harum khas dari sebuah perpisahan mulai tercium. OSIS yang emang sangat rajin sudah stand-by menyiapkan acara, mereka gagah sekali, memakai batik trusmi, celana hitam, dan sepatu pantopel. Cocok untuk menjadi karyawan pabrik mobil. Di kelas pun masih sepi, hanya ada 3 orang cewek dan satu cowok, dia adalah Lukman, jendral datang pagi. Saya heran. Padahal, saya datang ke sekolah hari ini ditelat-telatin, tapi masih saja datang paling pagi.

    Tak lama Ijun datang, ramai mulai terdengar. Salah satu siswa yang paling saya pengen jitak di kelas karena tiap pagi pasti selalu menanyakan, “De, bawa laptop gak?” ini adalah sebuah kode untuk bermain game NBA2K di Leptop Kepo milik saya. Saya mengelak dengan halus, “Masih pagi mas, toko roti aja belum buka.” Dia ngerayu sambil maksa, saya sih mengalah aja karena seru juga main NBA2K itu.

    “Kalau kamu gak sekolah, hidup ini garing mungkin!” kata dia sambil bermain NBA2K dengan saya di bangku paling belakang di kelas. Dasar, saya menyadari, ini juga sebuah kode agar saya terus membawa laptop ke sekolah tiap hari, biar nanti anak-anak bisa main NBA2K sampai jari-jarinya keriting.

    Hidup ini penuh dengan kode dan juga konspirasi.

    Dengan saya membawa laptop setiap hari, anak-anak kelas akan malas untuk belajar dan malah bermain NBA2K di laptop saya. Nilai mereka akan anjlok dan saya akan naik menjadi juara kelas. Hahahahahaha. Enggak mungkin juga sih, sayanya juga jarang belajar. -_-

    Kelas mau dipakai, terpaksa saya yang sedang asyik bermain game dengan Ijun harus menunda dulu pertandingan. Kita pindah ke kelas 12 IPA 1, kelasnya kosong lumayan buat main game sepuasnya. Tak lama kemudian, terdengar suara kaki yang berlari. “Huahaahahahaha.” Teman-teman saya yang lain pada datang, Ozan, Fahrul dan Fildzah sambil tertawa kegirangan kayak orang gila.

    Mereka mangap-mangap cari oksigen, ngos-ngosan kayak babi berhidung mampet.
    “Eh brow!! Gue habis liat cewek ganti baju!! HUAHAHAHA!!” teriak Ozan dengan sangat bangga. Sial, beruntung banget ini anak. Pagi-pagi gini udah liat yang kinclong-kinclong gitu.
    “Serius kamu?? Dimana???” saya menyahut penasaran.
    “Iya bener, di IPA 8. Mereka sampai teriak-teriak gitu?” Kata Ozan lagi sambil mengelus-elus dada, tanda dia bertaubat kepada Allah swt. atas dosa yang telah dilakukannya.
    “Terus kelihatan itunya dong?? Gimana bentuknya??” saya makin kepo.
    “Gak jelas, gue gak make kacamata tadi.” Jawab Ozan lagi.
    “Kalo kalian berdua lihat?” tanya Ijun kepada Fachrul dan Fildzah.
    “Enggak.” Sial sia-sia mereka ketahuan mengintip namun mereka tidak melihat secuilpun keindahan yang diciptakan Tuhan untuk kita. Kasihan sekali mereka, kasihan.

    Setelah itu kami pun memutuskan bermain PES. Namun ketika Fathin datang dan ingin menonton Upacara Adat, yang lain pada mengikuti, yang bertahan di kelas ini hanya saya dan Ijun. Dan kami berdua pun bermain NBA2K lagi. Setelah kalah dua pertandingan, Ijun mengajak ke lapangan tempat acara perpisahan berlangsung. Eh, pas ketemu sama anak-anak, Fathin mengejek saya dengan berkata, “Awas ada Maho!!” kampret kamu Fathin, kamu kira tadi saya dengan Ijun habis ngapain, main pedang-pedangan? Saya masih normal kali gini-gini juga. Dasar!

    Acara berlangsung dengan sangat lancar, walaupun saya enggak sempat nonton acara intinya yaitu Upacara Adat. Puisi-puisi perpisahan membuat acara semakin melankolis. Saya juga merasakan atmosfir kesedihan dan kebahagiaan dalam acara tersebut. Saya ingin sekali menitikkan air mata, namun apa daya air matanya sedang habis. Harus diisi ulang ke rental Play Station.

Galauu,,,


    Terasa banget (karena tak terasa sudah sangat mainstream) sudah siang hari. Jatah makanan ringan akhirnya dibagikan. Saya langsung menghabiskannya dengan sangat ganas. Maklum, perut udah keroncongan, sampai mengeluarkan bunyi, “towewewewew.. towewewewew..” Makanan habis, senyum pun menjadi lebar karena sudah kenyang.

    Saya, Ijun, Fachrul, Ozan, Luqman, dan Fathin sedang duduk sembari melepaskan sepatu dan mengobrol di serambi Masjid sekolah. Kami akan melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah kenyang diberi makanan oleh Tuhan, kami sadar, kami harus segera bersyukur ataupun meminta makanan kembali. Hehe. Wajah teman-teman terlihat sangat lesu, lemah, lunglai, pokoknya 5L. Seperti kurang darah. Mungkin mereka mengantuk, atau memikirkan status jomblo mereka yang tak kunjung berubah menjadi berpacaran. Daripada suntuk ngelihat mereka saya memperhatikan game yang dimainkan Ozan di handphone-nya Luqman, 2048. Saya ngerti sedikit jadi saya sok-sokan ngasih intruksi, “Kanan.. kiri.... kanan... atas... kiri... kanan!!!”

    Mendengar saya yang ngasih intruksi Dia juga ikut-ikutan teriak sambil menirukan gaya orang mau memberhentikan angkot. “Kanan, Mang!!”
    “Itu sih nyetop angkot!!” saya menimpali.
    “Kalo gue nyetop angkot kayak gitu.. Mungkin, supirnya nurunin gua di tengah jalan..”
    “Iya, kamu langsung mati ditabrak delman.”
    “HAHAHAHAHA!!” semua terbahak.
    “Kampret kamu!” Fathin menggerutu.



    Setelah shalat Dzuhur, ada yang pulang dan ada yang mengikuti acara perpisahan sampai selesai. Saya memilih untuk pulang. Saya masih aja senyum-senyum memikirkan kejadian tadi. Si Fathin emang jago ngocol. Tertawa bareng teman-teman itu memang bisa membuat beban hidup sedikit tersisihkan. Ah, Canda tawa seperti inilah yang terkadang membuat saya tidak menginginkan adanya perpisahan.
   

2 comments:

  1. Mencoba tertawa di dalam perpisahan itu sulit, ya walau harus dilakukan. Perpisahan sekolah, pisah sm tmn2, guru2, yailah, gaenak gitu.. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidup ada kalanya bertemu dan ada kalanya berpisah, perpisahan itu satu hal yang tidak mengenakan. Sebentar lagi saya berpisah sama X IPA 2 aaaaaaaaaaaaa!!!!!!!! Enak sih kalo makan mie ayam .. #Apasih

      Delete

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.

Follow by Email