Thursday, May 8, 2014

Facewash Belanda

Untuk blog.

Ditulis di Minggu malam yang sejuk, ditemani krik-krik jangkrik, dekat pintu depan rumah yang dibiarkan terbuka agar angin masuk mengusir kegerahan, dan sembari mendengarkan lagu-lagu versi akustik-nya Imagine Dragons dari album Night Vision.
Minggu,  4 Mei 2014.

Kinderdijk, Belanda, Eropa, Bumi, , Tata Surya, Bimasakti

    Ah, bahasa saya sudah seperti novelis romance ya? Maklum, sedikit terpengaruh juga karena sebelum nulis ini saya membaca dulu novel “Holland-One Fine Day in Leiden” karya Feba Sukmana. Walaupun belum terselesaikan semuanya, baru setengahnya saya baca. Tetapi saya ingin berbagi, sedikit. Hehe. Novel ini mengajak kita untuk berimajinasi, seolah-olah saya berada di Belanda. Namun dengan cara yang santai, mengajak pembaca menjelajahi tempat-tempat di Belanda. Seperti Universitas Leiden, Bagel & Beins kafe di kota Leiden, Rumah Kubus, desa Kinderdijk yang banyak kincir anginnya, dan juga Rotterdam. Mungkin masih banyak tempat-tempat lain di Belanda yang akan diceritakan di halaman-halaman berikutnya di novel ini. Perjalanan dan keadaan tempat-tempat itu pun disajikan oleh Feba Sukmana secara sejuk dan fresh. Tidak seperti novel “Da Vinci Code” yang mengangkat konsep traveling juga ke tempat-tempat di France dan Inggris, namun dengan cara thriller dan menegangkan. Pokoknya coba baca. Malah jadi promo. Oh yeah, big thanks buat Adam, ketua kelas di X IPA 2, yang meminjamkan novel ini kepada saya yang teraniaya ini. Dia juga hobi menulis, dan semoga kamu kelak menjadi pengusaha rental buku paling besar di Indonesia penulis best-seller mengikuti jejak saya, amin. Woalah. Kalian pengen juga minjem ke dia? Kunjungi nih blognya Adam, http://adamadis20.blogspot.com/ . Tapi siapin sapu tangan buat baca-baca postingannya. Dijamin galau abis. Saya enggak mau promoin twitter dia, soalnya followersnya lebih banyak dari saya.
One Fine Day in Leiden - Feba Sukmana

    Saya juga masih bingung, gimana caranya ganti header buat blog ini. Pengen banget pasang header yang ngeklop banget. Saya udah pake cara yang otomatis dari tata letak di dasbor blogger-nya itu malah jadi kelihatan jelek. Nanya jamban (jamban blogger maksudnya) dan searching, jawaban dari blog-blog lain kebanyakan dari tata letak. Edit aja HTML-nya. Tadi siang, Satu jam setengah saya di warnet cuma ngotak-ngatik HTML tapi enggak berhasil-berhasil. Lama-lama bingung sendiri. Terus galau liatin monitor isinya kode-kode gak jelas. Bola mata perlahan-lahan keluar disertai cairan ingus dari hidung yang ikut-ikutan minggat dari hidung. Bulu-bulu mulai berdiri dan terbang jauh ke bulan. Jadinya malah bikin laman buat Social Media. Itu pun masih dalam tahap rancangan. Tunggu ya, nanti hasilnya publish dalam waktu dekat. Kamu bisa ngemodusin aku deh lewat SocMed. Iya kamu! I Love You! #terpengaruhDodit

    Di parkiran warnet, saya menunggangi motor saya yang kepanasan karena mantannya matahari berdiri tegas di atas dia. Pandangan saya tertuju kepada kaca sepion motor. Memberikan penampakan wajah imut nan ganteng, dibalut kulit yang blaster berminyak, namun berjerawat. “Berilah aku facewash! Berilah aku facewash!” seolah-olah wajah berteriak meminta haknya yang belum dipenuhi. Saya pun langsung bergegas menuju swalayan untuk membeli Tango si Wafer renyah. (Loh kok gak nyambung?)

    Swalayan Aneka Sandang menjadi tempat saya berburu facewash untuk wajah yang kesusahan milik saya ini. Hhhm, tas mau dikemanain yah? Masa mau dipake? Penitipan barang mana? Kayaknya enggak ada. “Pake aja deh,” saya bergumam dalem hati, memutuskan untuk memakai saja tas saya ke dalam yang dari rumah telah bergelantung di punggung saya. Cuma sebentar ini. Enggak akan menimbulkan kecurigaan sepertinya.

    Di bagian Alat tulis, saya tidak menemukan facewash. Di bagian elektronik, apalagi. Adanya cuma setrikaan, mau ngebersihin muka pake ini emang muka saya kebaya antik milik Ibu, tiap mau kondangan disetrika dulu. Sampai pada akhirnya saya melihat banyak sekali tumpukan kolor. Saya teringat satu hal di buku Raditya Dika yang mengatakan satu fakta terbesar yang berhasil ditemukan di dunia, bahwa ‘Kolor dapat menyembuhkan wajah dari jerawat.’ Hampir tergoda, saya pun beranjak meninggalkan kolor-kolor itu. Saya menoleh lagi, namun kolor-kolor itu tetap diam. Menunjukkan bahwa kolor-kolor disana berperilaku tidak baik. Mereka jutek. Kolor tidak berhasil mengalihkan dunia saya.


    Tak lama kemudian, padahal udah lama banget. Akhirnya, saya menemukan tempat facewash berada. Namun, ketika saya sedang memilih-milih facewash yang ada. Terlihat seorang petugas swalayan berpakaian kemeja batik, parfumnya juga menyengat, berambut keriting berjalan ke arah saya dan sok akrab menegur saya. “De, tasnya mau di titipin sendiri atau saya yang titipin?” dengan wajah polos, unyu, campur curiga, digaremin dan enggak pake daun bawang.

    Jerawat di hidungnya seolah memberitahukan bahwa dia curiga saya mau nyolong barang-barang yang ada di swalayan itu. Ya, saya sih terima aja. Salah saya pake tas. Dan hidup saya memang selalu dicurigai. Tiap pagi-pagi, saya naik angkot, supir-supir angkot nakal selalu mencurigai saya. Mereka suka kepo, dan bertanya dengan wajah anggota FBI pengen pipis. Interogasinya selalu sama, supir-supir angkot yang ada selalu menanyakan, “Sekolah di mana?”

    Ketika petugas tadi menanyakan hal itu, saya hanya langsung mengambil facewash dan Tango si Wafer renyah yang sudah diidam-idamkan dan bergegas menuju kasir. Jangan tanya saya ngutang atau bayar pakai apa, karena yang terpenting adalah saya bisa kabur dari petugas swalayan tadi yang berhasil membuat saya tengsin.

    Pas di rumah, ada saudara dari Cirebon datang bertamu. Abah Ucup dengan istri, dan juga anaknya yang masih berumur 4 tahun. Saya masuk ke rumah, lalu menyapa mereka dengan berjabat tangan, kasihan mereka tangan saya habis megang kolor di swalayan tadi. Bakteri tertular semua ke mereka, yeah! Karena mereka orang Cirebon, pasti bahasa mereka juga sering memakai bahasa Jawa. Dan saya mendengar bahasa Jawa keluar dari mulut istri Abah Ucup yang diberikan spesial untuk saya, “Fauzy, kok ireng sih?” Mendengar itu, saya buru-buru ke kamar mandi, terus ngaca dan cuci muka pakai facewash yang sudah dibeli.  


Seger-seger!!

No comments:

Post a Comment

Pembaca setia yang sudah membaca, silahkan berkomentar sebebas mungkin dan seobjektif mungkin. Namun, jangan kasar-kasar soalnya penulis di sini lembut sekali hatinya. Sangat direkomendasikan untuk memberi saran dan kritik, bila mau pujian juga gak apa-apa. Love. You.